Nampaknya panggung pertarungan dunia Internasional dalam sistem pertahanan adalah bagaimana mampu menguasai supremasi informasi, dialah pemenangnya. Pertanyaan yang muncul sekarang ini ialah, pihak mana di NKRI yang mengelola dan mengoperasikan ‘machine or human’ intelijen? Jawabnya adalah Badan Intelijen Negara (BIN).
NKRI sudah punya RPJMN-PJP dan ada pula MP3EI, yang secara teoritik, penyiapan program pembangunan nasional tersebut, tentulah ada dukungan intelijen yang meliput tujuh aspek globalisasi (ekonomi, politik, keamanan, lingkungan, kesehatan, sosial, kultural). Akan tetapi ada beberapa indikator yang mengisyaratkan bahwa dukungan intelijen nasional yang tersedia, sepertinya kurang memadai.
Sektor stratejik di lingkungan birokrat, misalnya jajaran setingkat Kementrian, sepertinya banyak pihak (_decision_ _making_) kurang peduli dengan dukungan intelijen stratejik, hal ini barangkali disebabkan oleh beberapa hal, misalnya; (1) persepsi mereka yang memandang intelijen sebatas kegiatan spionase, (2) trauma terhadap kinerja intelijen di masa lalu, (3) sudah terbiasa membuat program tanpa intelijen stratejik, sebaliknya menggunakan asumsi-asumsi yang dianggap dapat membantu, (4) tidak adanya divisi intelijen yang tersedia untuk mendukung kegiatan perencanaan.
Lantas apakah ini menjadi kesalahan Pemerintah saat ini? Jawabnya *TIDAK*. Konstruksi lembaga intelijen di era orde baru memang tidak membentuk divisi – divisi intelejen di tingkat kementrian, melainkan membentuk divisi pengamanan yang secara teoritik lingkupnya adalah counter intelligence (pam-pers, pam-dok, pam-mat, dst). Sehingga peran dan fungsi BIN masih cenderung negatif responnya dalam strategi pembangunan.
Di zaman milleneal saat ini, dimana multitasking adalah bagian dari cara hidup. Yaitu penanganan informasi dan berkomunikasi. Dua hal inilah menjadi latarbelakang Negara AS membuat terobosan Lembaga Intelijennya dipimpin oleh non militer.
Kami yang juga mengakui termasuk generasi millenneal ini ingin menjaga keutuhan dan kejayaan NKRI. Menginginkan adanya sebuah supremasi Informasi di tubuh Lembaga Intelijen Indonesia.
Dari sekian nama yang ada, sosok Budi Gunawan adalah figur yang memiliki kemampuan mengembangkan fungsi dan peran BIN kedepan. Harapan kami beliau mampu mengembangkan strategi pembangunan dan informasi. Serta memiliki kemampuan komunikasi yang mampu menghilangkan dikotomi sektoral dalam pelaksanaan peran fungsi strategi intelijen kelak.
Pada prinsipnya, tugas pokok intelijen adalah mencegah terjadinya pendadakan (keadaan tiba-tiba), secara klasikal dijabarkan dalam tiga spektrum yaitu political surprise, economic surprise, dan defense surprise.
Dengan pengalamannya di Kepolisian saya rasa Budi Gunawan mampu menangani tiga spektrum tersebut.
Dari pemahaman sederhana tersebut, generasi millenneal ini dapat mengukur kinerja intelijen, apakah mampu mencegah ancaman atau justru tambah gaduh? Dalam dinamika antar kepentingan nasional, atau dinamika multi-nasional.
Penulis :
Azhar Kahfi, SH
Direktur Utama Indonesia Visioner

