Surabaya-Gagasanindonesia.com. Dalam rangka memperingati hari kebangkitan nasional dan hari reformasi, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Surabaya Komisariat Dakwah Sunan Ampel melaksanakan Diskusi lintas organisasi Mahasiswa ekstra kampus (ORMEK) yang diselenggrakan pada hari kamis 21 Mei 2015 Jam 15.30 di lapangan parkir belakang Fakultas Adab UIN Sunan Ampel Surabaya.
Ketua Bidang (KABID) Perguruan Tinggi Kemahasiswaan dan Kepemudaan (PTKP) HMI Cabang Surabaya Komisariat Dakwah Andi Rahman mengungkapkan agenda tersebut mengundang semua organisasi ekstra kampus di lingkungan UIN Sunan Ampel, walaupun ada beberapa ORMEK yang tidak bisa hadir dalam agenda tersebut, namun agenda itu tetap dilaksanakan (21/5/2015) saat diwawancara oleh tim liputan gagasanindonesia.com.
“Kami sudah undang semua ORMEK, agenda ini akan tetap dilaksankan seperti rencana meskipun beberapa ORMEK tidak bisa menghadiri agenda pada hari ini” ujar Andi selaku KABID PTKP HMI Cabang Surabaya Komisariat Dakwah Sunan Ampel sekaligus penyelenggara agenda tersebut.
Acara baru dimulai pukul 16.00 molor dari jadwal sebelumnya, namun meski demikian acara tetap berjalan lancar, dengan pembicara pada diskusi ini adalah Direktur Indonesia Belajar Institut (IBI) Surabaya Marlaf Sucipto dan Koordinator Bibliopolis Book Review (BBR) Surabaya Muhammad Shofa As-Syadzili saat diperkenalkan oleh Azmi selaku Moderator saat membuka diskusi lintas ORMEK ini yang sekaligus merupakan Ketua Umum HMI Cabang Surabaya Komisariat Dakwah Sunan Ampel.
“Acara dilaksanakan dalam rangka memperingati hari kebangkitan nasional dan hari reformasi, dan kami sengaja mengundang teman-teman dari ORMEK lain di kampus ini, karena saya pribadi menginginkan perlunya duduk bersama diantara ORMEK di kampus tercinta ini untuk berdiskusi atau kegiatan yang lain, karena saya melihat ORMEK di kampus kita ini sangat terkotak-kotakkan, sehingga sangat kering dengan kebersamaan diantara keberagaman. Karenanya pada hari ini kami HMI Cabang Surabaya Komisariat Dakwah Sunan Ampel memulai untuk duduk bersama, dan harapannya tidak hanya akan selesai pada pertemuan kali ini, dan perlu dilanjutkan di pertemuan-pertemuan yang lain” papar Azmi saat melanjutkan membuka diskusi tersebut, yang kemudian dipersilahkan kepada pembicara.
Yang pertama menyampaikan paparannya adalah Direktur IBI Surabaya Marlaf Sucipto, poin pemaparannya adalah pentingnya Mahasiswa memiliki dan menyadari identitas kebangsaan, serta mempertahankan idealisme. Serta pentingnya Mahasiswa untuk bergerak bersama dalam rangka mengisi kemerdekaan yang telah dicita-citakan oleh funding father.
“Mahasiswa saat ini hanya fokus pada kelompoknya sendiri tanpa mementingkan kebersamaan, jadikanlah ORMEK sebagai kendaraan bukan tujuan” papar Direktur IBI tersebut saat menyampaikan paparannya.
Selanjutnya Muhammad Shofa Koordinator BBR Surabaya menambahkan paparannya dalam Diskusi tersebut, dia menekankan pentingnya menelisik kembali pemikiran tokoh-tokoh bangsa sehingga bisa mengetahui sejarah sebenarnya hari kebangkitan nasional dan kita kan tahu cita-cita kemerdekaan yang dicita-citakan oleh pahlawan kemerdekaan.
“Kita harus menilisik kembali pemikiran tokoh bangsa kita, untuk mengetahui sejarah sebenarnya hari kebangkitan nasional itu. Tan Malaka dalam Aksi Massa-nya mengatakan Boedi Utomo adalah organisasi paling malas dan lebih mengedepankan kesukuan dibanding persatuan segenap masyarakat di Hindia Belanda”ujarnya.
Koordinator Bibliopolis Book Review itu juga menambahkan keterangannya prihal kontroversi pemilihan hari kelahiran Budi Utomo dijadikan momentum Hari Kebangkitan Nasional. Menurutnya,bila melihat tujuan serta fokus garapan antara Budi Utomo dengan Sarikat Priyayi, yang lebih layak seharusnya yang dijadikan momentum Harkitnas adalah Sarikat Priyayi. Sebab, organisasi bentukan Tirto Adhi Suryo ini fokusnya adalah membantu segenap rakyat jelata untuk dapat menempuh pendidikan hingga pada tahapan pemberian beasiswa bagi yang tak mampu.
“Tak hanya itu saja. Sarikat Priyayi lebih memilih menggunakan bahasa Melayu Lingua Franca yang kelak menjadi benih bahasa pemersatu bagi segenap suku dan bangsa yang ada di Hindia. Beda dengan Budi Utomo yang lebih memilih menggunakan bahasa Belanda dan Bahasa Jawa”tukas aktivis asal Bali ini.
Sebelum mengakhiri pemaparannya, ia juga menegaskan tentang pentingnya menggali kembali literature bangsa agar sebagai generasi muda tahu apa yang mesti dilakukan dalam mengisi kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan. (Andre)

