Jakarta, 1 Agustus 2026 – Presiden Prabowo Subianto menyoroti meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah yang berpotensi memicu perlombaan kepemilikan senjata nuklir. Hal ini disampaikannya dalam pertemuan dengan jajaran pengurus Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia di Istana Negara, Jakarta, Jumat (31/7/2026) .
“Tiap sore, tiap malam kita lihat dalam berita-berita eskalasi, eskalasi, eskalasi. Dikatakan bahwa Iran sudah punya senjata nuklir,” ujar Prabowo di hadapan para pengusaha .
Menurut Prabowo, kondisi ini dapat mendorong negara-negara lain di kawasan untuk mengikuti jejak Iran. Ia menyebut Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, hingga Mesir sebagai negara-negara yang kemungkinan akan turut mengembangkan persenjataan nuklir .
“Sekarang Saudi Arabia ingin juga punya senjata nuklir. Kalau Saudi Arabia ingin punya senjata nuklir, tidak menutup kemungkinan Emirat juga mau punya senjata nuklir. Qatar juga mau punya senjata nuklir. Mesir juga mau punya senjata nuklir,” tegasnya .
Prabowo juga mengaitkan konflik berkepanjangan di Timur Tengah dengan melimpahnya sumber daya alam di kawasan tersebut, termasuk minyak, gas, dan mineral . Ia menekankan bahwa praktik politik adu domba atau divide et impera masih nyata terjadi dalam percaturan politik internasional .
“Kenapa ribut di Timur Tengah? Timur Tengah banyak gas, banyak minyak, dan banyak mineral-mineral lain. Berkecamuklah perang sudah ratusan tahun di situ,” ujarnya .
Dalam kesempatan yang sama, Presiden juga memperingatkan bahaya perang nuklir yang tidak bisa diremehkan, baik di Ukraina maupun di Timur Tengah . Ia mengingatkan konflik Ukraina-Rusia dapat berlangsung lebih lama dari Perang Dunia II .






