Indonesia Visioner
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • POLHUM
  • EKONOMI
  • VIDEO
  • ENTERTAINMENT
  • LUAR NEGERI
  • LIPUTAN DISKUSI
  • LIFESTYLE
  • RESENSI
  • SPORT
  • OPINI
  • INDEKS
No Result
View All Result
Indonesia Visioner
No Result
View All Result

GURU, POTENSI BANGSA YANG HILANG

by Aulia Rachman Siregar
Maret 21, 2017
in Default, Opini
Reading Time: 4min read
GURU, POTENSI BANGSA YANG HILANG
0
SHARES
30
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh : MHR. Shikka Songge
(Ketua Bidang Pendidikan dan Kaderisasi Muballigh PP. BAKOMUBIN)
Tawuran siswa kembali terjadi di ibu kota negara dan beberapa kota lain di tanah air. Seakan perkelahian dan tawuran siswa sudah menjadi tabiat dan tradisi yang terpelihara di kalangan siswa atau sekolah dari masa ke masa.

Tawuran antar siswa di Jakarta, ibu kota negara, bila tidak dicegah dengan mencari solusi yang terbaik, maka sekolah bisa menjadi tempat berseminya embrio premanisme dan kriminalisme di masa depan. Tentu tidak bisa dibayangkan masa depan suatu bangsa bila premanisme tumbuh di sekolah.

Peristiwa tawuran antar siswa ini terjadi dalam situasi tertentu. Saat negara dalam kondisi gonjang ganjing, diterpa oleh berbagai persoalan. Maka sesungguhnya perkelahiran atau rawuran siswa ini memberikan sebuah pesan peringatan yang amat memalukan kepada Presiden Presiden Joko Widodo. Bahwa di kepemimpinan seorang Presiden sipil yang kalam dan lembut  terjadi perkelahian siswa. Ada apa itu ?

Selain itu fenomena tawuran ini peringatan bagi penyelenggara negara. Sekaligus sebagai tamparan berat bagi guru penyelenggara pendidikan, bahwa mereka gagal menjalankan misi sebagai guru dan pendidik.

Perlu ada kajian komperhensif tentang fenomena apa yang melatari peristiwa perkelahian yang mentradisi di negeri ini ? Apakah guru di sekolah tidak punya cukup moral dan wibawa lagi untuk mengedukasi sisiwa ? Atau guru telah kehilangan karakter dan tugas kesejatian pembentuk peradaban ?. Ataukah guru hanya mengajar seperti halnya guru privat yang sekedar mengisi jam ajar. Usai mengajar guru tinggalkan sekolah ?

Padahal sejarah mengisahkan narasi panjang tentang peran ideologis guru, bahwa sejatinya guru, pendidik adalah tonggak pejuang peradaban bangsa. Guru yang menentukan arash kiblat sebuah bangsa. Sekarang di mana guru mulia pemandu peradaban bangsa itu berada ? Apakah mereka hilang ditelan oleh kejahiliaan zaman ? Apakah mereka sudah menguburkan idealisme mereka sebagai pejuang ideologis ? Apakah jiwa dan fikiran mereka tergilas oleh faham kapitasme ?

Dalam perspektif idealistis pendidikan, fenomena tawuran siswa itu menunjukan rusaknya kongnisi, intelegensi, moral dan hancurnya integritas siswa Indonesia. Tentu masalah ini solusi pembenahannya terletak pada sistem pendidikan. Karena pendidikan merupakan instrumen transformasi bathin, fikiran, sikap dan keseluruhan pola prilaku siswa. Sedangkan faktor yang diperlukan dalam emplementasi tugas pendidikan adalah sekolah, guru dan kurikulum.

Sementara kurikulum keilmuan yang ada saat ini tidak sanggup menerangi dan memformulasi keutuhan pandangan siswa untuk menjadi sumber daya masa depan. Untuk itu mutlak diperkukan kurukulum keilmuan yang utuh (integralistis) bertujuan untuk membentuk integritas kepribadian dan cara pandang siswa memiliki visi orang orang terpelajar ?

Bahkan boleh jadi akibat rasionalitas kurikum yang bersifat imparsial itu, orang tuapun tidak lagi menjadi panutan yang dihormat. Apalagi para orang tua yang sering melalaikan tugas utamanya, tidak lagi sungguh sungguh menjalankan perannya sebagai orang tua yang dihormati dan dipatuhi oleh anaknya.

Tentu ada hal yang yang sangat prinsipil dan substansif hilang dalam diri setiap eksistensi pelajar. Pelajar, ialah sosok seorang berilmu, terdidik cara berfikir maupun tindak tanduknya. Setiap hal yang dilakukan seorang pelajar terlebih dahulu direnungkan difirkan manfaat serta dampak yang akan terjadi.

