Jakarta – Satu hari menjelang Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI), tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menguat pada perdagangan pagi ini. Rupiah dalam jalur penguatan secara beruntun sejak kemarin.
Rupiah spot dibuka menguat 0,23% ke posisi Rp17.130/US$, tertopang oleh situasi perang Timur Tengah yang mulai terjeda dengan sepakatnya Iran bergabung dalam negosiasi baru dengan AS. Posisi rupiah pagi ini memimpin di zona hijau.
Indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama sedikit tergelincir 0,02% ke 98,07 setelah harga minyak WTI turun 1,92% menjadi US$87,89 per barel. Senada, minyak Brent juga ikut turun 1.05% ke US$94,48 per barel, meski masih bertahan di atas nilai asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 yang berada di US$70 per barel.
Dari kawasan, pergerakan mata uang cenderung beragam. Selain rupiah, penguatan juga datang dari dolar Taiwan menguat 0,16%, disusul ringgit Malaysia 0,1%, baht Thaliand 0,07%, won Korea Selatan 0,05%, yuan China 0,02%, peso Filipina dan yuan offshore masing-masing 0,01%.
Sebaliknya, yen Jepang melemah terbatas 0,08%, dolar Singapura 0,05%, dan dolar Hong Kong 0,03%.
Dari pasar domestik, sejumlah sentimen akan membayangi pergerakan pasar hari ini. Dari pasar saham, keputusan MSCI yang melanjutkan pembekuan rebalancing indeks untuk konstituen dari bursa saham Indonesia berisiko menjadi sentime negatif
Pada pembukaan pasar saham pagi ini, IHSG terkoreksi 0,45% ke 7.560. Tak berselang lama, pelemahan menjadi lebih tajam menjadi 0,66% ke 7.544.
Dari pasar obligasi, imbal hasil tenor pendek dan menengah tercatat naik tipis, mendandakan aksi jual yang relatif terbatas. Tenor 1 tahun mencatatkan kenaikan imbal hasil 0,7 bps ke 5,64%, disusul tenor 2 tahun 0,8 bps ke 5,89%, tenor 3 tahun 0,6 bps ke 6,04%, tenor 4 tahun naik 0,6 bps ke 6,29%.
Sementara tenor 5 tahun relatif stabil di 6,3% meski masih digancar mahal oleh investor. Begitu juga dengan tenor acuan 10 tahun tercatat turun 0,6 bps ke 6,59%.
Di sisi lain instrumen stabilisasi moneter yang dikeluarkan oleh BI, Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), ikut menopang penguatan rupiah dua hari terakhir ini.
Dalam lelang SRBI pada Jumat (17/4/2026), total penawaran yang masuk mencapai Rp50 triliun, meski BI hanya menyerap Rp19 triliun.
Minat terbesar terkonsentrasi pada tenor 12 bulan. Dari total penawaran, sebanyak Rp40,7 triliun masuk pada tenor ini. BI pun menyerap Rp17 triliun, lebih banyak daripada tenor 6 bulan senilai Rp1,5 triliun, dan 9 bulan Rp500 miliar.
Sementara di pasar obligasi, arus masuk pada Kamis (16/4/2026) tercatat sebesar US$257 juta. Meski secara pergerakan imbal hasil masih cenderung beragam.
Peran BI dengan memperbanyak frekuensi lelang SRBI menjadi dua kali sepekan menjadi upaya dalam menjaga daya tarik aset rupiah.
Sebagai catatan, investor asing tercatat terus mengakumulasi SRBI sejak awal 2026. Kepemilikan pada Maret sempat turun 4,56% menjadi Rp143,91 triliun dari posisi Februari Rp150,79 triliun.
Posisi investor asing di SRBI pada November 2025 hanya Rp86,66 triliun, lalu melonjak pada Desember menjadi Rp114,05 triliun, dan Januari naik menjadi Rp121,9 triliun.






