Indonesia Visioner
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • POLHUM
  • EKONOMI
  • VIDEO
  • ENTERTAINMENT
  • LUAR NEGERI
  • LIPUTAN DISKUSI
  • LIFESTYLE
  • RESENSI
  • SPORT
  • OPINI
  • INDEKS
No Result
View All Result
Indonesia Visioner
No Result
View All Result

Gerakan kembali menyalakan tradisi menulis

by Aulia Rachman Siregar
Mei 11, 2016
in Opini
Reading Time: 2min read
Gerakan kembali menyalakan tradisi menulis
0
SHARES
27
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh : Rahmat HP Wibowo, A.md

Kita tidak akan pernah tahu apa yang terjadi di masa lalu jika tidak ada pena yang digerakkan untuk menulis apa yang telah terjadi. Dengan menulis orang sekaligus berekspresi, berkomunikasi dan -yang paling penting- meninggalkan jejak pikiran untuk masa yang tak terhingga.  Tulisan juga memberikan fakta masa silam dan tanpa adanya pena yang digerakkan, sungguh umat manusia akan sulit berkembang, mencapai kemajuan sains dan teknologi seperti saat ini. Namun, menulis bukan semata untuk sains dan teknologi, tetapi juga untuk membangun peradaban. Peradaban, metodologi dan cara pandang tak bisa lepas dari gagasan dan pemikiran. Pemikiran yang lahir perlu dituangkan dalam tulisan. “Kendati bukan satu-satunya jalan, menulis dapat mengejawantahkan eksistensi pelakunya”.

Dalam kontek ilmiah dan peradaban, gagasan seorang Muhammad Quthb dalam bukunya “Kaifa Naktubu Attarikhul Islam?”  yang diterjemahkan dalam edisi Indonesia dengan judul “Perlukah Menulis Ulang Sejarah Islam?” menjadi satu kesadaran yang wajar. Mengingat dunia di abad modern ini telah terhegemoni sedemikian rupa oleh peradaban materialistik Barat. Senafas dengan apa yang digagas Muhammad Quthb, Ahmad Mansur Suryanegara termasuk sosok yang memiliki kesadaran tinggi terhadap pentingnya menghadirkan literasi sejarah yang mengangkat kontribusi, kiprah dan perjuangan umat Islam sebagaimana benar-benar pernah terjadi dalam sejarah panjang bumi Nusantara hingga terbentuk Indonesia merdeka yang belum ditulis secara komprehensif oleh pemerintah.

Dan, dengan hadirnya buku “Api Sejarah”, bangsa Indonesia pun semakin paham bahwa umat Islam tidak bisa dipisahkan dari sejarah berdirinya bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mesti disadari secara ilmiah bahwa dalam setiap masa kehidupan umat manusia, interaksi peradaban baik yang bersifat saling serang dalam kontek senjata maupun pikiran tidak bisa ditanggalkan. Termasuk seperti yang sekarang massif terjadi, yakni perang informasi. Oleh karena itu, seorang Muslim tidak boleh tinggal diam, berpangku tangan dengan apa yang menggelegar di setiap momentum yang mengitari kehidupan bangsa dan negara di mana kita hidup dan eksis. Gerakan kembali menyalakan tradisi menulis sangat penting untuk menyadari bahwa selama ini bangsa ini telah terseret jauh dengan cara pandang peradaban Barat.

Sebagai Muslim yang mesti juga ber-Indonesia dengan baik, nasehat K.H Agus Salim untuk bangsa ini yang tertuang dalam artikelnya “Cinta Bangsa dan Tanah Air” yang diterbitkan pada Harian Fajar Asia di tanggal 28 Juli 1928 “…demikian juga dalam cinta tanah air, kita mesti menunjukkan cita-cita kepada yang lebih tinggi daripada segala benda dan rupa dunia, yaitu kepada hak, keadilan, dan keutamaan yang batasnya dan ukurannya telah ditentukan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala”. Jika dalam Al-Qur’an ada perintah “fastabiqul khairat”, berlomba-lomba dalam kebaikan, maka sudah saatnya kini generasi muda Muslim bangkit dan menulis, sebab bagaimanapun Barat juga memiliki berbagai keunggulan; bisa kita lihat dari etos keilmuannya selama berabad-abad, melalui pena yang terus mereka gerakkan dan sebarkan.