ISALAM DAN ILMU

Islam mengajarkan bahwa setiap siswa yang akan keluar dari rumah dengan tujuan mencari ilmu maka statusnya dijamin Allah sebagai syahid hingga ia pulang ke rumah lagi (HR Imam Tarmizi). Begitu tinggi islam menghargai status orang yang sedang belajar, karena belajar merupkan kewajiban induvidual bagi setiap muslim.

Bahkan islam mensyaratkan bahwa tujuan kehidupan dunia dan akhirat kelak hanya bisa diarahi dengan ilmu pengetahuan. Dan Allah pun tidak akan menerima amal perbuatan seseorang bila tanpa ilmu. Olehnya berilmu bagi seorang muslim menjadi wajib hukumnya.

Secara paradigmatic islam menjelaskan bahwa Tauhid merupakan asas fundamental ilmu pengetahuan. Pengembangan ilmu yang berparadigma tauhid ialah bersumber pada Al-Qur’an (sumber qouliah) dan alam semesta (sumber kauniah) persentuhan dealektis antara quran dan alam semesta melahirkan empat bidang ilmu pengetahuan yaitu ilmu pengetahuan humaniora, ilmu pengetahuan sosial dan ilmu pengetahuan eksakta dan ilmu pengtahuan agama. Melalui pendekatan di atas wawasan siswa menjadi integral tidak dikhotomis.

NEGARA DAN PENDIDIKAN

Di Indonesia sesuai dengan perintah UUD 1945 negara mengambil alih urusan pendidikan sebagai bentuk dari tanggung jawab untuk mencerdaskan dan meningkatan kualitas, karakter dan martabat anak- anak bangsa.

Pertanyaannya apakah negara serius mengolah pendidikan ? Artinya sarana pendidikan yang ada harus tersedia secara memadai. Kurukulum yang komperhensif, tidak parsial dan dikhotomistis, tidak memisahkan dimensi iman dalam ilmu,  dan tidak memisahkan ilmu dari iman.

Bila proses pendidikan yang memisahkan dimensi iman dari ilmu, atau memisahkan dimensi ilmu dari iman, maka dampaknya dipastikan akan melahirkan lulusan sekolah yang memiliki visi yang parsial, visi dikottomistik, pribadi yang terpecah tidak kaafah. Hal ini merupakan suatu problem yang sangat serius bagi sebuah negara yang dihuni oleh para ummat yang beragama.

Walhasil pendidikan hanya menghabiskan waktu dan ongkos yang besar tapi gagal melahirkan manusia besar. Dan yang lebih mengerihkan lagi negeri ini akan kesulitan mencari pemimpin yang berilmu, berperadaban dan bermartabat.

Saya mengamati perkelahian anak sekolah yang bersifat masif di berbagai kota dan nyaris tiap hari terjadi seperti di tahun 1996 -1998 menjelang jatuhnya Pak Harto pada bulan Mei 1998. Mereka berkelahi di jalan raya saling kejar-kejaran, lemparan batu, sambil membawa benda seperti kayu, bambu, ikat pinggang bahkan senjata tajam.

Tentu perkelahian ini tidak hanya merugikan  pada diri setiap siswa sendiri, tetapi juga sangat mengganggu kepentingan publik. Terutama bagi pengguna jalan raya dan transportasi umum dan transportasi pribadi menjadi  terganggu.

Bahkan image sekolah dan para gurupun menjadi tercemar. Sekolah dan guru mendapat stigmatisasi buruk, dianggap tidak sanggup mengelola proses pendidikan bagi anak-anak didik. Begitu pula pandangan yang sama akan dimerekkan kepada kedua orang tua, bahwa orang tua juga tidak maksimal memerankan peran sebagai orang tua yang total untuk mengedukasikan anak, sehingga sekolah menjadi tempat penitipan atau pelarian bagi anak karena kesibukan dan hal lain pada orang tua.

Perkelahian antar siswa itu menunjukan potret buruk wajah pendidikan Indonesia. Setiap kabinet ganti mentri ganti kurikulum tanpa tahu sesungguhnya masalah utama yang menimpa dunia pendidikan. Pendidikan di Indonesia hanya sekian jam dan hanya di sekolah tempatnya. Kurikulum hanya untuk mengasah ketajaman otak, ketangkasan otak, dan untuk kepentingan pragmatisme positivistis. Hal ini menunjukan bahwa kurikulum itu bersifat amat parsial tidak utuh dan tidak komperhensif.

Dalam konteks UUD bahwa pendidikan menjadi tanggung jawab negara. Kemajuan pendidikan menggambarkan kesanggupan sebuah negara bisa mengungguli kompetisi peradaban masa depan. Namun apabila negara gagal mengelola pendidikan berarti hal in mengindikasikan bahwa negara tidak siap bertarung di masa depan.

