JAKARTA — Panggung politik nasional kembali disuguhi diskusi menarik mengenai arah kebijakan luar negeri Indonesia. Kritik yang dilayangkan mantan diplomat Dino Patti Djalal mengenai frekuensi lawatan internasional Presiden Prabowo Subianto segera memantik percikan tanggapan dari berbagai arah, termasuk dari mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, yang ikut turun gelanggang membela rekam jejak koleganya tersebut.
Namun, di tengah riuh pembelaan dan serangan balik yang sempat dilontarkan oleh Ketua Komisi III DPR Habiburokhman, publik disuguhi arah pandang yang jauh lebih dewasa. Sosok itu tak lain adalah Ketua Harian DPP Partai Gerindra sekaligus Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad.
“Masukan yang substansi akan kami berikan ruang. Tapi pembatasan soal jumlah dan waktu kunjungan, itu tidak substantif,” tegas Dasco.
Langkah Dasco yang menempatkan efektivitas kunjungan presiden sebagai kebutuhan taktis dinilai sangat tepat. Di tengah ketidakpastian geopolitik global dan transisi ekonomi dunia, kehadiran langsung kepala negara di forum-forum strategis internasional bukanlah sekadar seremoni protokoler, melainkan jangkar penting demi mengunci stabilitas investasi dan pasokan domestik.
Ketua Aktivis Nusantara, Romadhon Jasn, melihat dinamika perdebatan ini dengan kacamata masyarakat sipil yang mendambakan diskusi bermutu. Menurutnya, respons yang ditunjukkan Dasco menjadi kompas penting agar publik tidak tersesat dalam perang argumen yang dangkal.
“Sebagai bagian dari masyarakat sipil, kami melihat penjelasan Pak Dasco sangat menyejukkan sekaligus mencerahkan. Menilai keberhasilan diplomasi global hanya dari hitungan angka hari di luar negeri adalah penyederhanaan masalah yang kurang adekuat,” ujar Romadhon kepada media, Rabu (3/6/2026).
Romadhon menambahkan, pembelaan Anies Baswedan terhadap kapasitas intelektual Dino tentu sah-sah saja dalam ruang demokrasi. Kendati demikian, kritik dari para senior diplomat seharusnya berfokus pada kualitas perjanjian internasional yang dibawa pulang, bukan menggeser perdebatan menjadi sentimen personal antarpengamat.
Dunia diplomasi modern bergerak sangat dinamis dan membutuhkan kehadiran fisik untuk membangun kepercayaan antarpemimpin dunia (personal chemistry). Ketika negara-negara lain berebut pengaruh di kancah global, sikap proaktif Indonesia di bawah kepemimpinan Prabowo justru menunjukkan bahwa kita tidak lagi sekadar menjadi penonton pasif.
“Ketika para elite parlemen mampu menjawab kritik lewat pemaparan data yang kokoh, publik mendapatkan keyakinan bahwa marwah luar negeri Indonesia sedang dijaga oleh tangan yang tepat,” pungkas Romadhon menutup pernyataannya.






