Israel diduga telah melakukan kegiatan mata-matai pembicaraan perundingan nuklir Iran melalui sebuah virus komputer. Hal ini dikemukan oleh perusahaan keamanan perangkat lunak, Kaspersky, yang menemukan virus yang di duga digunakan oleh Israel untuk memata-mati perundingan tersebut.
Virus yang diberi nama Duqu 2.0 oleh Kaspersky tersebut. semula lab anti-virus Kapersky yang berbasis di Rusia menemukan spyware di jaringan tiga hotel mewah yang menjadi tempat digelarnya pembicaraan perundingan nuklir Iran dan enam negara kekuatan dunia.
Israel Mata-matai Perundingan Nuklir
Virus Duqu 2.0 yang ditemukan Kasperksy disebut-sebut merupakan varian dari virus Duqu yang memiliki ciri-ciri sama seperti virus milik Pemerintah Israel. Kesimpulann ini didapat oleh Kaspersky dikarenakan virus Duqu adalah varian dari virus Stuxnet, virus yang pernah digunakan dalam serangan yang diduga dilakukan oleh negara Zionis tersebut terhadap infrastruktur nuklir iran pada 2010.
Kesimpulan ini juga senada dengan tunduhan yang pernah dilontarkan oleh Amerika Serikat (AS) pada Maret 2015 yang menyatakan bahwa Israel telah memata-matai program nuklir Iran dan menggunakan data yang mereka dapatkan untuk membujuk Kongres AS agar mengganggu pembicaraan dengan Iran.
“Orang yang berada di balik Virus Duqu adalah satu dari kelompok ancaman yang paling ahli. Mereka melakukan segalanya untuk tetap tidak terlacak,” kata Direktur Tim Analisis dan Penelitian Global Kaspersky Laboratorium Costin Raiu, seperti dilansir Guardian, Kamis (11/6/2015).
Peneliti dari Kaspersky menyatakan bahwa saat ini tidak mungkin mengetahui dampak dari serangan virus ini pada pembicaraan nuklir antara Iran dengan negara P5+1 (AS, Prancis, Jerman, Inggris, China, dan Rusia).
Dilaporkan juga bahwa komputer yang terinfeksi mampu mengendalikan sistem lain yang ada di dalam hotel seperti kamera, mikrofon, dan telefon untuk memperoleh informasi dari pembicaraan yang sedang berlangsung.
Temuan dari Kaspersky ini telah dikonfirmasi oleh perusahaan keamanan Symantec Amerika Serikat. Sementara itu Pihak Israel menolak tundukan tersebut dan mengatakan semua tersebut tidaklah memiliki dasar.




