Jakarta, IndonesiaVisioner-. Kemelut yang dialami oleh saudara kami Fahri Hamzah adalah sebuah pembungkaman dan pembunuhan proses demokrasi. Sebab Fahri Hamzah adalah salah satu figur yang kami kenal dari Papua selama masa reformasi. Kami kenal, karena sampai hari ini perjuangannya sangat menyentuh, baik itu soal Hak Asasi Manusia (HAM) maupun perjuangnnya dalam mensejahtrakan masyarakat Papua.
Hal ini disampaikan oleh Yan Piet Yaranggan, Ketua Dewan Adat Papua dalam konverensi pers hari ini Rabu, (06/04/2016) bertempat di Jalan Tebet Timur Dalam V No. 22, Jakarta Selatan.
Yan mengemukakan, Fahri Hamzah adalah salah satu tokoh yang membela serta menolong kami dalam proses berdemokrasi di Tanah Paupa. Hal ini dibuktikan dengan kehadirannya di tengah-tengah kami saat kongers ke III DPA.
“Keputusan untuk hadir ditngah-tengah kami adalah wujud dari kepedulian saudara Fahri terhadap kami orang papua” sambung yan
Keputusan DPP PKS dalam memecat Fahri Hamzah adalah bentuk pembunuhan terhadap masa depan demokrasi indonesia. Sehingga, Pengadilan kami minta untuk memuntuskan proses perkara pelaporan Fahri dengan keputusan yang adil. Kami juga menghimbau DPP PKS untuk meninjau kembali keputusannya. karena, Fahri bukan hanya milik PKS, tetapi saudara Fahri adalah harapan masyarakat indonesia terutama kami masyarakat Papua.
“Beliau adalah satu dari sekian pemuda yang memperjuangkan demokrasi, terutama di Tanah Papua” tegas Yan.
Kalau sampai dipecat, maka kami menganggap perjalan demokrasi di indonesia sudah tidak benar. Apalagi hal ini dipraktekkan oleh partai sekelas PKS yang lahir dimasa-masa paca reformasi.
“Kalau jakarta saja sudah tidak benar praktek demokrasinya, apalagi di Papua” sesal Yan
Yan menambahkan, Sampai sore tadi, kami belum menerima bentuk kasus yang benar-benar menjadi alasan utama DPP PKS untuk memecat saudara FH. Sehingga, Kami secara moral akan selalu menemani Farhri dalam mencari keadilan.
“Kalo tidak ada keberpihakan pada orang yang lantang melindungi rakyatnya, terutama kami di Papua, kenapa PKS ada di Papua” tutup Yan. (MR. Vis)







Comments 1