Indonesia Visioner
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • POLHUM
  • EKONOMI
  • VIDEO
  • ENTERTAINMENT
  • LUAR NEGERI
  • LIPUTAN DISKUSI
  • LIFESTYLE
  • RESENSI
  • SPORT
  • OPINI
  • INDEKS
No Result
View All Result
Indonesia Visioner
No Result
View All Result

Ario Jipang Dari Blora

by Redaksi
Mei 24, 2015
in Opini
Reading Time: 4min read
0
SHARES
22
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Tanggal 7 Desember 1918, sebuah iring-iringan sangat kecil mengantarkan jenazah seorang buangan ke tempat peristirahatannya yang terakhir di Manggadua Jakarta. Tak ada pidato sambutan. Tak ada yang memberitakan jasa-jasa dan amalnya dalam hidupnya yang begitu singkat. Setelah jenazah dimakamkan, pelayat bersegera pergi meninggalkannya dalam kesendirian dan kesepian tanpa teman dan pujian layaknya seorang pahlawan. Padahal tubuh yang sudah berkalang tanah itu adalah pelopor pribumi untuk melawan penindasan. Namanya berusaha dikubur sedalam-dalamnya oleh pemerintah kolonial demi memadamkan api semangat pemberontakan yang digelorakannya. Siapakah sosok yang sudah terbujur kaku dalam liang kubur itu? Sosok yang karena goresan penanya mampu membuat kuping pemerintah kolonial memerah?.

Nama kecilnya adalah Djokomono, dalam dunia pers ia dikenal dengan nama Tirto Adhi Suryo. Ia lahir di Blora pada 1880. Ayahnya, R.Ng. Haji Muhammad Chan Tirtodhipoero, termasuk salah seorang pegawai kantor pajak di masa kolonial Hindia Belanda. Sejak kecil Djokomono telah kehilangan kasih sayang orang tuanya hingga membuatnya berada dalam pengasuhan neneknya, Raden Ayu Tirtonoto.

Dari neneknya inilah kelak sikap perlawanannya pada kolonial mulai tumbuh seiring bertumbuhnya usia. Masa kecilnya dihabisinya berpindah dari kota yang satu ke kota lainnya. Di Bojonegoro dia ikut dengan neneknya, di Madiun dengan saudara-saudaranya , di Rembang dengan abangnya . Kemudian ia pindah ke Betawi untuk menempuh study di sekolah kejuruan kedokteran, STOVIA saat usianya menginjak 13 atau 14 tahun.

Sejak di STOVIA inilah ia mulai menulis dan mengirimkan berbagai tulisannya ke beberapa media massa yang ada. Tirto Adi Surjo juga membantu media massa Chabar Hindia Olanda, Pembrita Betawi, kemudian menjadi pembantu tetap Pewarta Priangan.

Nama Tirto Adi Surjo mulai melejit saat ia menjadi pembimbing tamu agung dari Kraton Solo, R.M. Ngabehi Prodjo Sapoetro, kala berkunjung ke Banten serta kala ia membongkar kesewenang-wenangan Residen Madiun, J.J. Donner. Lewat tulisan-tulisannya di Pembrita Betawi, Tirto menyerukan pada pemerintah kolonial untuk melakukan penyelidikan terhadap kasus dilengserkannya Brotodiningrat. Dari sinilah kemudian namanya mulai beredar dan disebut-sebut dalam pers putih dan masuk dalam catatan pemerintah pusat kolonial Hindia Belanda karena keberaniannya membongkar Skandal Donner.

Tirto lewat keberaniannya tersebut, sebagaimana dikatakan Pram dalam Sang Pemula-nya ini, mencoba mengajarkan tiga hal pada masyarakat pribumi. Pertama, penggunaan pers untuk membentuk pendapat umum. Kedua, penggunaan pers sebagai alat memperjuangkan hak dan keadilan. Ketiga, menyalakan keberanian menghadapi alat kolonial tingkat tinggi bangsa Eropa.

Dari peran serta jasanya memberikan kesadaran nasional pada pribumi, semuanya dilakukannya lewat media cetak yang digagasnya serta organisasi bentukannya. Soenda Berita, Majalah Mingguan Staatsblad Melayu, Oranje Nassau, Medan Prijaji, Poetri Hindia, Soeara B.O.W, Soeara S.S, Soeara Pegadaian adalah beberapa nama media yang dulunya pernah merasakan tangan dinginnya memajukan pribumi. Bagi Tirto, untuk melawan kolonial Hindia Belanda, bukan zamannya lagi menggunakan alat-alat perang konvensional, melainkan ia harus dilawan dengan memberikan penyadaran pada masyarakat pribumi lewat media cetak dan organisasi. Satu kalimatnya yang bisa dikutip di sini adalah bahwa proses pemerdekaan haruslah dirintis dari dua bilah mata pisau : koran dan organisasi.

