Jakarta, 20 Agustus 2026 – Kurang dari sepekan pascagempa magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka bertolak ke lokasi bencana pada Kamis (20/8). Ia tidak datang sendiri—Gibran menggandeng unsur mahasiswa untuk turut berperan dalam proses pemulihan dan pendampingan korban bencana.
Gempa dahsyat yang berpusat di sekitar 38 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, telah menimbulkan dampak besar. Data sementara mencatat puluhan korban jiwa, lebih dari 31.000 warga terpaksa mengungsi di 107 titik yang tersebar di tujuh kabupaten, serta ribuan rumah dan fasilitas publik—termasuk sekolah dan puskesmas—rusak parah.
Kehadiran Gibran di NTT menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah pusat merespons cepat bencana yang meluluhlantakkan wilayah timur Indonesia tersebut. Rombongan yang dipimpinnya juga membawa sejumlah bantuan logistik dan kebutuhan dasar untuk menambah pasokan yang telah dikirimkan sebelumnya.
Keterlibatan mahasiswa dalam kunjungan ini menjadi perhatian utama. Gibran menilai bahwa generasi muda memiliki peran strategis dalam proses pemulihan pascabencana, terutama dalam pendampingan psikososial bagi para pengungsi, termasuk anak-anak yang menjadi korban paling rentan.
“Kami ingin mahasiswa tidak hanya menjadi penonton. Mereka bisa terlibat dalam trauma healing, pendampingan anak-anak, dan membantu mendata kebutuhan warga yang masih berada di pengungsian,” ujar Gibran dalam keterangannya sebelum bertolak dari Jakarta.
Di lokasi, Gibran juga menyempatkan diri berdialog dengan para pengungsi dan memastikan distribusi bantuan berjalan lancar. Ia menekankan bahwa prioritas utama adalah memastikan seluruh warga yang mengungsi mendapatkan kebutuhan dasar dan perlindungan yang layak.
Dari RKIH Muda, Romadhon, mengapresiasi langkah Gibran yang melibatkan mahasiswa secara langsung dalam penanganan bencana. Menurutnya, ini adalah bentuk nyata kepemimpinan yang membuka ruang partisipasi generasi muda. “Mahasiswa bukan hanya objek kritik, tapi juga subjek solusi. Libatkan mereka di lapangan, dan mereka akan tumbuh sebagai pemimpin yang peka,” ujarnya.
Keterlibatan mahasiswa dalam proses pemulihan ini menjadi agenda yang didorong Gibran. Mereka akan diterjunkan dalam program trauma healing untuk anak-anak pengungsi, pendataan kebutuhan warga, serta asistensi distribusi logistik di titik-titik pengungsian yang sulit dijangkau.
Romadhon menambahkan bahwa kunjungan ini juga menjadi momentum untuk memperkuat solidaritas nasional. “Bencana tidak pandang bulu, dan penanganannya membutuhkan gotong royong semua pihak. Gibran memberi contoh bahwa pemimpin harus hadir di saat sulit,” pungkasnya.
Pemerintah pusat sebelumnya telah menyiapkan dana awal Rp5 triliun untuk mendukung penanganan bencana, sementara Wakil Ketua DPR Saan Mustopa mendorong percepatan relokasi bagi sekitar 4.000 pengungsi yang kehilangan rumah. Gibran dijadwalkan meninjau langsung sejumlah titik pengungsian dan memastikan koordinasi lintas kementerian berjalan efektif.
Kunjungan Gibran ke NTT bukan sekadar seremonial. Ini adalah pernyataan tegas bahwa pemerintah hadir, bergerak cepat, dan membuka ruang bagi generasi muda untuk turut serta dalam pemulihan bangsa. Di tengah duka, solidaritas dan kerja nyata adalah jawaban.