Tags: gerakanmenyalakantradisi menulis
Previous Post

Banyak pengurus DPD II yang dipecat jelang Munaslub Golkar

Next Post

REPOSISI GERAKAN MAHASISWA PASCA 1998

Related Posts

Mengapa Polri Butuh Lebih dari Sekadar Seremoni Hoegeng Awards?
Artikel

Mengapa Polri Butuh Lebih dari Sekadar Seremoni Hoegeng Awards?

April 6, 2026
Default

Menjaga Marwah Bhayangkara: Mengapa Independensi Polri Adalah Harga Mati

Januari 30, 2026
Opini

Menagih Janji di Balik Sepatu Bot Pramono: Mengapa Jakarta 2026 Masih Menjadi Kolam Raksasa?

Januari 24, 2026
Opini

Lumbung Pangan di Balik Jeruji: Saat Penjara Menyuplai Piring Rakyat

Januari 19, 2026
Opini

Mengakhiri Demokrasi Biaya Tinggi:
Pilkada Langsung Itu Gagal: Kenapa Kita Masih Takut Balik ke DPRD?

Januari 5, 2026
Opini

The Enforcer: Mengapa Publik Semakin Menaruh Kepercayaan pada Langkah Taktis Dasco?

Januari 1, 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERKINI

Eks PB HMI Silaturahmi ke Dandim, Apresiasi Peran Kodim Kawal Koperasi Desa Merah Putih

Menjaga Marwah Ibadah: Pemuda Muslimin Jakarta Utara mendukung usulan Kemenimipas Percepatan Satgas Haji Non-Prosedural

Antusiasme Publik Tinggi, Satgas Haji Polri Diminta Tanpa Ampun Sikat Travel Nakal dan Visa Palsu

Optimisme Pengelolaan Sampah: JAMMA Dukung Transformasi Hilirisasi Gubernur Pramono

Merajut Kembali Persaudaraan Bangsa: Mengapa Dialog Lebih Utama dalam Kasus Jusuf Kalla?

Musyawarah Pimpinan Kecamatan Golkar Purwoharjo Perkuat Konsolidasi dan Arah Strategi Pemenangan

TERPOPULER

Eks PB HMI Silaturahmi ke Dandim, Apresiasi Peran Kodim Kawal Koperasi Desa Merah Putih

Menjaga Marwah Ibadah: Pemuda Muslimin Jakarta Utara mendukung usulan Kemenimipas Percepatan Satgas Haji Non-Prosedural

Antusiasme Publik Tinggi, Satgas Haji Polri Diminta Tanpa Ampun Sikat Travel Nakal dan Visa Palsu

Optimisme Pengelolaan Sampah: JAMMA Dukung Transformasi Hilirisasi Gubernur Pramono

Merajut Kembali Persaudaraan Bangsa: Mengapa Dialog Lebih Utama dalam Kasus Jusuf Kalla?

Musyawarah Pimpinan Kecamatan Golkar Purwoharjo Perkuat Konsolidasi dan Arah Strategi Pemenangan

  • About
  • Redaksi
  • Marketing & Advertising
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Email
  • Login
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • POLHUM
  • EKONOMI
  • VIDEO
  • ENTERTAINMENT
  • LUAR NEGERI
  • LIPUTAN DISKUSI
  • LIFESTYLE
  • RESENSI
  • SPORT
  • OPINI
  • INDEKS

Indonesia Visioner - All Rights Reserved