Denpasar, 14 Oktober 2026 – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di Bali dalam beberapa hari terakhir memaksa warga menempuh berbagai cara untuk sekadar mengisi tangki kendaraan. Mulai dari mengantre berjam-jam hingga membeli bensin eceran dengan harga berlipat ganda. Cerita-cerita ini menjadi gambaran betapa sulitnya akses BBM di Pulau Dewata sejak akhir pekan lalu.
Antre 2,5 Jam Demi Pertamax
Gede Gandi (35), warga Ubung Kaja, Denpasar, mengalami langsung betapa melelahkannya berburu BBM. Senin (12/10/2026) malam, ia nekat keluar dari Denpasar menuju Lukluk, Badung, berharap antrean di luar kota lebih pendek.
Harapannya meleset. Setibanya di Lukluk, bensin di kendaraannya tersisa satu bar. Ia pun terpaksa ikut antre. “Saya salah memperkirakan. Sampai di Lukluk bensin tinggal satu bar. Terpaksa di sana antre. Padahal sudah malam saya keluar,” ujarnya, Selasa (13/10/2026).
Ia mulai mengantre Pertamax sekitar pukul 21.00 Wita. Antrean panjang tak terhindarkan. Setelah menunggu sekitar 2,5 jam, barulah ia berhasil mendapatkan BBM. “Antrean Turbo 2 jam,” keluhnya.
Beli Bensin Eceran Rp25 Ribu per Botol
Di Klungkung dan Karangasem, situasi lebih parah. Sejumlah SPBU kehabisan stok Pertalite maupun Pertamax sejak Senin (12/10/2026) siang. Warga yang hendak mengisi BBM terpaksa putar balik.
Wayan Adi, seorang pengendara asal Klungkung, mengaku mendatangi beberapa SPBU dari Gunaksa hingga Subagan, tetapi semuanya kosong. “Semua kosong, Pertalite sampai Pertamax,” ujarnya.
Karena tak ada pilihan, ia pun membeli bensin eceran di pinggir jalan. Harganya jauh di atas ketentuan. “Saya beli 2 botol (1,5 liter). Saya bayar Rp25 ribu per botol. Agar dapat saja bensin, takutnya besok stoknya masih langka,” ungkapnya seusai berebut membeli bensin eceran di ruas jalan raya Desa Bugbug, Karangasem.
Pertashop dan Pertamini Tutup
Kekosongan tidak hanya terjadi di SPBU. Sejumlah penjual BBM eceran seperti Pertashop dan Pertamini juga tutup karena kehabisan stok. Ahmad, penjaga Pertamini di kawasan Sanur, mengaku sudah tidak berjualan sejak dua hari terakhir.
“Di SPBU saja kosong. Meskipun ada antreannya panjang. Ini sudah dua hari saya tutup,” katanya.
Ia menyaksikan langsung dampaknya. “Sejak pagi sudah ada beberapa warga yang dorong motor,” ujarnya.
Kepanikan dan Lonjakan Permintaan
Gubernur Bali Wayan Koster menilai fenomena antrean panjang ini dipicu oleh keterlambatan distribusi yang berbenturan dengan lonjakan permintaan. Menurutnya, volume warga yang mendatangi SPBU secara bersamaan telah melampaui kapasitas normal hingga dua sampai tiga kali lipat.
“Yang sudah pasti adalah stok BBM ada, tersedia cukup. Cuma membawanya dari depo ke SPBU tidak secepat banyaknya warga yang datang. Dari situasi normal melampaui dua, tiga kalinya lebih, kan otomatis ada gap,” jelas Koster.
Koster juga menyoroti adanya kepanikan masyarakat atau panic buying. Warga yang khawatir stok kosong berbondong-bondong mengisi BBM, sehingga kendaraan yang belum sempat terisi akhirnya datang bersamaan.
Pertamina Minta Maaf dan Percepat Distribusi
Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh warga Bali. Ia mengakui kendala teknis pada kapal pengangkut BBM membuat jadwal bongkar muat mundur dari Senin (12/10) pukul 06.30 menjadi sekitar pukul 22.00.
Sebagai langkah penanganan, Pertamina mempercepat distribusi dari depo ke SPBU, mengoperasikan sejumlah SPBU strategis selama 24 jam, dan menambah pasokan melalui kapal tanker. Sebanyak 26.200 kiloliter Pertalite dan Pertamax dijadwalkan tiba secara bertahap pada 12, 14, dan 16 Oktober 2026.
“Kami akan terus berusaha untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat,” ujar Simon.
Pertamina juga mengimbau masyarakat untuk membeli BBM sesuai kebutuhan dan tidak terpengaruh informasi yang belum terverifikasi. Masyarakat yang mengalami kendala dapat menghubungi Pertamina Call Center 135.





















