Dalam pergelaran Kethoprak Mataram RRI Yogyakarta, tembang (kidung Jawa) bukan sekadar selingan, melainkan elemen penting yang menggerakkan cerita dan membangun suasana. Kehadirannya sangat dinantikan penonton, bahkan menjadi ciri khas yang membedakannya dari pertunjukan lain .
Secara umum, fungsi tembang dalam kethoprak RRI Yogyakarta dapat dibagi menjadi beberapa peran utama:
🎠Fungsi Dramatik: Membangun Suasana dan Menggantikan Dialog
Tembang berfungsi sebagai pengganti dialog dalam adegan tertentu untuk menciptakan dan membangun suasana yang diinginkan . Pemilihan jenis tembang disesuaikan dengan karakter adegan, misalnya:
· Tembang Tatabage: Digunakan saat adegan resmi atau pertemuan di kerajaan .
· Tembang Gandrung: Dilantunkan dalam adegan roman atau percintaan .
· Tembang Tantangan: Dinyanyikan saat adegan perang atau konflik .
· Tembang Macapat atau Sekar Tengahan: Sering dipakai untuk membangun suasana tegang, sedih, atau senang .
🎠Fungsi Estetika dan Karakterisasi
Tembang menambah dimensi estetika pada pertunjukan melalui nyanyian, macapat, dan gending . Lebih dari itu, tembang juga berfungsi untuk menggambarkan watak para tokoh, sehingga memperjelas alur cerita dan karakterisasi . Pemain dituntut untuk memahami watak atau karakter dari setiap tembang agar penampilannya pas dengan peran dan adegan yang dimainkan .
🎠Fungsi Penyambung Cerita dan Identitas Budaya
Tembang berperan sebagai penyambung cerita dari awal hingga akhir pertunjukan, membantu menjaga kesinambungan naratif . Keberadaannya juga menjadi bagian dari usaha penggalian dan pelestarian seni budaya, serta merupakan unsur terpenting dalam pertunjukan ketoprak yang aturannya (irama gamelan dan tembang) harus diikuti dari awal, pertengahan, hingga akhir .
🎠Harapan Penonton
Bagi penonton setia Kethoprak RRI Yogyakarta, tembang adalah salah satu tampilan yang paling dinantikan. Mereka bisa ikut merasakan suasana adegan melalui tembang, dan tidak jarang merasa kecewa jika tokoh idola mereka tidak nembang atau salah dalam membawakan tembang .
Intinya, dalam Kethoprak RRI Yogyakarta, tembang adalah “ruh” yang menghidupkan pementasan—bukan hanya soal cengkok dan suara indah, tetapi tentang bagaimana rasa dan pesan dalam syairnya menyatu dengan adegan dan karakter .




















