Indonesia Visioner
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • POLHUM
  • EKONOMI
  • VIDEO
  • ENTERTAINMENT
  • LUAR NEGERI
  • LIPUTAN DISKUSI
  • LIFESTYLE
  • RESENSI
  • SPORT
  • OPINI
  • INDEKS
No Result
View All Result
Indonesia Visioner
No Result
View All Result

Partai politik dalam menentukan figur kemenangan pilkada 2018

by Aulia Rachman Siregar
Mei 12, 2017
in Opini
Reading Time: 4min read
Partai politik dalam menentukan figur kemenangan pilkada 2018
0
SHARES
17
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

*Penulis Deni Yusup, M.Si adalah Direktur Nusantara Riset dan Ketua bidang PP Masika ICMI

Dengan adanya pilkada serentak membuka wawasan publik untuk bisa mengkontrol pemimpin yang akan dipilih, partai politik sebagai pengusung calon gubernur, bupati atau wali kota tidak luput dari perhatian publik, terkesan di periode ini memang pilkada semakin menarik karena diadakan serentak seluruh Indonesia, partai politik melakukan sonsolidasi penguatan internal sekaligus penguatan untuk memenangkan pilkada yang diadakan serentak. Dari pusat sampai daerah terkordinasi soal pilkada, partai politik berkepenting untuk memenangkan disetiap pilkada yang dilaksanakan serentak. Adanya pilkada serentak berdampak baik terhadap partai politik, tidak hanya asal mengusung calonya saja, tetapi pilkada bisa dijadikan ajang pemilu pemulaan sebelum melaksanakn pemilu lima tahunan, serta berdampak baik bagi kemajuan demokrasi .

Adanya pilkada serentak yang telah terjadwalkan dari tahun 2015-2018 sebelum pemilihan umum tahun 2019. Dengan kita melakukan momen politik hampir tiap tahun memang wajar kalau kita terkesan demam politik ( pemilukada), saat ini kita akan menghadapi nuansa yang tidak kalah menarik dari tahun 2016-2017 soal pilkada serentak, kemarin yang sangat menarik karena perebutan gubernur Jakarta yang dimenangkan pasangan Anis-Sandi melawan Ahok-Jarot memang menguras energi bangsa Indonesia. Selain ibukota yang menjadi daya tarik semua orang, semua rakyat menonton karena menjadi pusat infomasi ada di Jakarta, tentu sangat wajar kalau hampir semua eleman memperhatikan pilkada yang dilaksanakan Jakarta, sampai saat sekarang masih terasa nuansa pilkada dki.

Perebutan kekuasan akan terjadi di pemilukada tahun 2018. Dimana pemilukada tahun 2018 menjadi pemilukada terbanyak ada sekitar 171 pilkada yang akan dilaksanakan, kepentingan partai politik untuk memenangkan di pemilukada 2018 sangat tinggi. Di propinsi-propinsi terbesar akan melaksanakn pilkada, Jawa barat, Jawa tengah, Jawa timur diwilayah barat Sumatra utara, Sumatra selatan, riau serta lampung, sedangkan diwilayah timur propinsi Sulawesi selatan, papua, Maluku akan melaksanakan pemilukada serentak tahun 2018. Ini menandakan bahwa pemilukada tahun ini akan lebih berpengaruh dan menarik bagi partai politik dalam memenagkan Dan mengkonsolidasikan partainya untuk menjadi pemenang.

Di pemilukada tahun 2017 partai yang memperoleh pemenang yang tertingi Golkar, golkar mengalahkan PDIP selaku pemenang pemilu legislative tahun 2014. Pertarungan pilkada 2018 akan menjadi ajang adu stategi bagi partai-partai sebagai ajang pemilu permulaan untuk pemilu tahun 2018.

Pertanyaan yang mendasar dari perhelatan pemilukada ini apakah akan berbanding lurus dengan pemilu legislative dan presiden tahun 2019.

Dengan asumsi pemenang dipemilukada serentak apa akan berdampak terhadap pemilu legislative dan presiden langsung. Memang secara politik tentu akan berdampak terhadap pemilu tetapi dalam pemilukada memang ada bebrapa factor yang membedakan, terutama figur-figur yang diusung oleh partai tentu berdampak terhadap elektabilitas partai yang mengusung dan begitu sebaliknya figur juga sedikitnya mendapat dampak positif dari dukungan partai untuk mendapatkan dukungan rakyat.

