
JAKARTA – PT Pertamina (Persero) menempatkan diri di puncak daftar Fortune Indonesia 100, penghargaan yang mengumpulkan 100 perusahaan berkinerja keuangan terbaik di Tanah Air. Pengakuan ini mempertegas posisi Pertamina sebagai pemain sentral dalam perekonomian dan sektor energi nasional.
Corporate Secretary Pertamina, Arya Dwi Paramita, menyatakan bahwa pencapaian tersebut mencerminkan kerja konsisten perusahaan dalam mendukung kedaulatan energi. “Apresiasi ini mencerminkan komitmen Pertamina dalam bekerja dan menghasilkan kinerja yang positif, serta menjaga kedaulatan energi di Indonesia,” ujar Arya di sela acara Fortune Indonesia 100 Gala di Jakarta, Jumat (12/9).
Secara operasional, Pertamina melaporkan capaian signifikan pada paruh pertama 2025. Produksi minyak dan gas tercatat mencapai 1 juta barel setara minyak per hari (MBOEPD), sementara distribusi energi perusahaan terus didorong hingga ke wilayah pelosok untuk menjaga pasokan bagi rumah tangga dan industri.
Dari sisi fiskal, kontribusi Pertamina terhadap penerimaan negara juga menonjol: sepanjang periode terakhir perusahaan menyumbang Rp225,6 triliun dalam bentuk dividen, pajak, dan penerimaan bukan pajak. Angka ini menegaskan peran Pertamina sebagai tulang punggung aliran penerimaan negara.
Laporan Fortune mencatat pendapatan Pertamina pada 2024 sebesar Rp1.200 triliun, tertinggi di antara perusahaan yang masuk daftar. COO IDN Media, William Utomo, menyebut daftar ini sebagai tolok ukur daya saing korporasi nasional. “Daftar ini telah menjadi rujukan penting untuk mengukur performa perusahaan di negeri ini,” kata William. “Capaian itu harus disambut dengan kebijakan yang memperkuat tanggung jawab sosial dan keberlanjutan,” ujar Romadhon Jasn, Direktur Gagas Nusantara, Sabtu (13/9) di Jakarta.
Meski data keuangan kuat, tantangan strategis menunggu. Pertamina berada di persimpangan antara mempertahankan produksi migas dan mempercepat investasi di energi baru terbarukan (EBT). Target nasional Net Zero Emission 2060 menuntut langkah nyata, bukan sekadar retorika, dalam pengurangan intensitas karbon dan transformasi bisnis.
Aspek investasi jadi sorotan berikutnya: publik menuntut transparansi alokasi belanja modal (capex) dan rencana realisasi proyek hijau seperti SAF, proyek hidrogen, dan pembangkit terbarukan. Instrumen pembiayaan hijau dan kemitraan internasional dinilai krusial untuk memastikan transisi tidak mengorbankan ketahanan pasokan. “Pertamina harus menyeimbangkan performa finansial dengan strategi transisi yang jelas dan terukur,” ujar Romadhon Jasn.
Kelompok lingkungan dan sejumlah pengamat juga mendesak laporan jejak emisi yang lebih rinci serta target pengurangan yang terikat waktu. Selain itu, ada tekanan agar manfaat ekonomi dari kinerja besar Pertamina dirasakan lebih luas, terutama di wilayah penghasil energi yang selama ini kurang mendapat pembagian nilai tambah.
Publik berharap bahwa posisi puncak di Fortune 100 bukan sekadar puncak sesaat, melainkan momentum perubahan: mengubah laba menjadi investasi hijau, dan pengaruh menjadi kepemimpinan yang bertanggung jawab. “Pertamina harus meneguhkan perannya sebagai lokomotif transisi yang adil, di mana kesejahteraan rakyat dan keberlanjutan lingkungan berjalan seiring,” terang Romadhon Jasn.
Akhirnya, tantangan bagi Pertamina adalah menerjemahkan pengakuan korporat menjadi program konkret: roadmap capex hijau, target emisi yang terukur, serta mekanisme transparansi pengelolaan kontribusi negara. Jika langkah itu terlaksana, prestasi di Fortune 100 akan bermakna jauh melampaui angka menjadi bukti bahwa kedaulatan energi dapat dicapai tanpa mengabaikan masa depan lingkungan dan rakyat. “Ini saatnya capaian finansial dikawal dengan komitmen transformatif yang nyata,” pungkas Romadhon.





