NTT, 30 Agustus 2026 – Gempa dahsyat yang mengguncang Flores tak hanya meruntuhkan bangunan, tetapi juga menghancurkan rasa aman ribuan anak. Di tengah duka dan kepanikan, hadirlah para prajurit TNI dengan seragam loreng yang justru menjelma menjadi simbol perlindungan bagi mereka yang paling rentan: anak-anak.
Di posko-posko pengungsian Kabupaten Manggarai, Manggarai Timur, dan Nagekeo, pemandangan haru terlihat setiap hari. Para prajurit tidak hanya sibuk mendirikan tenda dan menyalurkan logistik, tetapi juga duduk bersama anak-anak, menghibur mereka yang ketakutan, dan bahkan menggendong bayi-bayi yang menangis karena trauma.
“Saya takut gempa datang lagi, Pak,” ujar seorang bocah bernama Rian (7) sambil memegang erat tangan seorang prajurit Kopassus yang ditemui di Posko Barang Kolong, Reok. Sang prajurit pun membelai kepala bocah itu dan menjawab dengan suara lembut, “Sekarang sudah aman, Adik. Kami di sini menjagamu.”
Trauma Healing dan Sekolah Darurat
Operasi pemulihan tidak berhenti pada pembangunan fisik. Para prajurit TNI, yang sebagian besar telah menjalani pelatihan dasar penanganan trauma, secara rutin menggelar kegiatan trauma healing untuk anak-anak, seperti bernyanyi, menggambar, dan menceritakan kisah-kisah inspiratif yang bertujuan mengembalikan senyum mereka.
Di sela-sela itu, prajurit juga mendirikan tenda-tenda darurat yang difungsikan sebagai sekolah lapangan. “Anak-anak tidak boleh kehilangan masa depan mereka. Kami ingin memastikan bahwa meskipun dalam keadaan darurat, hak mereka untuk belajar tetap terpenuhi,” ujar Komandan Satgas Bencana yang ditemui di lokasi.
Solidaritas di Atas Reruntuhan
Sejak gempa terjadi pada Sabtu (15/8), pengerahan personel TNI telah mencapai ribuan orang. Mereka diterjunkan ke tujuh kabupaten terdampak, menyelamatkan korban, dan membersihkan puing-puing. Namun, kehadiran mereka di pos pengungsian memberikan arti yang lebih dalam.
Kisah seragam tentara yang menjadi ruang aman anak-anak gempa Flores adalah pengingat bahwa di tengah kemewahan teknologi modern, kehadiran fisik dan empati tetap menjadi kekuatan paling ampuh untuk menyembuhkan luka. Saat para prajurit itu menggendong, menghibur, dan melindungi anak-anak, mereka tidak hanya menjalankan tugas negara, tetapi juga menghidupkan kembali harapan yang nyaris padam. “Kami tidak bisa menghentikan gempa, tapi kami bisa memastikan bahwa anak-anak tetap tersenyum,” kata seorang prajurit.






