Oleh : Rahmad Nasir
November adalah bulan yang ditunggu orang-orang yang nongol ke bumi di bulan ini. Orang-orang November begitu misterius yang kusyu mencintai dalam kebekuan dan diam. Di bulan inilah beberapa mantan memutuskan hubungan dengan saya dengan cara yang beragam.
Si Anu yang memutuskan dengan tamparan yang cukup keras sambil bilang “brengsek”, saya lalu tersenyum sedih mengalami nasib buruk itu. Si Ani malah mengirim sepucuk surat lewat teman dengan tulisan khas yang sangat indah, maklum dia ustadzha yang sangat alim. Tulisannya halus namun menyayat perlahan qolbu. Teman saya malah bergembira ria sambil menari-nari di depan kusamnya muka ini. Si Ani malah membawa pasangan barunya menemui langsung diri ini sambil memeluk mesra pinggang lelaki barunya dengan ucapan “maaf kak, dia lebih baik dari kak”. Mereka berlalu begitu saja meninggalkan diri yang terpaku di altar jembatan.
Mungkin saya memang brengsek dengan kejahatan luar biasa bernama “Pemberi Harapan Palsu alias PHP” sehingga perlahan gadis-gadis manis itu meninggalkan saya dengan caranya masing-masing. Saya hanya tersenyum menyaksikan nasib cinta yang tak karuan. Mengobrak-abrik perasaan adalah hoby yang justru menjungkalkan saya dari tujuan membangun mahligai cinta yang hakiki. Saya lalu teringat dengan defenisi cinta monyet dari senior saya bahwa cinta monyet adalah cinta yang bergelantung dari satu dahan ke dahan yang lain. Mungkin saja mirip jurus kuyuk melempar buah milik Wiro Sableng Pendekar Kapak Naga Genik 212.
Kira-kira begitulah di bulan November, meski beberapa terjadi di luar bulan November namun tidak sepahit bulan November. Kendati demikian, saya sangat menghargai mereka sebagai monumen sejarah yang masih terpahat rapih dalam taman hati ini. Untuk mengenang mereka saya punya beberapa cara yang bervariasi, maklumlah perasaan cinta tak segampang menguap hilang begitu saja. Kata orang zaman now “saya belum bisa move on dari beberapa mantan terindah itu”.
Lemari museum saya berjejer foto barisan para mantan mulai dari first love hingga menjelang pernikahan saya. Mereka hanyalah jodoh orang lain yang sengaja Tuhan titipkan pada saya dan alhamdulillah tugas penjagaan itu saya laksanakan dengan sebaik-baiknya. Entahlah, apa saya juga adalah jodoh orang lain yang Tuhan titipkan untuk mereka? Tapi dalam logika penjagaan sebenarnya sang Adam lah yang mengambil peran itu. Satu di antara foto mantan saya letakkan di meja belajar tempat memproduksi tulisan-tulisan ringan saya sambil mematikan lampu dan menyalakan lilin sunyi pertanda saya begitu sedih atas nasib buruk yang menimpa.
Satu lagi foto gadis berambut ikal perawakan hitam manis itu saya letakkan di halaman rumah saya tempat tumbuh bunga-bunga indah yang dirawat selama ini sambil menabur potongan halus bunga-bunga lantas beberapa tetes air mata pun tumpah ruah tak karuan. Orang rumah pun menyambut suasana haru itu dengan lagu “17 November hari terakhir cintaku pada dirimu” sebagai upaya mendramatisir suasana.
Berbeda dengan teman saya yang sepanjang hidupnya menjombo karena sering ditolak kaum hawa. Padahal perawakannya tampan. Apa yang harus dikenang? Beliau hanya bisa mengenang objek-objek hawa yang menjadi incaran dan hayalan ilusi dalam benaknya sambil telan ludah seperti kucing kelaparan melihat ayam goreng yang tersimpan dalam lemari kaca. Mungkin nasibnya kayak “Film Malam Minggu Miko” karya Raditya Dika yang malam mingguannya hanya di rumah dengan kelakuan-kelakuan konyolnya.
Malam minggu baginya adalah masa penjara karena tersiksa oleh pasangan muda mudi yang asyik memadu kasih sementara dirinya hanya bermesraan dengan bantal hayalan, games di HP layar sentuhnya serta berbakti kepada kedua orang tuanya. Teman saya yang jomblo sepanjang hayat itu sebenarnya memiliki satu keuntungan yakni tidak punya beban masa lalu, selain itu tidak banyak mengeluarkan energi untuk menjaga dan merawat jodoh orang. Justru beliau sedang disiapkan untuk jodohnya sendiri.
Di akhir November 2017 ini saya lalu berfikir untuk melaksanakan upacara mengenang mantan dengan cara yang berbeda yakni mengurung diri di dalam kamar sambil mendengarkan tembang kenangan Malaysia lalu menghayati bait demi bait penggalan syairnya. Tangan saya terus menggerakan tasbih-tasbih cinta dalam menguatkan batin yang terlampau perih jika mengingat masa lalu. Ritual ini berlangsung hingga tengah malam dan dilanjutkan dengan sembahyang malam dalam rangka mendoakan kesuksesan dan kebahagiaan sang mantan.
Untuk menguatkan batin, saya memutuskan untuk mendownload lagu-lagu kebangsaan seperti “Hari Merdeka”, “Maju tak gentar” dan lain sebagainya sebagai upaya menyemangati diri dan melepaskan diri dari belenggu mantan yang terus menghantui alam fikiran serta terus mengoyak-ngoyak batin saya. Ada lelucon yang sering saya temui dari teman-teman saya adalah saat mereka membangun hubungan asmara, lantas mengatakan bahwa aku tak bisa hidup tanpamu namun saat menjadi mantan ternyata mereka masih hidup. Satu lagi cara mengenang mantan dari teman saya adalah mengabadikan nama mantannya dalam skripsinya, ini lebih menyakitkan karena telah memasukan nama mantannya dalam karya ilmiah yang bukan fiksi. Lebih-lebih, skripsinya ditaruh di perpustakan kampus, perpustakaan rumah, rumah dosen pembimbing bahkan diupload di perpustakaan digital/online dan dapat diakses seluruh dunia, apa kata dunia ternyata nama yang tertulis di karya skripsi berbeda dengan nama yang tertulis di buku nikah. Dasar takdir.
Mungkin anda bisa saja menjadikan saya atau teman saya yang saya ceriterakan sebagai tauladan dalam mengenang mantan-mantan yang pernah mewarnai dinamika cinta hidup anda. Tapi ingat harus taat asas “ATM/Amati Tiru Modifikasi” jika tidak mau disebut sebagai plagiat. Hehe.

