Jakarta – Pergerakan rupiah di pasar luar negeri masih defensif. Nilai kontrak Non-Deliverable Forward (NDF) dibuka menguat terbatas 0,06% di level Rp17.253/US$ pada perdagangan pagi ini, Senin (27/4/2026).
Hal ini mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar di tengah kondisi ketidakpastian geopolitik dan tekanan energi yang belum mereda.
Indeks dolar Amerika Serikat (AS) terhadap enam mata uang utama dunia kembali tercatat menguat 0,81% ke 99,32, seiring kembali naiknya harga minyak mentah lantaran negosiasi AS dan Iran jalan di tempat.
Harga minyak jenis Brent melonjak hingga 2,3% ke level US$107,73 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di kisaran US$96.
Meski gencatan senjata masih bertahan sejak awal April, blokade di Selat Hormuz oleh AS dan Iran membuat titik perlintasan energi utama tersebut praktis tidak bisa dilalui.
Tekanan pada harga minyak mentah merembet pada pergerakan mata uang di kawasan Asia. Dari pasar yang sudah buka, dolar Singapura memimpin pelemahan dan terdepresiasi 0,14%, disusul oleh yen Jepang 0,13%, dan yuan offshore 0,05%.
Sementara, baru dolar Hong Kong dan ringgit Malaysia yang terlihat defensif dengan penguatan tipis masing-masing 0,01%.
Dari dalam negeri, belum banyak katalis yang mampu memperkuat posisi rupiah pada pekan ini di tengah tingginya tekanan eksternal.
Kombinasi penguatan dolar AS dan lonjakan harga energi menciptakan tekanan ganda yang sepertinya tidak mudah diimbangi dengan intervensi jangka pendek.
Dalam kondisi seperti sekarang, pasar cenderung menahan posisi, terlihat dari pergerakan di pasar offshore yang menguat terbatas.
Sebab, gangguan distribusi energi akibat perang Timur Tengah menyebabkan kenaikan harga minyak mentah yang pada akhirnya semakin memperkuat ekspektasi inflasi global.
Hal ini kemudian membuat bank sentral utama, seperti The Fed, kembali menahan suku bunga tinggi.
Deputi Gubernur Federal Reserve (The Fed) Christopher Waller, beberapa waktu lalu menyatakan sikap hati-hati terkait perlunya pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat. Ia memperingatkan adanya risiko dampak inflasi yang berkepanjangan akibat konflik tersebut.
Pejabat The Fed lainnya juga telah memberikan sinyal bahwa mereka lebih memilih untuk mempertahankan suku bunga tetap stabil dalam pertemuan pekan ini.
Dengan begitu, imbal hasil obligasi pemerintah AS pun diproyeksikan tetap bertahan tinggi, dan semakin memperlebar diferensial suku bunga dengan negara berkembang seperti Indonesia.
Bagi rupiah, hal ini dapat menyebabkan tekanan outflow kembali berlanjut. Investor global dalam kondisi risk-off cenderung mengalihkan portofolio ke aset safe haven berbasis dolar.
Dalam konteks ini, Bank Indonesia (BI) melakukan penyesuaian bunga pada instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menarik minat investor. Selain itu, BI juga menambah frekuensi lelang menjadi dua kali dalam sepekan, setiap Rabu dan Jumat.
BI menyebut Arus modal asing yang masuk ke pasar SRBI sepanjang April tercatat sebesar Rp29 triliun. Inflow tersebut menggenapi posisi instrumen SRBI yang per 21 April tercatat Rp885,41 triliun. Selama kuartal I-2026, BI setidaknya telah melakukan 19 kali lelang SRBI.
Imbal hasil SRBI tercatat terus menanjak ke hampir 6% dan mencatatkan posisi tertinggi sejak Juni 2025, berdasarkan data dari BI yang dihimpun Bloomberg per 24 April 2026.
Selain itu, intervensi di pasar valas dan pembelian SBN di pasar sekunder juga masih terus dilakukan, meski efektivitasnya akan sangat ditentukan oleh konsistensi dan koordinasi kebijakan yang lebih luas.
Akan tetapi, di tengah pertumbuhan ekonomi dunia yang mulai menunjukkan tanda perlambatan, seperti pemangkasan proyeksi Bank Dunia menjadi 4,7% serta adanya inflasi yang berpotensi terdorong naik akibat imported inflation dari energi, pilihan kebijakan menjadi semakin terbatas.
Dalam jangka pendek, rupiah kemungkinan masih akan bergerak dalam bias melemah dengan volatilitas tinggi, terutama akibat kondisi geopolitik belum mereda dan tingginya harga minyak. Pekan lalu, rupiah sempat menembus level terendah baru di atas Rp17.300/US$.
Sejumlah bank menjual rupiah masih di atas Rp17.200-an/US$. Bank BCA hari ini mematok rupiah untuk transaksi digital Rp17.285/US$, sementara untuk transaksi fisik Rp17.440/US$.
Sementara, pekan lalu Bank CIMB Niaga menetapkan kurs jual Rp17.390/US$, Bank UOB Rp17.506/US$, dan Bank Mandiri Rp17.320/US$.






