Jakarta, 1 Agustus 2026 – Mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal menyoroti laju deforestasi di Pulau Papua yang dinilai mengancam target penurunan emisi karbon Indonesia sekaligus berdampak pada stabilitas iklim global. Pernyataan ini disampaikannya dalam sebuah forum diskusi di Jakarta, Jumat (31/7/2026).
Dino mengingatkan bahwa hutan Papua merupakan salah satu paru-paru dunia terakhir yang masih tersisa. Namun, ekspansi perkebunan sawit, pertambangan, dan konversi lahan lainnya telah menyebabkan deforestasi yang masif di wilayah tersebut. “Papua adalah aset strategis bagi dunia. Jika hutannya terus tergerus, maka bukan hanya target emisi Indonesia yang gagal, tetapi kontribusi kita terhadap perubahan iklim global juga akan semakin buruk,” ujarnya.
Menurut data yang dipaparkan Dino, laju deforestasi di Papua dalam lima tahun terakhir menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. “Kita tidak bisa membiarkan ini terus berlanjut tanpa ada kebijakan yang komprehensif dan penegakan hukum yang tegas,” tegasnya.
Dino juga mengingatkan bahwa deforestasi di Papua tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga pada kehidupan masyarakat adat yang menggantungkan hidupnya pada hutan. “Masyarakat adat adalah garda terdepan dalam menjaga hutan. Mereka harus dilibatkan dan dilindungi hak-haknya,” imbuhnya.
Pernyataan Dino ini menjadi sorotan, terutama di tengah komitmen pemerintah yang telah menetapkan target penurunan emisi karbon dan transisi energi hijau. Para pengamat menilai, peringatan ini harus segera direspons dengan kebijakan pengelolaan hutan yang lebih berkelanjutan dan melibatkan seluruh pemangku kepentingan.






