Oleh : Rahmad Nasir
Alor sebagai salah satu destinasi wisata terfavorit di NTT memiliki wisata-wisata yang belum sepenuhnya dijamah oleh pemerintah maupun pihak swasta. Beberapa infrastruktur pendukung pariwisata pun masih dikeluhkan sebagian pihak. Wisata pantai, taman bawah laut terindah di Indonesia bahkan masuk nominasi dunia versi kementrian pariwisata dalam literatur “Alor Underwater” yang sudah diterbitkan, pegunungan/puncak, Expo Alor, air panas/mancur, kampung adat/tradisional serta situs-situs bersejarah lainnya, berbagai atraksi budaya, kampung Gerabah, sentra tenun ikat dan lain sebagainya.
Sejak dahulu saya suka membaca buku “Keajaiban Pulau Kenari” yang memberikan gambaran kepada publik tentang keindahan Nusa Kenari. Kini dengan percaya diri dan blak-blakan literatur “Alor Surga di Timur Matahari” diterbitkan dalam rangka menambah kepercayaan orang-orang Alor terhadap anugerah Tuhan yakni daerahnya yang indah. Saya salah satu penikmat akun facebook atau instagram milik akun Zoom Alor dan No Ayu yang menyuguhkan tempat-tempat indah bahkan beberapa di antaranya belum dikunjungi saya dan kebanyakan orang.
Meskipun begitu banyak destinasi wisata di Alor, namun belum didukung oleh infrastruktur yang memadai, belum lagi kita bicara berapa besar sumbangan pariwisata untuk Pendapatan Asli Daerah (PAD) Alor. Sejak saya kembali ke Alor dari menempuh studi di Kupang dan Jogjakarta, perkembangan wisata kuliner Alor semakin ramai. Warung-warung berkelas semakin menjamur, bahkan muncul ikon kuliner ikan kuah asam di Resto Mama di Kadelang serta arena ngopi di Simpang Galau Lapangan Mini Kalabahi.
Munculnya pengusaha-pengusaha kuliner sebenarnya menambah semarak orang berkunjung ke Alor. Setelah saya terlibat beberapa kali diskusi dengan Pak Ibrahim Nampira yang juga adalah pekerja profesional di Perbankan (BRI), beliau berencana membuat sebuah cafe di pinggir pantai Bungawaru (BWR). Banyak di antara orang-orang hanya lihai dalam konsep atau sukses sekedar di perencanaan, namun tidak untuk Pak Him Nampira yang mewujudkan apa yang menjadi rencana atau impiannya.
Yakusa Café pun perlahan berdiri dengan menelan dana hingga 100-an juta rupiah. Tempat yang dulunya kumuh dan tidak berfungsi kini disulap menjadi café indah yang ikut memperindah Kota Kalabahi, ikut menyumbang suasana Alor sebagai daerah wisata serta memberikan pendidikan dan pencerahan kepada masyarakat Alor tentang pentingnya wisata kuliner bagi daerah seribu moko ini. Selain itu, ikut memotivasi masyarakat Alor untuk berwirausaha di bidang pariwisata khususnya wisata kuliner. Bagi saya orang-orang dengan cara berfikir seperti ini harus banyak jumlahnya di Alor karena tak mengharapkan bantuan pemerintah untuk berbuat untuk Alor namun dengan inisiatif sendiri serta pendanaan sendiri mampu memberikan sesuatu bagi perkembangan Alor.
Mungkin bagi banyak orang dianggap belum apa-apa namun setidaknya beliau telah berbuat dan sebaiknya yang lain pun ikut berbuat. Kini Yakusa cafe semakin ramai dikunjungi orang baik yang tinggal di Alor maupun para pengunjung Alor yang kebetulan mampir di Alor. Yakusa Café menyediakan banyak pilihan makanan dan minuman mulai dari lalapan bebek, ayam, ikan, makanan ringan, susu jahe, es teh, teh panas, kopi dan lain sebagainya. Harganya yang murah serta rasanya juga nikmat membuat para pengunjung semakin antusias dengan café baru ini. Para pengunjung akan merasakan sensasi hawa laut karena persis di bibir pantai sambil memandang Teluk Mutiara/Teluk Kabola yang biasa tampil sangat teduh nan sejuk, berada di bawah pohon-pohon kelapa merah menambah nuansa tersendiri.
Orang bisa memilih ngobrol di bawah lopo atau di bawah atap seperti rumah mini terbuka. Pelengkap lainnya adalah aliran listrik untuk kebutuhan laptop, hp dan alat elektronik pribadi lainnya serta tempat cuci tangan sebelum dan sesudah makan serta dapur dan kasir yang letaknya di seberang jalan. Saya pernah beberapa kali makan di tempat ini bersama kolega dan keluarga dan mereka sangat ingin kembali menikmati suasan Kafe Yakusa. Sangat nyaman dan sejuk jika kita mampir di malam hari.
Bagi anda yang kebetulan mampir di Kota Kalabahi, cukup anda naik ojek dari penginapan dengan biaya Rp.5000,- dengan tujuan Kafe Yakusa pasti akan sampai tanpa kebingungan/sesat. Jika arahnya dari Kota Kalabahi maka lurus terus sampai di BRI Unit Sartika langsung belok kanan masuk samping supermarket Victory sampai melewati Masjid Bungawar hingga ke bibir pantai dan belok kiri hanya berjarak beberapa meter saja café Yakus sudah terlihat.
Tempat ini juga sangat strategis dikunjungi para aktifis pemuda maupun kemahasiswaan untuk ngopi sambil mendiskusikan berbagai hal tentang pembangunan bangsa dan daerah ini di segala bidang kehidupan. Anda juga bisa menyewa seharian untuk keperluan acara keluarga seperti hari ulang tahun anggota keluarga, acara syukuran tertentu serta sekedar melepaskan lelah dan stress dan setumpuk pekerjaan sehari-hari.
Sebagai orang berlatar belakang aktifis mahasiswa, Pak Ibrahim Nampira benar-benar mengaplikasikan ilmu yang didapatkan di organisasi kemahasiswaannya dahulu. Meski pekerjaan sehari-harinya hanya di dalam ruangan dan bergelut dengan angka-angka serta kerja dengan target tinggi tidak membuat fikirannya sesempit ruangan kerjanya serta tak membiarkan dirinya di-preasure target kerja tersebut. Hal ini karena setelah saya menggali beberapa ide-ide beliau, yang bagi saya cukup baik untuk membangun Alor.
Saya berharap beberapa ide-ide yang didiskusikan semoga bisa terealisasi. Sebagai anak muda yang belajar pada seniornya membuat saya pun perlahan mulai bergerak meski dengan volume dan frekuensi yang teramat kecil. Semoga Yakusa Café semakin ramai dikunjungi, semakin melengkapi kuliner Kota Kalabahi sebagai Kota Wisata, serta semakin ramai muncul tempat-tempat wisata kuliner lainnya yang ikut menyumbang suasana Alor sebagai daerah wisata yang layak untuk dikunjungi. Selamat berkunjung dan selamat menikmati. Semoga puas.





