Oleh: Oumo Abdul Syukur (Pernah Mondok di Pesantren Amal Ikhlas)
Tidak ada kalimat yang bisa mewakili perasaan ini, meski demikian saya harus mencoba sekuat fikiran untuk merangkai beberapa kata agar bisa dibaca oleh Aba dan Mama. Minimal, Aba dan Mama tahu bahwa kami untuk sampai pada posisi sekarang ini adalah hasil dari jerih payah, didikan yang sungguh-sungguh, buah dari kesabaran Aba dan Mama dalam mengasuh kami.
Aba lahir di Bonerate, sebuah perkampungan kecil yang berada di Kepulauan Selayar. Demi mengamalkan ilmunya, ia berlayar jauh meninggalkan sanak familinya untuk bermanfaat bagi banyak orang. “Kapan dan di manapun kita hidup, haruslah terus bermanfaat bagi banyak orang”, beberapa penggalan kalimat nasihat Aba yang masih tersisa di memori kepala.
Sebagimana para da’i pada umumnya, Aba selalu punya suku cadang kesabaran. Keseluruhan aktivitasnya adalah kerja nyata agar santri-santrinya dapat bekal ilmu yang cukup.
Ketulusannya menggunung, dari raut wajahnya terpencar beningĀ ke ikhlasannya dalam berdakwah, teguh sekali sabarnya, konsistensinya dalam ibadah adalah cermin tinggi taqwanya, kerelaan meninggalkan kampung halaman adalah bukti ketulusannya dalam berjihad. Dulu, sesekali waktu saat kami sudah jenuh dengan makan mie instan, Aba selalu menasihati agar menaikkan kadar rasa syukur pada Allah.
Kemarin, saat bertemu beberapa menit dengan Aba dan Mama di Pesantren ada raut rasa bangga dan haru atas perjalanan anak-anak binaannya. Aba menceritakan secara detail semua santri-santrinya yang diantar ke pondok di Jawa atau yang dibina di Amal Ikhlas.
Dari sudut matanya, ada setetes air mata haru. Aba tentu rindu dengan semuanya, sebagaimana orang tua pada umumnya, Aba pasti menyembunyikan diri dari derasnya air mata kenyataan. “Aba bangga dengan semuanya”, begitu Aba mengakhiri.
Sudah sekian tahun saya tidak kunjungi bangunan bersejarah ini, tempat yang meletakkan dasar-dasar ke-Islaman. Tempat yang membentuk kami sebagai petarung, menjadi kader tangguh, dibina agar istiqomah bersikap dalam menghadapi realitas sekeras apapun.
Hampir 14 tahun lebih saya menghilang mengejar ilmu. Memasuki kembali halaman Amal Ikhlas, teringat sahutan dzikir kala doa terlangitkan dengan penuh kekhusyuan. Dengan rasa kantuk yang masih menyengat, semua berjejer mendengar ilmu-ilmu baru yang dimuntahkan Ustadz Haji dkk ba’da Subuh. Juga suara teriakan Mama agar kami segera menyelesaikan tugas yang telah dibagi. Terasa semua memori terbongkar sempurna. Amal Ikhlas adalah “Gua Hira” bagi anak kampung seperti kami pada umumnya. Tempat kami menerima ilmu-ilmu agama, belajar sholat tepat waktu. Semua itu untuk bekal di kemudian hari.
Di hadapan Aba dan Mama yang sudah semakin senja usianya, dengan diam saya memandangi mereka satu persatu. “Mereka punya jasa besar atas perjalanan hidup saya“. Tidak ada kata yang sanggup mewakili perasaan, selain terus berbuat baik agar amal jariah Aba dan Mama selalu mengalir dalam keabadian. Rasa haru, bangga dan syukur juga tidak pernah berhenti untuk melangit luas, dimana dan kapanpun saya selalu merasa beruntung pernah menjadi seorang santri yang dididik langsung oleh Aba dan Mama.
Meski sudah sakit-sakitan Aba selalu semangat saat berceramah. Dari bicaranya terlihat jelas kedalaman ilmu agamanya. Pesan-pesan Ilahi disampaikan dengan bahasa yang kuat, gampang dicerna siapapun. Aba selalu memandang hormat siapapun, tidak pernah sedikitpun merendahkan lawan bicara.
Jika menyelesaikan masalah, selalu dengan cara-cara yang santun dan berwibawa. Aba adalah contoh hidup, darinya kita perlu belajar banyak hal terutama soal kesabaran dalam menghadapai medan dakwah.
Di tengah berjuang melawan sakitnya, kerinduan Aba pada semua santri-santrinya kian hari semakin menggebu.
“Sebelum Aba meninggal, Aba ingin bertemu semua santri-santri Aba. Baik yang Aba antar ke Jawa atau yang pernah tinggal di Amal Ikhlas”. Aba mengucapkan ini dengan nada yang sedikit gemetar. Saya belum pernah sekalipun melihat raut muka Aba seserius saat mengucapkan kalimat tersebut. Sambil mengiyakan permintaan Aba, dalam hati saya berdoa semoga Aba diberi umur yang panjang oleh Allah. Amin ya Robb.
Saat melihat Aba dan Mama, saya tiba-tiba rindu pada dini hari. Harus segera bangun dan bergegas ke masjid. Bergantian keliling membangunkan yang lain, rindu dipukul memakai sajadah, rindu antri mandi, antri makan. Banyak sekali kisah yang meninggalkan pilu tapi juga tawa bahagia.
Semuanya menjadi sebab air mata jatuh perlahan dengan ditemani hati yang kian luruh. Rasa syukur harus lebih luas atas banyak cerita penuh hikmah selama dalam binaan Aba dan Mama.
Dari kedalaman hati, kami harus mengucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya pada Aba dan Mama, pahlawan yang telah memberi kami modal dasar untuk mengarungi kehidupan yang luas, yang telah menjadi jalan tersampaikannya banyak ilmu Allah kepada kami.
Orang dulu bilang, “Hidup ini seni tentang bagaimana caranya untuk memperluas syukur dan memperpanjang sabar”. Aba tidak sekedar bicara, Aba adalah sebaik-baik pemberi contoh bagi semua santrinya. Aba selalu memberi nasihat dengan cara yang paling lembut. Tutur kata Aba dalam menasihati kamiĀ selalu membuat iman terasa semakin kuat.
Kepada Aba dan Mama, saya haqqul yakin seluruh penduduk langit pasti sedang menyaksikan sekecil apapun langkah perjuangan Aba dan Mama dalam memberi yang terbaik bagi kami. Kami doakan dengan sungguh-sungguh semoga Allah mencatat semua kebaikan Aba dan Mama, Allah juga memberi ridho dan berkahnya pada Aba dan Mama. Juga kami doakan semoga Allah memberikan pahala berlipat ganda di akhirat kelak.



