Indonesia Visioner
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • POLHUM
  • EKONOMI
  • VIDEO
  • ENTERTAINMENT
  • LUAR NEGERI
  • LIPUTAN DISKUSI
  • LIFESTYLE
  • RESENSI
  • SPORT
  • OPINI
  • INDEKS
No Result
View All Result
Indonesia Visioner
No Result
View All Result

Perlukah Reformasi Partai Politik?

by Visioner Indonesia
Juli 24, 2020
in Opini
Reading Time: 2min read
Perlukah Reformasi Partai Politik?

Muhammad Sulfian, Ketua Umum BPL HMI Cabang Malang

0
SHARES
131
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Gelombang demonstrasi yang marak terjadi di berbagai wilayah merupakan aksi protes dari aliansi mahasiswa dan masyarakat terhadap agenda pengesahan RUU HIP dan omnibus law (cipta kerja) yang dinilai tidak pro rakyat.

Habermas (1982) dalam teori deliberatif menjelaskan bahwa dalam demokrasi kedaulatan yang tertinggi ada pada rakyat, sehingga sebelum pemerintah memutuskan sebuah kebijakan terlebih dahulu membuka ruang partisipasi atau diskursus publik yang luas bagi warga negara.

Wakil rakyat seharusnya mengedepankan kepentingan dan menyerap terlebih dahulu aspirasi masyarakat di tengah terpuruknya kondisi bangsa akibat Pandemi Covid-19 sebelum memutuskan sebuah kebijakan. Menurut Abdul Mu’ti (Sekretaris Umum PP Muhammadiyah) mengatakan bahwa, “seperti seolah-olah ada yang mengambil kesempatan dalam kesempitan. Ini sesuatu yang tidak seharusnya terjadi (tribunnews.com, 2020)”. Begitupun kebijakan pada saat awal Pandemi Covid-19 yang tumpang tindih antara kebijakan pemerintah pusat dan pemerintah daerah yang meresahkan masyarakat, seperti regulasi Social Distancing/PSBB, PHK besar-besaran, sistem pendidikan dan transparansi anggaran dana Covid-19. Proses pengambilan kebijakan tidaklah lepas dari peran partai politik yang kadernya terpilih menjadi wakil rakyat (eksekutif dan legislatif) melalui pemilihan umum. Hal tersebut jauh dari semangat demokrasi maupun tujuan dari partai politik yang tertuang dalam UU No. 2 tahun 2011 yaitu untuk memperjuangkan serta membela kepentingan rakyat berdasarkan pancasila dan UUD 1945.

“Sebuah partai harus dipimpin oleh ide, menghikmati ide, memikul ide dan membumikan ide (Ir. Soekarno)”. Akan tetapi realita yang terjadi adalah sebaliknya, bukan ideologi dan ide yang menjadi nafas gerak dalam agenda politik, melainkan pragmatisme dan mempertontonkan oligarki. Penyebab kegaduhan kebijakan yang terjadi pada tataran elit disebabkan Karena adanya  conflict of interest (konflik kepentingan) dan penempatan pejabat yang tidak sesuai dengan kompetensinya.

Menurut pakar ilmu politik Prof. Ramlan Surbakti (2020) telah terjadi tragedi legislatif yaitu calon kepala daerah atau anggota lagislatif yang terpilih bukanlah kader asli, namun dari kalangan pengusaha dan artis yang populer, sehingga kaderisasi partai politik mengalami disorientasi. Kaderisasi tidak berorientasi pada peningkatan kualitas kaderisasi secara berkelanjutan akan tetapi pada power seeking.  Terbukti pada pemilu legislatif DPR RI tahun 2019 terdapat sebanyak 14 artis pesohor Indonesia yang berhasil lolos ke parlemen (Kompas.com, 2019). Fenomena tersebut secara tidak langsung mematikan proses kaderisasi partai politik karena yang mendapatkan karpet merah adalah mereka yang punya modal besar dan popularitas, belum lagi ada sebagian masyarakat yang hanya menilai calon wakil rakyat dari NPWP (Nomer Piro Wani Piro) menambah peluang money politik dalam proses pemilihan kepala daerah dan wakil rakyat. Sehingga, hemat penulis perlu dilakukan reformasi sistem partai politik dan menjadi prioritas utama pemangku kebijakan dalam membuat kebijakan demi perbaikan nasib bangsa ke depan.

