Jakarta, 1 Agustus 2026 – Badan riset BMI, lengan dari Fitch Solutions Company, memproyeksikan volatilitas harga minyak mentah Brent akan mencapai titik ekstremnya pada kuartal III-2026 dan berangsur normal pada kuartal IV-2026. Proyeksi ini menjadi perhatian serius di tengah gejolak geopolitik yang masih membayangi kawasan Timur Tengah .
Dalam riset terbarunya, BMI merevisi proyeksi rata-rata harga Dated Brent dari sebelumnya US$84 per barel menjadi US$86 per barel pada 2026. Revisi ini dipicu oleh asumsi bahwa negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran tidak berjalan lancar .
BMi memperkirakan kesepakatan awal untuk membuka kembali Selat Hormuz akan tercapai pada kuartal III-2026. Ekspor minyak secara bertahap akan kembali normal sepanjang kuartal terakhir tahun ini, sehingga tekanan harga mulai mereda .
Namun, selama masa transisi tersebut, AS dan Iran masih terlibat dalam aksi militer yang terjadi secara berkala. Meskipun tidak sampai kembali ke perang berskala tinggi, ketegangan ini tetap menjaga premi risiko geopolitik di pasar minyak global .
Volatilitas harga sepanjang Juli 2026 sudah menunjukkan pola yang sesuai dengan proyeksi ini. Harga Brent sempat menembus level US$100,69 per barel pada 23 Juli 2026, sementara WTI naik ke level US$92,19 per barel pada hari yang sama .
Lonjakan harga pada akhir Juli belum cukup untuk menghapus penurunan rata-rata harga minyak secara bulanan, karena harga pada awal Juli berada di level yang jauh lebih rendah pasca meredanya konflik . Namun, tensi perang yang kembali meningkat memicu kenaikan harga minyak dan berada di jalur kenaikan bulanan terbesar sejak Maret .
Gejolak harga minyak ini membawa dampak luas, termasuk bagi perekonomian Indonesia. Pemerintah melalui Kementerian ESDM terus memantau perkembangan pasar minyak internasional secara berkala guna memastikan kestabilan harga dan ketahanan energi nasional . Proyeksi puncak gejolak di Q3 dan mereda di akhir tahun menjadi sinyal penting bagi perencanaan kebijakan energi ke depan .