Ketepatan memilih figur dalam pilkada tentunya itu menjadi salah satu faktor memenangkan pemilukada selain stategi isu yang dimainkan dan diterapkan oleh calon-calon yang diusung partai. Memang menurut hemat penulis dalam pemilukada faktor dominan figur yang lebih diutamakan selain dukungan partai politik. Hampir menjadi rahasia umum bahwa partai yang menjadi pemenang pemilu di daerah tersebut belum tentu mendapat dukungan rakyatnya takala piihan figur tidak tepat. Kelemahan partai politik kebanyakan stuktural dan sistem yang tidak berjalan, ini pekerjaan rumah partai politik kalau tidak mereformasi diri partai politik akanditingaklan public, jadi banyak calon dan figur yang mencalonkan diri memilih untuk membuat tim dalam tim yang telah ada dalam partai politik seperti menyewa konsultan politik.

Partai politik tentu berharap memenangkan pemilukada di 2018 karena dengan memenagkan pemilukada berarti merebut kekuasaan yang bias melaksanakan pogram dan misi partainya, karena memang tujuan parati politik berkuasa. Ini semua kana dilakukan oleh semua partai politik untuk memperebukan kursi eksekutif yang ada didaerah-daerahnya selain menjadi tujuan tingkat regional tetapi bias berdampak nasional untuk memenangkan di pemilihan umum nantinya, intinya semua berharap pemilukada 2018 bisa berdampak sistemik terhadap pemilu tahun 2019.

Bagaimana dengan PDIP akankah kembali kalah di Pemilukada? 

Menarik untuk disimak pemilukada 2018 selain tahun politik karena berselang satu tahun dengan pemilihan umum serta pemilihan presiden, tidak bisa dihindari nuansa pertarungan dipilpres akan menjadi isu yang menarik yang dibahas di pemilukada 2018. Sebagai kompetitor dalam pemilukada, pemilihan umum dan pemilihan president tentu dipilkada 2018 akan lebih terlihat. Apalagi setelah ibu kota DKI Jakarta yang kemarin dikuassai oleh PDIP saat ini telah bergeser dengan partai Gerindra dan PKS yang memenangkan Anis sandi mengalahkan pasangan Ahok jarot yang didukung partai penguasa saat ini.

Apakah pergeseran kekuasaan ini akan berlanjut di pilkada 2018 seperti dipilkada 2017 yang dimenangkan Golkar dan partai Gerindra serta PKS memenangkan pemilukada terpanas DKI Jakarta. Akankah partai PDIP akan terpuruk lagi ditahun 2018, tentu jawabanya bisa dilihat dari hasilnya nanti. Tetapi PDIP tentunya mendapat pukulan besar karena kader yang diusung dan figur yang diusung oleh PDIP selalu kalah, terutama propinsi Banten dan DKI Jakarta. Figur Ahok yang diusung oleh PDIP berdampak terhadap opini publik terhadap PDIP efek dari sosok fenomenal Ahok yang banyak di eluk-elukan oleh pendukungnya tetapi publik secara keseluruhan tidak simpatik terhadap sikap dan prilaku ahok hal ini yang berdampak bagi PDIP. Apakah efek Ahok ini akan berpengaruh terhadap pilkada 2018 ? Jawabanya sanggat mungkin terjadi. Tetapi apakah PDIP akan merelakanya lagi tahun 2018 untuk dimenangkan kompetitor partai politik lain, tentu jawabannya pasti tidak mungkin PDIP akan menyerah, apalagi tahun berikutnya pemilu dan pemilihan presiden tentu Jokowi tidak akan rela kalau PDIP akan kalah lagi di tahun 2018. karena akan berdampak terhadap pemilihan presiden, yang hampir dipastikan lagi Jokowi akan mencalonkan lagi sebagai calon presiden.

Semua kemungkinan politik akan terjadi apalagi semua isu ekonomi, hukum dan social politik akan selalu berdampak terhadap isu kepemipinan dan pergeseran kekuasan. Sebagaimana disampaikan diatas, pergeseran politik sangat mungkin terjadi ada istilah kekuasaan tidak abadi, dalam politik bisa dimaknai dengan kata bijak, bahwa masa lalu adalah sejarah, hari ini anungrah yang didapatkan dan hari esok masih bersifat misteri. Oleh karena itu berbuat yang terbaik untuk semua selagi memipin agar masa depan yang masih menjadi misteri tidak menjadi beban pikirin bagi pemimpin, tetapi lakukan yang terbaik selagi masih dikasih kesempatan berkuasa.

