Jakarta, – Matraman masih berasap. Bukan asap kebakaran, tapi asap ketegangan yang belum sepenuhnya hilang. Dua hari setelah bentrokan maut di Jalan Tambak, personel gabungan Polda Metro Jaya, TNI, dan Brimob masih berjaga di sudut-sudut jalan. Warga yang kemarin gempar kini mulai beraktivitas lagi, namun mata mereka masih waspada. Luka insiden itu masih segar: satu nyawa melayang, satu masih kritis di RSCM, empat motor hangus, dan satu bangunan ludes terbakar.
Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Reynold EP Hutagalung memastikan situasi kondusif. Namun, kata “kondusif” di Jakarta tidak pernah berarti lengah. Polisi masih berjaga, masih patroli, masih mengawasi setiap gerak-gerik yang bisa memicu gesekan baru. “Kami tidak mau ambil risiko. Satu insiden kecil bisa memicu hal lebih besar. Maka kami siaga,” tegasnya. Tiga pelaku telah diamankan dan 15 saksi diperiksa, dengan kasus dibagi menjadi tiga klaster: pemicu awal, perusakan, dan penganiayaan.
Di sinilah program unggulan Kapolda Metro Jaya Komjen Pol. Asep Edi Suheri, yakni Jaga Jakarta, benar-benar diuji. Bukan di ruang rapat atau sambutan seremonial, melainkan di jalanan yang masih menyimpan amarah. Empat pilar program ini—jaga warga, jaga lingkungan, jaga aturan, dan jaga amanah—kini dihadapkan pada realitas pasca-bentrokan yang menuntut respons cepat dan tepat.
Romadhon Jasn, Ketua JAN, mengingatkan bahwa Jakarta bukan milik satu kelompok tertentu. “Ini rumah kita bersama. Warga Matraman, warga Menteng, warga mana pun, jangan sampai bentrok kecil ini kita biarkan jadi perpecahan besar,” ujarnya, Senin (27/7/2026). Ia menilai kehadiran aparat di lokasi memberi rasa aman bagi masyarakat yang sempat cemas. “Polisi dan TNI hadir bukan untuk menakut-nakuti, tapi melindungi. Itu yang kami lihat hari ini.”
Romadhon juga menyoroti sinergi yang sudah terjalin antara Kapolda dan Pangdam Jaya. Pekan lalu, Kapolda bersama Pangdam Jaya Letjen TNI Deddy Suryadi memperkuat koordinasi dengan Panglima Kopassus Letjen TNI Djon Afriandi di Cijantung. Pertemuan itu menegaskan komitmen Jaga Jakarta, Jaga Jayakarta, Jaga Indonesia Tetap Utuh. “TNI dan Polri merupakan pilar dalam menjaga NKRI. Kita harus terus kompak, saling mendukung, dan bekerja bersama untuk menjaga keamanan masyarakat,” tegas Kapolda saat itu.
Sinergi itu kini diuji di Matraman. Kapolres menyatakan penegakan hukum akan dilakukan secara adil kepada kedua belah pihak yang terlibat. “Kami lakukan penegakan hukum agar kedua belah pihak dapat secara adil dalam proses hukum,” ujarnya. Keluarga korban yang mendatangi Polsek Menteng malam itu pun mendapat kepastian bahwa kasus ini akan diproses secara transparan dan profesional.
Namun, Romadhon menekankan bahwa keadilan hukum saja tidak cukup. Ada luka sosial yang butuh didamaikan. Warga setempat mulai membangun komunikasi untuk mencegah dendam berlarut-larut. “Kita semua punya tanggung jawab menjaga Jakarta tetap damai. Jangan biarkan insiden ini memecah belah warga. Mari kita jaga ketertiban bersama,” ajaknya.
Hingga hari ini, situasi di Matraman dan Menteng terpantau aman. Patroli rutin terus dilakukan untuk mencegah bentrok susulan. Warga pun mulai kembali menjalani aktivitas normal, meski dengan kewaspadaan yang masih tinggi. Program Jaga Jakarta yang digagas Kapolda kini diharapkan tak sekadar menjadi slogan, melainkan gerakan nyata yang melibatkan seluruh elemen masyarakat.
“Kami titip pesan kepada semua pihak: mari kita jaga Jakarta, rumah kita bersama. Sinergi warga, TNI, dan Polri adalah kunci utama. Masyarakat jangan terprovokasi isu-isu yang memecah belah. Kalau bukan kita, siapa lagi?” pungkas Romadhon.