KEMBALIKAN MARTABAT ILMU DAN GURU

Kita ingat bahwa sebahagian besar tokoh kebangsaan yang menghantarkan Indonesia merdeka, dan menjadi pemimpin di awal Indonesia merdeka, adalah pendidik atau guru.

Saya kira rekonstruksi ketokohan dan kepemimpinan kebangsaan, apalagi dalam konteks Indonesia yang pluralis dan menghadapi fenomena globalisasi dewasa ini, adalah para guru, pendidik berintegritas dan berkarakter. Mengingat konten masyarakat pluralis globalisasi memerlukan kehadiran identitas suatu bangsa. Di mana globalisasi telah meruntukan batas batas antar negara dan bangsa, maka identitas bangsa menjadi penting.

Pada gurulah negara akan bernurani dan beridentitas dan bermartabat ke Indonesiaan. Kembalikanlah martabat guru sebagai pemandu peradaban bangsa.

Serta hadirkan konstruksi keilmuan yang utuh tanpa dikhotomi, antara ilmu umum dan agama dalam satu sistem kurikulum pendidikan ke Indonesiaan. Ilmu agama bukanlah program komplementer yang sifatnya hanya pendukung. Bila demikian persepsi tetang ilmu yang dimaksud, maka sudah barang tentu tidak akan ada perubahan sosial fundamental yang berkeadilan selain tambal sulam.

Previous Post

Aparat Hukum DimintaTangkap Aktor Intelektual Dibalik Kriminalisasi BUMN Geo Dipa

Next Post

Buwas disambut kesultanan Ternate dan kukuhkan masyarakat adat anti Narkoba

Related Posts

Default

Menjaga Marwah Ibadah: Pemuda Muslimin Jakarta Utara mendukung usulan Kemenimipas Percepatan Satgas Haji Non-Prosedural

April 16, 2026
Default

Musyawarah Pimpinan Kecamatan Golkar Purwoharjo Perkuat Konsolidasi dan Arah Strategi Pemenangan

April 12, 2026
Default

Musyawarah Pimpinan Kecamatan Golkar Singojuruh Perkuat Konsolidasi dan Semangat Kader Golkar

April 11, 2026
Default

Musyawarah Pimpinan Kecamatan Golkar Sempu Bangun Soliditas dan Akselerasi Kinerja Kader Golkar

April 11, 2026
Haji Her Akui Menginap di Grand Hyatt kepada Penyidik KPK
Default

Haji Her Akui Menginap di Grand Hyatt kepada Penyidik KPK

April 11, 2026
Default

Pemuda Muslimin Jakut Apresiasi Kinerja Kemenimipas: Langkah Nyata Atasi Overcapacity dan Berantas Narkoba di Lapas

April 10, 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERKINI

Menjaga Marwah Ibadah: Pemuda Muslimin Jakarta Utara mendukung usulan Kemenimipas Percepatan Satgas Haji Non-Prosedural

Antusiasme Publik Tinggi, Satgas Haji Polri Diminta Tanpa Ampun Sikat Travel Nakal dan Visa Palsu

Optimisme Pengelolaan Sampah: JAMMA Dukung Transformasi Hilirisasi Gubernur Pramono

Merajut Kembali Persaudaraan Bangsa: Mengapa Dialog Lebih Utama dalam Kasus Jusuf Kalla?

Musyawarah Pimpinan Kecamatan Golkar Purwoharjo Perkuat Konsolidasi dan Arah Strategi Pemenangan

Musyawarah Pimpinan Kecamatan Golkar Singojuruh Perkuat Konsolidasi dan Semangat Kader Golkar

TERPOPULER

Menjaga Marwah Ibadah: Pemuda Muslimin Jakarta Utara mendukung usulan Kemenimipas Percepatan Satgas Haji Non-Prosedural

Antusiasme Publik Tinggi, Satgas Haji Polri Diminta Tanpa Ampun Sikat Travel Nakal dan Visa Palsu

Optimisme Pengelolaan Sampah: JAMMA Dukung Transformasi Hilirisasi Gubernur Pramono

Merajut Kembali Persaudaraan Bangsa: Mengapa Dialog Lebih Utama dalam Kasus Jusuf Kalla?

Musyawarah Pimpinan Kecamatan Golkar Purwoharjo Perkuat Konsolidasi dan Arah Strategi Pemenangan

Musyawarah Pimpinan Kecamatan Golkar Singojuruh Perkuat Konsolidasi dan Semangat Kader Golkar

  • About
  • Redaksi
  • Marketing & Advertising
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Email
  • Login
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • POLHUM
  • EKONOMI
  • VIDEO
  • ENTERTAINMENT
  • LUAR NEGERI
  • LIPUTAN DISKUSI
  • LIFESTYLE
  • RESENSI
  • SPORT
  • OPINI
  • INDEKS

Indonesia Visioner - All Rights Reserved