Indonesia Visioner
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • POLHUM
  • EKONOMI
  • VIDEO
  • ENTERTAINMENT
  • LUAR NEGERI
  • LIPUTAN DISKUSI
  • LIFESTYLE
  • RESENSI
  • SPORT
  • OPINI
  • INDEKS
No Result
View All Result
Indonesia Visioner
No Result
View All Result

Peneliti : Rencana swasembada pangan pemerintahan Jokowi-JK terindikasi sia-sia

by Aulia Rachman Siregar
Mei 14, 2016
in Nasional
Reading Time: 2min read
Peneliti : Rencana swasembada pangan pemerintahan Jokowi-JK terindikasi sia-sia

Pekerja membawa padi hasil panen di kawasan Undaan, Kudus, Jateng, Selasa (20/1). Guna mencapai target swasembada pangan nasional tiga tahun mendatang, pemerintah memberi perhatian khusus kesejumlah hal seperti pupuk, benih, kuantitas dan kualitas lahan pertanian, saluran irigasi, alat pertanian serta sumber daya manusia. ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/ss/mes/15.

0
SHARES
56
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Jakarta, Indonesia visionser-. Rencana besar Pemerintahan Jokowi-JK untuk swasembada pangan terancam sekedar selogan. Sebab, Target swasembada pangan yang digadang-gadang bakal tercapai pada 2017 oleh pemerintahan ini dinilai tidak realistis. Nasib target ini diperkirakan tak akan jauh berbeda dengan era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang beberapa kali gagal menargetkan swasembada pangan.

Hal ini disampaikan oleh peneliti Merapi Cultural Institute (MCI) Agustinus Sucipto di Jakarta (14/5/2016).

Agustinus menambahkan, Ambisi swasembada pangan terancam gagal karena pemerintah hanya memperhatikan infrastruktur. Salah satunya melalui paket kebijakan ekonomi Jokowi jilid IV tanpa memperhatikan sumber daya manusia (SDM)-nya secara serius.

Padahal sambung Agus, regenerasi SDM yaitu petani yang menjadi faktor penentu berhasil tidaknya program swasembada pangan tak tersentuh sama sekali.

“Faktanya, profesi petani saat ini kurang diminati oleh generasi muda. Generasi muda saat ini lebih tertarik bekerja di bidang industri daripada bidang pertanian,” sambungnya

Gejala ini salah satunya bisa dilihat dari banyaknya generasi petani yang lebih memilih meninggalkan kampung halaman mereka untuk bekerja sebagai tenaga kerja Indonesia/wanita (TKI/TKW). Selain itu, banyak anak petani usia produktif lebih memilih hijrah ke kota menjadi buruh pabrik (industri).

Dalam budaya kita, kata dia, petani dianggap sebagai profesi kelas dua atau bahkan menjadi pilihan terakhir. “Profesi petani indentik dengan pekerjaan kasar, kotor dan menjadi masyarakat kelas rendah atau sudra,” ujar pria yang kini konsen pada kajian masifnya pergeseran budaya agraris ke industri di Indonesia.

Dalam masyarakat Indonesia, ada stigma bahwa petani adalah pekerjaan yang tidak memiliki prospek ekonomi cerah. Di banyak keluarga petani pun, orang tua berharap anak-anaknya menjadi, guru, polisi, tentara, dokter, pilot dan bidang kerja lain yang nonpertanian.

Tak jarang, banyak petani yang rela menjual sawah untuk biaya pendidikan anak-anak mereka agar tidak menjadi petani. Bahkan, ada yang menjual sawah sebagai uang pelicin agar anak mereka bisa bekerja di sektor lain yang menurut mereka lebih terhormat.

“Profesi petani menjadi pilihan terakhir ketika mereka tidak memperoleh pekerjaan yang mereka inginkan,” tutupnya. (MR. Vis)

Previous Post

Nita kaget dan pingsan saat diketahui kehamilannya diragukan

Next Post

Amin Rais : Ada sembilan (nawa) musibah di pemerintahan Jokowi-JK

Related Posts

“Bukan Hitungan Hari, Tapi Bobot Negeri” Dasco Ajak Debat Diplomasi Naik Kelas
Nasional

“Bukan Hitungan Hari, Tapi Bobot Negeri” Dasco Ajak Debat Diplomasi Naik Kelas

Juni 3, 2026
Masyarakat Sumatera Mulai Rasakan Percepatan Pemulihan, Dasco Terus Kawal Satgas
Daerah

Masyarakat Sumatera Mulai Rasakan Percepatan Pemulihan, Dasco Terus Kawal Satgas

Mei 26, 2026
Harmoni Politik: Publik Membenarkan Penjelasan Dasco Terkait Keikhlasan Istana
Nasional

Harmoni Politik: Publik Membenarkan Penjelasan Dasco Terkait Keikhlasan Istana

Mei 21, 2026
Simak Bukti Kebijakan di Balik Swasembada & Kesejahteraan Petani
Ekonomi

Simak Bukti Kebijakan di Balik Swasembada & Kesejahteraan Petani

April 27, 2026
Rapat Paripurna DPR Hari Ini: RUU PPRT dan RUU PSdK Disahkan
Nasional

Rapat Paripurna DPR Hari Ini: RUU PPRT dan RUU PSdK Disahkan

April 21, 2026
MPR Puji Langkah Presiden Prabowo Prioritaskan MBG untuk Anak yang Membutuhkan
Nasional

MPR Puji Langkah Presiden Prabowo Prioritaskan MBG untuk Anak yang Membutuhkan

April 19, 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERKINI

“Bukan Hitungan Hari, Tapi Bobot Negeri” Dasco Ajak Debat Diplomasi Naik Kelas

LHK: Stabilitas Pemerintahan Kota Kendari Tetap Terjaga di Tengah Berbagai Isu

Polemik Pernyataan Wamentan soal Petani Happy, Publik Diminta Baca Utuh Konteksnya

Yeka Hendra Fatika Ombusdman jadi Tersangka Perintangan Penyidikan Korupsi

Airlangga Pastikan Tekanan Rupiah Terkendali, Beda 2004-2014

Masyarakat Sumatera Mulai Rasakan Percepatan Pemulihan, Dasco Terus Kawal Satgas

TERPOPULER

“Bukan Hitungan Hari, Tapi Bobot Negeri” Dasco Ajak Debat Diplomasi Naik Kelas

LHK: Stabilitas Pemerintahan Kota Kendari Tetap Terjaga di Tengah Berbagai Isu

Polemik Pernyataan Wamentan soal Petani Happy, Publik Diminta Baca Utuh Konteksnya

Yeka Hendra Fatika Ombusdman jadi Tersangka Perintangan Penyidikan Korupsi

Airlangga Pastikan Tekanan Rupiah Terkendali, Beda 2004-2014

Masyarakat Sumatera Mulai Rasakan Percepatan Pemulihan, Dasco Terus Kawal Satgas

  • About
  • Redaksi
  • Marketing & Advertising
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Email
  • Login
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • POLHUM
  • EKONOMI
  • VIDEO
  • ENTERTAINMENT
  • LUAR NEGERI
  • LIPUTAN DISKUSI
  • LIFESTYLE
  • RESENSI
  • SPORT
  • OPINI
  • INDEKS

Indonesia Visioner - All Rights Reserved