Jakarta, 31 Agustus 2026 – Presiden Prabowo Subianto diyakini memahami secara persis berbagai dinamika politik yang berkembang di sekeliling pemerintahannya, termasuk dugaan adanya pihak-pihak yang berupaya melemahkan atau bahkan menjatuhkan kekuasaannya . Namun, hingga kini ia belum mengambil langkah politik secara terbuka terhadap pihak-pihak yang diduga berseberangan dengannya .
Pernyataan tersebut merupakan analisa pengamat intelijen dan geopolitik, Amir Hamzah. “Prabowo tahu persis siapa yang ingin menjatuhkan. Persoalannya, mengapa sampai sekarang belum bersikap secara terbuka?” ujar Amir, dikutip Senin (31/8/2026) .
Sorotan pada Pernyataan Budi Arie dan Dinamika “Sindikasi SSB”
Salah satu perkembangan yang menjadi sorotan adalah pernyataan Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi, yang dikaitkan dengan isu keberlangsungan kekuasaan hingga 2029. Pernyataan tersebut menjadi perhatian karena dikaitkan dengan konsolidasi kelompok-kelompok politik dan relawan .
Dalam konteks itu, Amir Hamzah juga menyoroti adanya berbagai pertemuan dan konsolidasi kekuatan politik yang dikaitkan dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi). Ia menduga terdapat dinamika politik yang melibatkan sejumlah kelompok, termasuk partai politik dan jaringan relawan. Bahkan, Amir menggunakan istilah “sindikasi Solo, Singapura, dan Bandung” (SSB) untuk menggambarkan dugaan jaringan kekuatan yang menurut analisisnya perlu dicermati .
Hubungan Jokowi-Prabowo dan Kompleksitas Politik
Lebih jauh, Amir Hamzah menilai hubungan politik antara Jokowi dan Prabowo saat ini tidak dapat lagi dilihat secara sederhana. Berbagai perkembangan politik memunculkan pertanyaan mengenai apakah hubungan kedua tokoh tersebut masih berada dalam satu garis kepentingan politik atau justru mulai mengalami perenggangan .
Amir mengingatkan agar semua pihak tidak melihat situasi secara hitam-putih. “Ada dinamika, ada kepentingan, dan ada perubahan konstelasi kekuatan,” katanya . Menurutnya, Prabowo diyakini memahami peta kekuatan politik tersebut. Sikapnya yang belum melakukan tindakan politik secara drastis dinilai bukan berarti tidak mengetahui persoalan yang sedang berkembang. Sebaliknya, Prabowo disebut sedang menghadapi berbagai faktor yang membuatnya harus berhitung secara cermat sebelum mengambil keputusan besar .
Senada dengan itu, analis komunikasi politik Hendri Satrio sebelumnya juga menilai bahwa Prabowo sebenarnya menyadari adanya pihak-pihak yang menginginkannya lengser sebelum masa jabatan berakhir. Ia menyebut bahwa ancaman paling nyata bagi Prabowo justru mungkin datang dari dalam koalisi pemerintahannya sendiri .
“Saya paham dengan moto ‘dengan iman dan akhlak saya menjadi kuat, tanpa iman dan akhlak saya menjadi lemah’, rekan-rekan terus melakukan latihan sesuai dengan ikrar yang tadi dibacakan, mempersiapkan diri, terus berlatih, berdisiplin untuk kemudian betul-betul bisa tampil, di satu sisi tentunya membela Muhammadiyah, namun di sisi lain rekan-rekan juga tidak lelah untuk berlatih,” ucap Kapolri.