Dosen FISIP Universitas Indonesia Wardani (2020) mengatakan bahwa reformasi partai politik dapat dimulai dari beberapa aspek penting yaitu, melakukan penataan sistem partai politik, menata pola kaderisasi (mekanisme internal), koneksi yang kuat antara unsur sistem (sistem kepartaian – sistem pemilu – sistem pemerintahan – sistem perwakilan politik) dan partisipasi politik masyarakat dalam mengawasi perilaku dan kinerja partai politik.

Partisipasi aktif masyarakat menjadi kunci sukses dalam pemilihan wakil rakyat, mengingat hasil survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) tentang kepercayaan publik terhadap lembaga-lembaga negara selama pemerintahan Jokowi-JK, partai politik berada pada posisi terendah (katadata.co.id, 2019). Oleh karena itu, partai politik harus segera berbenah agar memperbaiki sistem kelembagaan partai politik yang akan berdampak baik pada kualitas kaderisasi, mencetak kader umat dan kader bangsa serta memiliki track record yang jelas (bukan karbitan) sehingga dapat mengembalikan citra dan kepercayaan publik terhadap partai politik.

 

Previous Post

Soal Temuan BPK, Himsar Jaya Minta Kajari Sarolangun Tidak Diam

Next Post

Himsar Jaya Pertanyakan Status WTP yang Diperoleh Kabupaten Sarolangun

Related Posts

BGN Kaji Efesiensi Anggaran
Artikel

Audit Triliunan dan Rapuhnya Negara: Mengapa Kebocoran Fiskal Terus Berulang?

April 23, 2026
Mengapa Polri Butuh Lebih dari Sekadar Seremoni Hoegeng Awards?
Artikel

Mengapa Polri Butuh Lebih dari Sekadar Seremoni Hoegeng Awards?

April 6, 2026
Default

Menjaga Marwah Bhayangkara: Mengapa Independensi Polri Adalah Harga Mati

Januari 30, 2026
Opini

Menagih Janji di Balik Sepatu Bot Pramono: Mengapa Jakarta 2026 Masih Menjadi Kolam Raksasa?

Januari 24, 2026
Opini

Lumbung Pangan di Balik Jeruji: Saat Penjara Menyuplai Piring Rakyat

Januari 19, 2026
Opini

Mengakhiri Demokrasi Biaya Tinggi:
Pilkada Langsung Itu Gagal: Kenapa Kita Masih Takut Balik ke DPRD?

Januari 5, 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERKINI

Musyawarah Pimpinan Kecamatan Partai Golkar Wongsorejo Tegaskan Konsolidasi dan Penguatan Basis Dukungan

Musyawarah Kecamatan Partai Golkar Rogojampi Perkuat Konsolidasi dan Soliditas Kader

Tantangan Kemenkes: 1 Juta Anak Belum Imunisasi

BPK Temukan 4 Masalah di Program Cek Kesehatan Gratis Kemenkes

Simak Daftar Lengkap Harga Emas di Pegadaian 24 April 2026

Harga Emas Termurah dalam Hampir 3 Minggu, Jual atau Beli?

TERPOPULER

Musyawarah Pimpinan Kecamatan Partai Golkar Wongsorejo Tegaskan Konsolidasi dan Penguatan Basis Dukungan

Musyawarah Kecamatan Partai Golkar Rogojampi Perkuat Konsolidasi dan Soliditas Kader

Tantangan Kemenkes: 1 Juta Anak Belum Imunisasi

BPK Temukan 4 Masalah di Program Cek Kesehatan Gratis Kemenkes

Simak Daftar Lengkap Harga Emas di Pegadaian 24 April 2026

Harga Emas Termurah dalam Hampir 3 Minggu, Jual atau Beli?

  • About
  • Redaksi
  • Marketing & Advertising
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Email
  • Login
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • POLHUM
  • EKONOMI
  • VIDEO
  • ENTERTAINMENT
  • LUAR NEGERI
  • LIPUTAN DISKUSI
  • LIFESTYLE
  • RESENSI
  • SPORT
  • OPINI
  • INDEKS

Indonesia Visioner - All Rights Reserved