Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpeleset di zona merah pada perdagangan pagi ini. Pelemahan sejumlah saham membuat IHSG sulit merangsek menuju jalur hijau.
Pada Senin (6/4/2026), IHSG tengah melaju di posisi 6.967,74 dengan melemah 0,84%. Berikut beberapa saham yang melemah dan menjadi beban bagi IHSG:
- PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) turun 9,74%
- PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) turun 9,54%
- PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) turun 8,75%
- PT Multipolar Technology Tbk (MLPT) turun 6,61%
- PT Bank Aladin Syariah Tbk (BANK) turun 4,62%
- PT Nusantara Sawit Sejahtera Tbk (NSSS) turun 4,38%
- PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) turun 3,77%
- PT Bayan Resources Tbk (BYAN) turun 3,76%
- PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) turun 2,03%
- PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) turun 1,92%
Sementara bursa saham Asia bergerak variatif pada perdagangan pagi hari ini. Indeks NIKKEI 225 (Jepang), KOSPI (Korea Selatan), TOPIX (Jepang), Ho Chi Minh Stock Index (Vietnam), dan Straits Times (Singapura), yang berhasil menguat masing–masing 1,65%, 1,16%, 0,92%, 0,44%, dan 0,33%.
Bursa Asia rasanya menafsirkan deadline serangan Amerika Serikat (AS) terhadap Iran diperpanjang hingga Selasa.
Unggahan Presiden AS Donald Trump sulit ditafsirkan, “tetapi tampaknya tenggat waktu serangan AS terhadap infrastruktur Iran telah diperpanjang hingga Selasa,” tutur Kazuhiro Sasaki, Kepala Riset di Phillip Sekuritas Japan.
Pasar menafsirkan hal ini secara positif, “dan itu memberi investor alasan untuk membeli kembali saham yang telah mereka jual,” katanya, mengutip Bloomberg News.
Namun memang, perhatian tetap tertuju pada harga energi dan penutupan Selat Hormuz—jalur perairan yang sangat penting bagi aliran minyak dari Timur Tengah.
“PSituasi tetap cukup rumit bagi investor,” terang Homin Lee, Strategist di Lombard Odier di Singapura.
“Fokus investor akan sepenuhnya tertuju pada aksi militer di kedua sisi Teluk Persia dan apakah lalu lintas kapal di Selat Hormuz dapat membaik lebih lanjut meski ada serangan-serangan ini.”
Investor terguncang oleh pesan–pesan Trump yang sering bertentangan mengenai konflik tersebut, dengan pemimpin AS itu berganti–ganti antara klaim sesekali perang akan segera selesai tetapi kemudian muncul lagi ancaman untuk meningkatkan serangan, termasuk terhadap infrastruktur strategis.






