
Jakarta – Rupiah dibuka melemah dalam pembukaan perdagangan pasar spot hari ini, Kamis (29/1/2026), di tengah sentimen pasar global yang masih volatil menyusul berlanjutnya ketegangan global yang memengaruhi dinamika perdagangan dan keamanan internasional.
Melansir data real time, rupiah spotdibuka melemah 0,27% di level Rp16.751/US$. Pelemahan rupiah pagi ini terjadi di tengah kondisi indeks dolar Amerika Serikat (AS) yang mulai merangsek menguat kembali setelah pelemahan yang signifikan dalam beberapa pekan terakhir serta adanya keputusan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pada Rabu, waktu setempat, yang memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,5%-3,75%.
Sementara di pasar mata uang Asia, penguatan datang dari won Korea Selatan terapresiasi paling signifikan sebesar 0,64%. Disusul yen Jepang 0,23%, dolar Singapura 0,11%, yuan offshore China 0,05%, dan ringgit Malaysia 0,04%.
Selain itu, pergerakan mata uang regional juga cenderung beragam menyusul respons terhadap dinamika terbaru di Amerika Serikat (AS), khususnya terkait arah kebijakan moneter dan perkembangan di bank sentralnya, yang mendorong pelemahan dolar AS dalam beberapa waktu terakhir.
Di tengah kondisi tersebut, isu terkait persepsi independensi di sejumlah bank sentral dunia, termasuk di Indonesia dan AS, turut menambah bobot ketidakpastian bagi pelaku pasar global. Situasi ini membuat investor semakin mencermati sinyal kebijakan dan komunikasi otoritas moneter, terutama yang berkaitan dengan komitmen menjaga stabilitas harga dan nilai tukar.
Dari sisi domestik, pasar keuangan Indonesia juga masih menghadapi tekanan setelah MSCI Inc. menyampaikan peringatan mengenai kelayakan investasi Indonesia serta potensi risiko penurunan status dari emerging market menjadi frontier market, yang memicu penyesuaian risiko oleh investor asing.
Investor asing mencatatkan aksi jual bersih (net sell) keluar dari pasar saham tercatat mencapai Rp6,2 triliun. Ini langsung memicu Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok sebesar 7,35% ke posisi 8.320,55 pada penutupan perdagangan kemarin.
Dalam catatan riset terpisah, analis Goldman Sachs memperkirakan adanya potensi arus keluar pasif dari saham Indonesia pasca penilaian MSCI dapat berkisar antara US$2,2 miliar hingga US$7,8 miliar.
Dari pasar surat utang, respons pasar mungkin tidak dramatis dan panik seperti pasar saham yang sempat mengalami trading halt beberapa kali. Namun, investor di pasar surat utang akan tetap berhitung soal risiko dan menuntut premi risiko lebih tinggi dengan adanya tekanan ini.
Melansir data Bloomberg, investor asing masih mencatatkan aliran dana masuk ke pasar surat utang domestik sebesar US$308,4 juta sejak awal tahun. Pada Senin (26/1/2026), investor global masih mencatatkan pembelian surat utang senilai US$20,9 juta.
Meski begitu, tekanan dari MSCI dan kondisi ekonomi domestik yang memiliki kebutuhan tinggi terhadap arus modal asing berisiko meningkatkan Credit Default Swap (CDS). Meningkatnya persepsi risiko investor di pasar surat utang tercermin dalam CDS. Berbeda dengan peringkat kredit terbitan lembaga pemeringkat rating yang cenderung bergerak lambat, CDS menangkap persepsi risiko secara real time.
Saat ini, CDS Indonesia secara konsisten berada di atas negara sekelompok (peers). CDS sovereign Indonesia tenor lima tahun berada di kisaran 74,78 basis poin, dibandingkan Malaysia di 39,31 bps dan Thailand di 38,90 bps