Partai politik harus memberikan pembelajaran politik bagi publik sepanas persaingan yang akan dihadapi oleh partai politik yang ada harus berlandaskan kepentingan umum, persaigan politik antar partai sanggat rentan dengan melibatkan publik yang tidak berdosa, partai politik harus mampu menjawab bahwa demokrasi itu proses subtansi dari demokrasi adalah kesejahteraan rakyat. Partai politik, PDIP, Golkar, Demokrat, Gerindra dan partai politik yang lain harus menjasi lokomotif perubahan demokrasi yang lebih matang, walaupun panas persaingan nanti di tahun 2018 dan 2019 tetapi jangan menghilangkan jati diri bangsa ini bahwa kita satu kesatuan.

Tags: Deni yusufKetepatan partai politikPemilukada
Previous Post

Catatan dalam hasil sidang putusan ahok

Next Post

Breakthrough Perizinan Di Hulu Migas

Related Posts

Mengapa Polri Butuh Lebih dari Sekadar Seremoni Hoegeng Awards?
Artikel

Mengapa Polri Butuh Lebih dari Sekadar Seremoni Hoegeng Awards?

April 6, 2026
Default

Menjaga Marwah Bhayangkara: Mengapa Independensi Polri Adalah Harga Mati

Januari 30, 2026
Opini

Menagih Janji di Balik Sepatu Bot Pramono: Mengapa Jakarta 2026 Masih Menjadi Kolam Raksasa?

Januari 24, 2026
Opini

Lumbung Pangan di Balik Jeruji: Saat Penjara Menyuplai Piring Rakyat

Januari 19, 2026
Opini

Mengakhiri Demokrasi Biaya Tinggi:
Pilkada Langsung Itu Gagal: Kenapa Kita Masih Takut Balik ke DPRD?

Januari 5, 2026
Opini

The Enforcer: Mengapa Publik Semakin Menaruh Kepercayaan pada Langkah Taktis Dasco?

Januari 1, 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERKINI

Eks PB HMI Silaturahmi ke Dandim, Apresiasi Peran Kodim Kawal Koperasi Desa Merah Putih

Menjaga Marwah Ibadah: Pemuda Muslimin Jakarta Utara mendukung usulan Kemenimipas Percepatan Satgas Haji Non-Prosedural

Antusiasme Publik Tinggi, Satgas Haji Polri Diminta Tanpa Ampun Sikat Travel Nakal dan Visa Palsu

Optimisme Pengelolaan Sampah: JAMMA Dukung Transformasi Hilirisasi Gubernur Pramono

Merajut Kembali Persaudaraan Bangsa: Mengapa Dialog Lebih Utama dalam Kasus Jusuf Kalla?

Musyawarah Pimpinan Kecamatan Golkar Purwoharjo Perkuat Konsolidasi dan Arah Strategi Pemenangan

TERPOPULER

Eks PB HMI Silaturahmi ke Dandim, Apresiasi Peran Kodim Kawal Koperasi Desa Merah Putih

Menjaga Marwah Ibadah: Pemuda Muslimin Jakarta Utara mendukung usulan Kemenimipas Percepatan Satgas Haji Non-Prosedural

Antusiasme Publik Tinggi, Satgas Haji Polri Diminta Tanpa Ampun Sikat Travel Nakal dan Visa Palsu

Optimisme Pengelolaan Sampah: JAMMA Dukung Transformasi Hilirisasi Gubernur Pramono

Merajut Kembali Persaudaraan Bangsa: Mengapa Dialog Lebih Utama dalam Kasus Jusuf Kalla?

Musyawarah Pimpinan Kecamatan Golkar Purwoharjo Perkuat Konsolidasi dan Arah Strategi Pemenangan

  • About
  • Redaksi
  • Marketing & Advertising
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Email
  • Login
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • POLHUM
  • EKONOMI
  • VIDEO
  • ENTERTAINMENT
  • LUAR NEGERI
  • LIPUTAN DISKUSI
  • LIFESTYLE
  • RESENSI
  • SPORT
  • OPINI
  • INDEKS

Indonesia Visioner - All Rights Reserved