Sumenep, 30 Agustus 2026 – Di tengah dominasi laki-laki dalam dunia perkerisan Madura, sebuah nama perempuan justru mencuri perhatian. Sisil, seorang empu keris asal Desa Pabian, Kecamatan Kota, Kabupaten Sumenep, menjadi satu-satunya perempuan di pulau itu yang masih setia menekuni tradisi pembuatan keris, sebuah keterampilan yang umumnya diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi, dan kebanyakan dijalankan oleh pria.
Sisil bukanlah pendatang baru dalam dunia perkerisan. Sejak kecil, ia sudah akrab dengan palu dan landasan, mewarisi keahlian dari sang ayah. Meskipun sebagai perempuan, ia tak pernah ragu untuk terus berkarya. “Saya meneruskan warisan leluhur. Ini bukan sekadar pekerjaan, tapi bagian dari jati diri kami,” ujar Sisil saat ditemui di bengkel kerjanya yang sederhana.
Keahlian dan Ketelatenan
Setiap keris buatan Sisil melalui proses panjang dan penuh ketelitian. Mulai dari memilih bahan baku besi dan baja, memanaskan, menempa, hingga membentuk bilah dan pamor. Proses ini membutuhkan kekuatan fisik, ketekunan, dan perhitungan yang matang—tantangan yang dijalaninya setiap hari.
“Saya ingin menunjukkan bahwa perempuan juga bisa membuat keris yang bagus dan berkualitas. Bukan hanya laki-laki yang bisa,” tegas Sisil.
Harapan untuk Generasi Muda
Meski usianya telah senja, semangat Sisil tak kunjung padam. Di balik setiap keris yang ia hasilkan, terselip doa dan harapan agar tradisi luhur ini tetap lestari. Ia mengajak generasi muda untuk tidak malu belajar dan melestarikan budaya, karena tanpa penerus, peradaban bisa pudar.
“Pandai besi ini adalah tradisi leluhur yang harus kita jaga. Semoga ada anak muda yang mau belajar, tidak hanya melihat,” katanya.
Kisah Sisil menjadi pengingat bahwa di tengah modernisasi, tradisi tetap hidup dan bertahan di tangan mereka yang mencintainya. Di bengkelnya yang sederhana, Sisil tetap setia mengejar pamor, menciptakan karya yang bukan hanya menjadi senjata, tetapi juga simbol kehormatan dan filosofi kehidupan orang Madura.






