Indonesia Visioner
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • POLHUM
  • EKONOMI
  • VIDEO
  • ENTERTAINMENT
  • LUAR NEGERI
  • LIPUTAN DISKUSI
  • LIFESTYLE
  • RESENSI
  • SPORT
  • OPINI
  • INDEKS
No Result
View All Result
Indonesia Visioner
No Result
View All Result

Mahasiswa dan Minimnya Literasi

by Visioner Indonesia
Oktober 19, 2019
in Opini, Pendidikan
Reading Time: 2min read
0
SHARES
62
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter
Ilustrasi
Mahasiswa setingkat lebih tinggi dibandingkan siswa dan telah beranjak menuju kedewasaan ilmu dan kebebasan untuk benar-benar memilih arah masa depan dan orientasi pendidikannya. Maka dari itu, sepatutnya, mahasiswa juga harus beranjak dari belenggu pencekokan ilmu selama hampir 12 tahun, dan harus bijak memilih ilmu yang akan ditelan dan menjadi spesifikasinya. Sehingga pada fase ini, kemahasiswaannya benar-benar menjadi pijakan awal dalam menentukan masa depan karirnya.
Apabila diulas, seharusnya jumlah mahasiswa yang sekian ribu jumlah lulusannya tiap tahun mampu setidaknya meminimalisir angka kemiskinan, atau minimal tidak menambah deretan angka pengangguran terdidik di Indonesia. Namun kenyataannya, Sumber daya manusia dari golongan intelektualis masih minim sumbangsihnya dari sekian juta mahasiswa.
Demikian peliknya persoalan pengembangan kualitas mahasiswa, tidak dapat dilepaskan dari faktor-faktor yang mempengaruhi mahasiswa dan lingkungannya. Serta kebiasaan yang membudaya yang menurut penulis menjadi faktor lambannya perkembangan intelektualitas mahasiswa. Padahal kualitas SDM menjadi salah satu indikator majunya sebuah bangsa. Faktor yang hendak ditekankan dalam tulisan ini adalah mirisnya literasi di kalangan mahasiswa.
Pertama, minimnya perhatian terhadap budaya membaca dan menulis. Dalam beberapa seminar yang diadakan di banyak kampus selalu menekankan mahasiswa untuk serius membaca dan menghasilkan karya tulisan, terutama karya ilmiah atau penelitian ilmiah. Namun, realitanya tidak demikian. Sudah menjadi kebiasaan di kampus, bahwa mahasiswa hanya melakukan 2 hal itu ketika mendapat perintah dari dosen pengampu. Tidak atas dasar keinginan pribadi.
Kedua, minimnya perhatian terhadap karya. Salah satunya dengan kebiasaan mahasiswa memplagiasi karya orang lain. Virus plagiasi ini menjadi kebiasaan terburuk dan hampir mengakar. Hal itu karena minimnya perhatian dari dosen dan pihak kampus. Seharusnya plagiarisme sangat tidak diperbolehkan, karena selain itu merupakan kejahatan, perbuatan itu juga membodohi dan menambah kedunguan mahasiswa. Seharusnya anti plagiarisme ini ditekankan dari tingkat terendah, misalnya pada proses pembuatan makalah bagi mahasiswa semester awal, agar merrka terbiasa menulis dari hasil kemampuannya sendiri.  Walaupun segelintir dosen atau kampus sudah melakukannya, tetapi mayoritas masih abai terhadap hal itu. Pun dengan adanya alat pendeteksi plagiarisme, hanya di kalangan akademisi setingkat dosen dan kalangan di atasnya.
Mahasiswa perlu dipaksa agar terbiasa membudayakan membaca dan menulis. Selain itu karena tugasnya sebagai agen perubahan, melainkan juga agar mereka lebih kreatif dan bertanggungjawab. Apabila tidak dengan tulisan, atau dengan aksi nyata, lalu bagaimana mereka merealisasikan pelabelannya sebagai agen-agen yang lain, atau pelabelannya sebagai intelektualis. Meskipun persoalan Mahasiswa cukup banyak untuk dikaji. Penulis menilai bahwa 2 hal di atas adalah masalah yang cukup serius. Apalagi ditengah kepelikan persoalan digitalisasi yang merongrong mentalitas mahasiswa.
*Penulis adalah Rofiatul Windariana, ia merupakan kader HMI IAIN Madura yang juga aktif di LPM Activita IAIN Madura
Tags: MahasiswaMinimnya literasi
Previous Post

KFNO Bank MANTAP : Jargon Kami “Tiada Kata Pensiun Untuk Berkarya”

Next Post

Indonesia Duduki Posisi Ketiga Kasus Stunting tertinggi di Asia

Related Posts

Pondasi Sistem Logistik Nasional: Refleksi Pengabdian dan Estetika Konstitusi
Opini

Pondasi Sistem Logistik Nasional: Refleksi Pengabdian dan Estetika Konstitusi

April 26, 2026
BGN Kaji Efesiensi Anggaran
Artikel

Audit Triliunan dan Rapuhnya Negara: Mengapa Kebocoran Fiskal Terus Berulang?

April 23, 2026
Mengapa Polri Butuh Lebih dari Sekadar Seremoni Hoegeng Awards?
Artikel

Mengapa Polri Butuh Lebih dari Sekadar Seremoni Hoegeng Awards?

April 6, 2026
Default

Menjaga Marwah Bhayangkara: Mengapa Independensi Polri Adalah Harga Mati

Januari 30, 2026
Opini

Menagih Janji di Balik Sepatu Bot Pramono: Mengapa Jakarta 2026 Masih Menjadi Kolam Raksasa?

Januari 24, 2026
Opini

Lumbung Pangan di Balik Jeruji: Saat Penjara Menyuplai Piring Rakyat

Januari 19, 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERKINI

“Bukan Hitungan Hari, Tapi Bobot Negeri” Dasco Ajak Debat Diplomasi Naik Kelas

LHK: Stabilitas Pemerintahan Kota Kendari Tetap Terjaga di Tengah Berbagai Isu

Polemik Pernyataan Wamentan soal Petani Happy, Publik Diminta Baca Utuh Konteksnya

Yeka Hendra Fatika Ombusdman jadi Tersangka Perintangan Penyidikan Korupsi

Airlangga Pastikan Tekanan Rupiah Terkendali, Beda 2004-2014

Masyarakat Sumatera Mulai Rasakan Percepatan Pemulihan, Dasco Terus Kawal Satgas

TERPOPULER

“Bukan Hitungan Hari, Tapi Bobot Negeri” Dasco Ajak Debat Diplomasi Naik Kelas

LHK: Stabilitas Pemerintahan Kota Kendari Tetap Terjaga di Tengah Berbagai Isu

Polemik Pernyataan Wamentan soal Petani Happy, Publik Diminta Baca Utuh Konteksnya

Yeka Hendra Fatika Ombusdman jadi Tersangka Perintangan Penyidikan Korupsi

Airlangga Pastikan Tekanan Rupiah Terkendali, Beda 2004-2014

Masyarakat Sumatera Mulai Rasakan Percepatan Pemulihan, Dasco Terus Kawal Satgas

  • About
  • Redaksi
  • Marketing & Advertising
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Email
  • Login
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • POLHUM
  • EKONOMI
  • VIDEO
  • ENTERTAINMENT
  • LUAR NEGERI
  • LIPUTAN DISKUSI
  • LIFESTYLE
  • RESENSI
  • SPORT
  • OPINI
  • INDEKS

Indonesia Visioner - All Rights Reserved