JAKARTA – Awal tahun 2026 menjadi periode ujian berat bagi PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo. Belum genap sebulan nakhoda baru, Achmad Muchtasyar, menduduki kursi Direktur Utama, perusahaan pengelola pelabuhan nasional ini langsung dihujani kritik tajam dari berbagai lini, mulai dari lembaga pemeringkat internasional hingga audit negara atas beban pekerjaan rumah dari periode sebelumnya.
Sorotan paling keras datang dari Moody’s Ratings yang mengubah outlook Pelindo dari stabil menjadi negatif pada Februari 2026. Di dalam negeri, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) juga memberikan catatan tebal terkait efektivitas investasi pada sejumlah Proyek Strategis Nasional (PSN). Proyek raksasa seperti Pelabuhan Kijing yang menelan investasi hingga Rp 5 triliun dan Pelabuhan Kuala Tanjung dianggap belum memberikan imbal balik (return) optimal terhadap laba konsolidasi pasca-merger, sehingga membebani neraca keuangan perusahaan.
Direktur Gagas Nusantara, Romadhon, menilai bahwa tekanan yang dialami Pelindo saat ini adalah konsekuensi logis dari fase transisi besar menuju integrasi logistik yang lebih mapan. Menurutnya, kritik dari lembaga internasional maupun audit negara merupakan instrumen kendali agar manajemen baru tidak kehilangan arah dalam mengelola aset strategis negara. “Kritik ini harus dibaca sebagai navigasi penting bagi Dirut baru untuk memetakan kembali skala prioritas investasi agar tidak menjadi beban finansial jangka panjang,” ujar Romadhon saat dihubungi, Sabtu (11/4).
Di sisi lain, anggota legislatif di Komisi VI DPR RI juga sempat mempertanyakan realisasi efisiensi merger yang dinilai belum signifikan mendongkrak laba secara drastis dibandingkan era pra-2021. Hal ini menjadi tantangan besar bagi Achmad Muchtasyar untuk membuktikan bahwa penyatuan Pelindo bukan sekadar konsolidasi administratif, melainkan transformasi nilai tambah yang nyata bagi efisiensi logistik nasional.
Romadhon berpendapat, publik perlu melihat Pelindo secara helikopter sebagai infrastruktur dasar atau ‘vitamin‘ bagi ekonomi nasional, bukan sekadar entitas pencari profit jangka pendek. Ia menekankan bahwa pembangunan pelabuhan di wilayah strategis baru seringkali membutuhkan waktu inkubasi yang panjang untuk menciptakan ekosistem industri di sekitarnya. “Pelindo adalah tulang punggung distribusi, maka dukungan terhadap stabilitas manajemen baru menjadi krusial agar arus logistik nasional tidak ikut goyah akibat sentimen negatif pasar,” jelas Romadhon.
Secara operasional, data menunjukkan adanya pertumbuhan arus peti kemas sebesar 5 persen pada tahun 2025, yang didorong oleh geliat ekonomi di kawasan IKN. Pencapaian ini dianggap sebagai modal kuat bagi Muchtasyar untuk melakukan renegosiasi kepercayaan dengan para pemangku kepentingan global dan membuktikan keandalan layanan pelabuhan Indonesia.
Terkait perubahan outlook dari Moody’s, Romadhon melihat hal tersebut lebih dipicu oleh faktor eksternal kebijakan makro pemerintah terkait dana abadi Danantara, ketimbang performa internal Pelindo sendiri. Ia menyarankan manajemen untuk lebih proaktif menjelaskan mitigasi risiko dan independensi keuangan kepada investor agar spekulasi tidak liar berkembang. “Kepastian tata kelola di bawah pimpinan baru akan menjadi jawaban paling elegan untuk meredam kekhawatiran lembaga pemeringkat terhadap kemandirian keuangan perusahaan,” kata Romadhon.
Kini, beban pembuktian ada di tangan Achmad Muchtasyar untuk mengoptimalisasi “aset tidur” warisan manajemen sebelumnya. Dengan latar belakang teknokrat yang kuat, ia diharapkan mampu menyinkronkan antara target laba yang diminta DPR dengan fungsi pembangunan yang diamanatkan pemerintah melalui PSN yang sedang berjalan.
Sebagai penutup, Romadhon mengingatkan bahwa kritik keras di awal tahun ini justru merupakan momentum bagi Pelindo untuk melakukan penguatan struktur dan pembenahan internal. Ia mengajak semua pihak untuk tetap objektif dalam mengawal kinerja BUMN pelabuhan ini demi kepentingan daya saing logistik Indonesia di mata internasional. “Mari tempatkan Pelindo sebagai aset yang harus dijaga bersama, karena keberhasilan manajemen baru dalam melewati badai kritik ini adalah kemenangan bagi ekosistem maritim kita,” pungkas Romadhon.