Sebagaimana dikatakan Pram dalam buku ini, Tirto adalah anak zaman Nusantara yang masih belum mendapatkan keadilan sejarah. Namanya secara sistematis berupaya dikubur dalam kerak sejarah perjalanan bangsa ini. Ia diasingkan karena perubahan penguasa yang sedikit banyak membatasi ruang gerak geriknya dalam upayanya membangkitkan kesadaran nasional pribumi. Dimasa Hindia Belanda berada di bawah kepemimpinan Gubernur Jenderal Idenburg, Tirto Adi Surjo pada akhirnya harus merasakan namanya pembuangan. Ia diasingkan ke Telukbetung Lampung selama dua bulan lamanya.

Selama masa pengasingannya, Medan Prijaji, sebuah koran cetak yang dikelola, dijalankan, serta diatur pola pemasarannya oleh masyarakat Pribumi menjadi tak terurus. Sepulang dari pembuangannya, ia langsung membenahi perusahaan yang dimilikinya tersebut untuk kemudian bangkit kembali menawarkan gagasan baru tentang Medan Prijaji, yang awalnya mingguan menjadi koran cetak harian. Tirto lagi-lagi masih berdiri tegak dengan gagahnya seakan-akan mengejek Gubernur Jenderal Idenburg dan Pejabat Umum Urusan Masyarakat Pribumi, D.A. Rinkes.

Berbagai upaya dilakukan oleh pemerintah kolonial untuk men-skak mat Tirto dalam berbagai langkahnya lewat Medan Prijaji yang dimilikinya. Bagi pemerintah kolonial, MP menimbulkan kekuatiran dan kegemasan tersendiri lewat berita serta tulisan yang ada di dalamnya. Maka dari itu dimulailah penyusunan strategi dalam mematikan laju pertumbuhan dan perkembangan MP. Di mulai dari pelarangan memasang iklan di koran pribumi itu, hingga banyaknya para finansir Eropa yang menolak memberikan kredit untuknya.

Mulailah MP mengalami kolaps dalam perjalanannya serta mengalami kematian pada tanggal 22 Agustus 1912. Dari sini kemudian perusahaan yang dimiliki oleh Tirto dinyatakan pailit. Ia dinyatakan terbelit hutang yang tak akan mungkin bisa dibayarnya. Maka hukuman yang dijatuhkan pemerintah kolonial atas ketidakmampuannya tersebut, ia harus mengalami masa pembuangan untuk yang kedua kalinya. Dan ia pun harus diasingkan kembali. Kali ini Ambon menjadi tempat pembuangan yang selanjutnya untuknya.

Sejak di Ambon inilah secara sistematis seluruh harta kekayaan yang dimilikinya di sita. Tirto dimiskinkan. Hotel yang dibangunnya, Hotel Medan Prijaji, malah diserobot oleh kawan seperjuangannya sendiri. Disebar berbagai berita tentang ketidak warasannya. Tirto pada akhirnya harus tertatih-tatih, terlunta-lunta, berjalan mondar-mandir menuju rumah dan bangunan yang dulu menjadi miliknya, kini menjadi hak orang lain.

Ketegasan, keteguhan, serta ajaran neneknya untuk tidak mengemis dipeluknya hingga ajal menjemputnya. Tirto pun menghembuskan nafasnya yang terakhir saat dirawat dalam Hotel Medan Prijaji yang sudah berganti nama menjadi Hotel Samirono. Tak diketahui secara pasti apa sakit yang dideritanya. Berita yang tersebar diberbagai media massa hanya menyebutkan, tokoh pemantik kesadaran nasional itu terserang penyakit disentri setelah sebelumnya ia mengalami ‘kegilaan’ dan takut bertemu dengan orang. Stigma inilah yang kemudian menjadi melekat padanya. Tirto di ‘gila’ kan oleh kolonial untuk menghapus dan memadamkan api semangat perjuangannya bagi pribumi.

Itulah sekelumit perjalanan Tirto dengan media cetak yang dimilikinya. Media yang digunakannya untuk membantu segenap masyarakat pribumi yang membutuhkan bantuannya. Lalu organisasi apa saja bentukan Tirto Adi Surjo? Serta bagaimana pula pola gerakannya yang dilakukan lewat organisasi tersebut?. Silahkan menikmati sajian diskusi malam ini. Wassalam…..

