Bandar Lampung, 15 Agustus 2026 – Institut Teknologi Sumatera (Itera) memperkenalkan teknologi pengolahan limbah berbasis alam yang disebut constructed wetland kepada para santri Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur’an Assahil di Desa Tanjung Wangi, Lampung Timur. Kegiatan ini merupakan bagian dari pengabdian masyarakat yang melibatkan dosen dan mahasiswa KKN Rekognisi 2026 .
Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM), Indah Yusliga Sari Purba, menjelaskan bahwa teknologi constructed wetland meniru proses alami lahan basah dalam mengolah air limbah dengan memanfaatkan media filter, mikroorganisme, dan tanaman. Para santri diajak mempraktikkan langsung pembuatan sistem pengolahan limbah, khususnya dari aktivitas laundry di pesantren, menggunakan vegetasi seperti bunga tasbih dan eceng gondok .
“Kami ingin mengenalkan teknologi sederhana dan berkelanjutan yang dapat diterapkan secara mandiri di lingkungan pesantren,” ujar Indah. Selain praktik, tim PkM juga menyerahkan buku panduan agar sistem pengolahan limbah dapat terus dikembangkan oleh para santri setelah pendampingan berakhir .
Pesantren sebagai Garda Terdepan Ekoteologi
Dorongan pengelolaan limbah di pesantren sejalan dengan gerakan ekoteologi yang semakin gencar digaungkan oleh Kementerian Agama. Konsep ekoteologi menempatkan kelestarian alam sebagai bagian integral dari spiritualitas Islam .
Pimpinan Pondok Pesantren Darunajah Jakarta, KH. Ahmad Mahrus Iskandar, menegaskan pentingnya menjadikan pesantren sebagai garda depan gerakan ekoteologi nasional. Indonesia yang dianugerahi kekayaan ekologis yang melimpah seharusnya melahirkan kesadaran lingkungan sejak dini di lingkungan pesantren. Beliau mencontohkan praktik yang telah dilakukan di Darunajah, mulai dari pemilahan sampah, penggunaan air yang efisien, hingga sistem penyiraman otomatis untuk mendukung area penghijauan .
Menteri Agama Nasaruddin Umar juga berkomitmen memperkuat gerakan ekoteologi di pesantren sebagai langkah strategis mengintegrasikan ajaran agama dengan pelestarian lingkungan. Menurutnya, pesantren memiliki posisi unik sebagai lembaga pendidikan 24 jam yang efektif membangun kesadaran ekoteologi melalui praktik keseharian santri. “Kita ingin pesantren menjadi salah satu contoh gerakan ekoteologi. Nilai menjaga alam merupakan bagian dari ajaran agama yang harus diwujudkan dalam tindakan nyata,” ujar Menag .
Dampak Ekonomi dan Lingkungan
Selain aspek lingkungan, pengelolaan limbah di pesantren juga berdampak pada kemandirian ekonomi. Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M), Sarmidi Husna, menjelaskan bahwa pendampingan pengelolaan sampah berbasis nilai keagamaan di 15 pesantren telah menghasilkan pemasukan sekitar Rp1–1,5 juta per bulan dari pengolahan sampah organik menjadi maggot untuk pakan lele dan ayam, serta penjualan sampah anorganik daur ulang .
Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela juga mendorong pesantren untuk menjadi garda terdepan dalam pengelolaan sampah. Ia optimis bahwa limbah organik yang melimpah di pesantren dapat diubah menjadi barang bernilai ekonomi, seperti kompos dan produk daur ulang lainnya. “Kami berharap pesantren dapat menciptakan santri yang tidak hanya unggul dalam ilmu agama dan akhlak, tetapi juga peka terhadap isu-isu global, termasuk krisis lingkungan,” ujarnya .






