JAKARTA – Pemilihan Rektor (Pilrek) Universitas Halu Oleo (UHO) periode 2026–2030 menjadi salah satu kontestasi paling ramai dalam sejarah kampus tersebut. Sebanyak 11 akademisi resmi mendaftarkan diri sebagai bakal calon rektor, mencerminkan tingginya antusiasme sivitas akademika untuk memimpin perguruan tinggi terbesar di Sulawesi Tenggara itu.
Menanggapi perkembangan tersebut, La Ode Hasanuddin Kansi (LHK) meminta Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) untuk mengawal secara ketat seluruh tahapan pemilihan guna memastikan proses berlangsung transparan, objektif, dan bebas dari intervensi.
“Jumlah calon yang cukup banyak menunjukkan tingginya dinamika demokrasi akademik di UHO. Karena itu, pengawasan harus diperkuat agar seluruh kandidat mendapatkan kesempatan yang sama,” ujar LHK di Jakarta, Sabtu (6/6/2026).
Sebelas bakal calon yang telah mendaftarkan diri yakni Prof. Ruslin, Prof. Takdir Saili, Assoc. Prof. Baru Sadarun, Prof. Azhar Bafadal, Prof. Edy Karno, Prof. La Ode Santiaji Bande, Prof. Ida Usman, Prof. Ma’ruf Kasim, Dr. Muliddin, Dr. Herman, dan Prof. Yusuf Sabilu.
Berdasarkan tahapan yang berjalan, seluruh bakal calon telah dinyatakan memenuhi persyaratan administrasi dan akan mengikuti rapat senat terbuka pada 29 Juni 2026. Forum tersebut menjadi kesempatan bagi para kandidat untuk memaparkan visi, misi, serta program kerja yang ditawarkan bagi kemajuan UHO ke depan.
LHK menilai, dengan tingginya perhatian publik terhadap Pilrek UHO, seluruh proses harus dilaksanakan secara profesional dan menjunjung tinggi prinsip tata kelola perguruan tinggi yang baik.
Ia juga menyoroti pentingnya menjaga netralitas seluruh unsur yang terlibat dalam proses pemilihan, termasuk pejabat kampus yang memiliki kewenangan strategis selama tahapan Pilrek berlangsung.
Menurutnya, netralitas merupakan faktor penting untuk menjaga legitimasi hasil pemilihan dan menghindari munculnya polemik yang dapat mengganggu stabilitas akademik di lingkungan kampus.
LHK mengungkapkan bahwa pihaknya berencana menyampaikan sejumlah masukan kepada Kemendiktisaintek terkait pelaksanaan Pilrek UHO, termasuk perlunya pengawasan yang lebih intensif terhadap setiap tahapan seleksi hingga proses pemilihan akhir.
“Harapan masyarakat dan sivitas akademika tentu sederhana, yakni menghadirkan rektor terbaik yang lahir dari proses yang bersih, jujur, dan demokratis,” katanya.
Tahapan Pilrek UHO selanjutnya akan mengerucutkan para kandidat menuju tiga besar calon rektor sebelum memasuki pemilihan akhir untuk menentukan pemimpin UHO periode 2026–2030.