Muhammad Shofa*
(Koordinator Bibliopolis Book Review Surabaya)

*Tulisan ini disampaikan dalam #TadarrusBiblio bersama Bibliopolis Book Review pertemuan ke-20 saat mereview buku “Sang Pemula” karya Pramoedya Ananta Toer, tanggal 24 Mei 2015 di Angkringan 57 Jemurwonosari Lebar Surabaya.

Foot note
1. Ario Jipang : Lambang keberanian dan keadilan. Karena hendak melindungi tukang rumputnya yang dipotong kupingnya oleh balatentara Pajang, Ario Jipang masuk dalam perangkap yang sudah disediakan oleh musuhnya, yaitu dalam rangka perebutan mahkota Kerajaan Demak. Sewaktu dalam pertempuran, tubuhnya terkena tusukan tombak hingga membuat isi perutnya terburai keluar. Dengan usus dilibatkan pada sarung keris, di atas kudanya ia masih terus melakukan perlawanan. Meskipun pada akhirnya ia tewas di medan laga, namun keberaniannya menjadi simbol bagi siapapun tentang arti dari sebuah keberanian dan keadilan yang harus dijunjung tinggi.

2. Madiun dengan Saudaranya : R.M.A. Brotodiningrat, Bupati Madiun.

3. Rembang dengan abangnya : R.M. Tirti Adi Koesoemo, Jaksa Kepala Rembang.

Previous Post

Lapenmi Miliki Pemimpin Baru

Next Post

Bambang Soesatyo: Kesepakatan Golkar Seperti Bom Waktu

Related Posts

Mengapa Polri Butuh Lebih dari Sekadar Seremoni Hoegeng Awards?
Artikel

Mengapa Polri Butuh Lebih dari Sekadar Seremoni Hoegeng Awards?

April 6, 2026
Default

Menjaga Marwah Bhayangkara: Mengapa Independensi Polri Adalah Harga Mati

Januari 30, 2026
Opini

Menagih Janji di Balik Sepatu Bot Pramono: Mengapa Jakarta 2026 Masih Menjadi Kolam Raksasa?

Januari 24, 2026
Opini

Lumbung Pangan di Balik Jeruji: Saat Penjara Menyuplai Piring Rakyat

Januari 19, 2026
Opini

Mengakhiri Demokrasi Biaya Tinggi:
Pilkada Langsung Itu Gagal: Kenapa Kita Masih Takut Balik ke DPRD?

Januari 5, 2026
Opini

The Enforcer: Mengapa Publik Semakin Menaruh Kepercayaan pada Langkah Taktis Dasco?

Januari 1, 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERKINI

Menjaga Marwah Ibadah: Pemuda Muslimin Jakarta Utara mendukung usulan Kemenimipas Percepatan Satgas Haji Non-Prosedural

Antusiasme Publik Tinggi, Satgas Haji Polri Diminta Tanpa Ampun Sikat Travel Nakal dan Visa Palsu

Optimisme Pengelolaan Sampah: JAMMA Dukung Transformasi Hilirisasi Gubernur Pramono

Merajut Kembali Persaudaraan Bangsa: Mengapa Dialog Lebih Utama dalam Kasus Jusuf Kalla?

Musyawarah Pimpinan Kecamatan Golkar Purwoharjo Perkuat Konsolidasi dan Arah Strategi Pemenangan

Musyawarah Pimpinan Kecamatan Golkar Singojuruh Perkuat Konsolidasi dan Semangat Kader Golkar

TERPOPULER

Menjaga Marwah Ibadah: Pemuda Muslimin Jakarta Utara mendukung usulan Kemenimipas Percepatan Satgas Haji Non-Prosedural

Antusiasme Publik Tinggi, Satgas Haji Polri Diminta Tanpa Ampun Sikat Travel Nakal dan Visa Palsu

Optimisme Pengelolaan Sampah: JAMMA Dukung Transformasi Hilirisasi Gubernur Pramono

Merajut Kembali Persaudaraan Bangsa: Mengapa Dialog Lebih Utama dalam Kasus Jusuf Kalla?

Musyawarah Pimpinan Kecamatan Golkar Purwoharjo Perkuat Konsolidasi dan Arah Strategi Pemenangan

Musyawarah Pimpinan Kecamatan Golkar Singojuruh Perkuat Konsolidasi dan Semangat Kader Golkar

  • About
  • Redaksi
  • Marketing & Advertising
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Email
  • Login
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • POLHUM
  • EKONOMI
  • VIDEO
  • ENTERTAINMENT
  • LUAR NEGERI
  • LIPUTAN DISKUSI
  • LIFESTYLE
  • RESENSI
  • SPORT
  • OPINI
  • INDEKS

Indonesia Visioner - All Rights Reserved