Surabaya – Dalam #TadarrusBiblio ke 19 pada Minggu 17 Mei 2015 pukul 20.00 WIB, ajang diskusi dirasa ada yang sedikit berbeda. Suasana hening menyelimuti seluruh peserta diskusi ditengah ramainya para pengunjung yang berdatangan ke angkringan 57. Pereview, Marlaf Sucipto, mengajak segenap peserta untuk mengirimkan doa terlebih dulu pada Tan Malaka, sosok pendiri Republik yang terkenal dengan semboyannya “Merdeka 100%”. Tanpa menghiraukan hiruk pikuk pembicaraan pengunjung yang lain, sejumlah aktivis sebanyak 19 orang dalam diskusi itu, mengheningkan cipta dengan khidmat. Mereka merapal, menyuguhkan kiriman doa Al-fatihah untuk Tan Malaka. [Berita Sebelumnya]
#TadarrusBiblio kali ini mendiskusikan buku Tan Malaka yang berjudul “Dari Penjara Ke Penjara”. Marlaf Sucipto selaku pereview pada #TadarrusBiblio kali ini mengatakan bahwa buku ini terdiri dari tiga jilid dan pada kesempatan kali ini ia hanya akan menyampaikan hasil bacaannya pada buku kedua.
“ Namun sedikit akan saya sampaikan spirit yang ada pada buku pertama dan ketiga karya Tan ini” ujar Direktur Indonesia Belajar Institute itu saat memulai pemaparannya.
Marlaf juga menambahkan bahwa ketiga buku tersebut tak hanya mengisahkan tentang diri Tan, tapi juga berkisah tentang negara-negara yang disinggahinya selama masa pembuangan.
“Buku kedua ini bercerita tentang perjalanan Tan Malaka selama dibuang oleh Pemerintah Kolonial Hindia-Belanda. Dimulai sejak 1922 dari Penjara Bandung-Jakarta-Bangkok-Tiongkok-Cina-Burma-Singapura hingga kembali ke Indonesia pada sekitar tahu 1941, di setiap penjara-penjara tersebut Tan tidak pernah tinggal kurang dari 5 tahun” pungkasnya.
Pereview asal Sumenep ini juga menegaskan catatan penting yang perlu diketahui dari buku karya Tan Malaka ini. Menurutnya, komunisme yang dibangun Tan Malaka di Indonesia memiliki semangat yang khas Indonesia dan berbeda dengan komunisme yang ada di Cina, Burma, dan Soviet.
Selanjutnya ia menyampaikan, jika selama ini komunis yang ada Indonesia kerap dianggap dan mendapat stempel atheis (Anti Tuhan). Namun bila membaca sosok dan pemikiran Tan Malaka, stigma negatif itu tidaklah sama sekali bisa dibenarkan.
“Justru Tan Malaka adalah orang yang beragama.Itu terbukti ketika dua buku karangannya terpaksa ditenggelamkan ke laut dalam perjalanan dari Burma menuju Singapura saat menghadapi pemeriksaan (anggap saja Bea-Cukai). Nah dua buku itu ditemukan oleh orang Burma dan dikirimkannya kembali pada Tan Malaka yang waktu itu sudah ada di Indonesia. Ketika menerima kiriman itu Tan Malaka mengucapkan puji syukur Alhamdulillah” papar aktivis PMII tersebut.
Selain itu dalam setiap perjalanan pembuangannya, Tan selalu menulis sehingga pemikirannya masih dapat diketahui dan dibaca sampai saat ini. Ada banyak karyanya yang kemudian menjadi bacaan wajib para aktivis. Seperti Gerpolek, Naar De Republik, Aksi Massa, Parlemen Atau Soviet. Setelah mantan Gubernur SEMA Fak. Syariah itu selesai menyampikan paparannya, forum diskusi mengenai buku tersebut dibuka untuk mempertanyakan isi buku ataupun membandingkan buku tersebut dengan buku lainnya.(Azmi)

