Indonesia Visioner
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • POLHUM
  • EKONOMI
  • VIDEO
  • ENTERTAINMENT
  • LUAR NEGERI
  • LIPUTAN DISKUSI
  • LIFESTYLE
  • RESENSI
  • SPORT
  • OPINI
  • INDEKS
No Result
View All Result
Indonesia Visioner
No Result
View All Result

POLITIK RANTAU (Dinamika Biopolitik Dalam Perspektif Ibnu Khaldun)

by Aulia Rachman Siregar
April 3, 2016
in Opini
Reading Time: 4min read
POLITIK RANTAU  (Dinamika Biopolitik Dalam Perspektif Ibnu Khaldun)
0
SHARES
96
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

IndonesiaVisioner.

 

Oleh. Bustamin J.W. Tosofu

“Ciri khas fisik sebagai tanda identitas yang menegaskan siapa “kita” dan siapa “mereka” dan sekaligus menerbitkan solidaritas atau permusuhan” (Harold Isaac).

DIALEKTIKA realitas menjadi hal penting dan substansi (isi) dalam mendorong perubahan besar kedepan. Harus dipahami bahwa untuk menuju pada keparipurnaan pemikiran membutukan suatu sikap otokritik, sudah dipastikan hal dasar untuk melangsungkan peradaban membutukan wilayah kesadaran idea dan kesadaran realitas sebagai system kesatuan yang utuh (ontologisem). Pergeseran paradigma ilmu pengetahuan ini mengikuti irama kajian dan struktur logika, jika dalam kajian ini analisis menggunakan pendekatan biopolitik/politik identitas yang ditawarkan oleh klompok/mazhap kritisisme (posmo).

Analisis ke-doxa-an lebih jauh, harus memboboti penjelasan ini dengan perspektif konsep asabiyah (solidaritas sosial). Konsep asabiyah dalam perspektif Ibnu Khaldun (Mudafir) ini menggambrkan tentang sosial politik, solidaritas sosial ini menjadi sangat kuat dan radiks jika dihidupkan dalam kebersamaan orang-orang yang mengembara/rantau. Perspektif Khaldun ini memberikan gambaran, analisis dan membaca fenomena politik orang-orang rantau dalam ruang kuasa. Solidaritas sosial ini bukan saja berada pada relasi politik, tetapi ruang gerakan sosial pun sangat mengedepankan faksi identitas yang kuat. Episteme dalam biopolitik atau politik identitas bukan politik tradisonal, tetapi pergerakan dan wacana politik ini muncul dengan sendirinya untuk merespon pertarungan kekuasaan dalam berdemokrasi.

Nalar politik manusia modern telah meletakan kesadaran publik bahwa, orang berpolitik adalah orang yang berada pada panggung prestasi. Dalam tafsir bahwa, pertarungan di ruang politik (kandidiat) baik itu pemilihan kepala daerah (Pilkada), pemilihan legislatif (caleg) dan pemilihan Presiden (pemimpin Negara) adalah penjewantahan orang-orang yeng memiliki kemampuan. Rentetan prestasi ini bisa kita runut apa yang mereka perbuat untuk publik, kita bisa membaca artikel investasi politik menuju pilkada (A. Ways), menjadi farina pemikiran dalam mendesain kemenangan kandidat pada pemilihan kepala daerah (Pilkada).

Afiliasi Politik Orang Rantau

Pos-reformasi mengahantarkan publik Indonesia keluar dari pakem kekuasaan yang absolut, dan dunia politik kehendak atas pemilihan langsung yang terbuka dan alternatif soslusi kita dalam berdemokrasi saat ini. Ruang desentraliasi dan fleksibilitas politik menghantarkan publik pada ruang politik di daerah, terkecuali ada ruang yang membatasi dalam konteks otonomi asimetris di empat daerah di Indonesia (DKI, DIY, Aceh dan Papua).

Pertarungan politik ini bisa memberikan isu sampai pada propaganda politik yang melabelkan atau politik simbolisasi. Pelabelan dan simbolisasi ini bisa ditafsir yang sederhana adalah bisa mencipatakan opini publik tentang orang asli dan tidak asli. Fakta ini sering terjadi dimana saja, tetapi yang paling massif jika kita lihat Papua. Ruang lingkup normatif memberikan klasifikasi orang pendatang, pornakan, dan asli, proses politik di Papua sangat kental dan hegemoni etnik menjadi sangat mengakar. Meta data bisa memberikan referensi idologi politik orang-orang Ayamaru dengan politik kain timur dan sudah menyejarah dipublik Papua, suku aya maruh tuntas dalam komunikasi politik atau one ideology dimensional.

Afiliasi politik orang rantau ini bisa kita pelajari mereka ingin tunjukan eksistensinya, bahwa ada pengakuan dari kelompok lain terhadap mereka dengan kekuatan hegemoniknya. Namun hal ini adalah prestasi yang dilakukan, Fadel Muhammad misalnya sosok politik berdarah Arab ini lahir di Ternate dan mendapat kepercayan publik Gorontalo sebagai Gubernur. Di Jakarta suku Betawi adalah notabene orang asil Jakarta namun tergusur secara politik oleh orang-orang rantau baik itu jawa dan Sumatra, bahkan Bapak. Ongen Sangaji dan Bapak Hasan Basri dipercayakan untuk duduk di DPRD DKI Jakarta alhasil mereka adalah orang-orang rantau dari Maluku Utara.

Kita baca dari hasil survey opini politik masyarakat di Kab. Sorong Papua Barat, memberikan satu data bahwa sanya kelompok-kelompok jawa sebagai mayoritas sangat berharap perwakilan mereka untuk mendampingi orang asli papua bertarung di pemilihan kepala daerah (Pilkada) 2017. Diplomasi dan persekuatuan poltik dengan selohan Moja (moi-jawa), simpul dan kekuatan politik identitas dari hasil deskripsi lapang memberikan gambaran dunia dan kesadaran baru dalam berpolitik. Di daerah Palopo Selebes hasil penelitian Munauwarah tentang opoltik etnik pendatang sangat menyakar dan menguasai lembaga parlemen.

Beberapa daerah di Maluku Utara Hegemoni politik orang-orang rantau/pendatang sangat lah kuat dan menjadi lingkaran kuasa antara suku, jika romantisme lampau memberikan kita gambran system monarki absolut tumbu sumbur di negeri ini dan memiliki wilayah dan hak veto dalam kuasa sultan. Pertarungan politik kekuasaan, terus bermetamorfosa menjadi pertarungan politik di ruang politik kekinian, dinamika politik di kota Ternate dikuasai oleh kelompok pendatang atau dalam hal ini adalah perantau dari suku Tidore, Makian, Sanan, Bacan, Halmahera dengan kekuatan sumberdaya manusia yang mumpuni. Dinamisasi politik orang-orang pendatang/rantau ini masih banyak dijadikan contoh.

 

Politik DNA (hipotesa politik kekinian orang-orang rantau)

Gagasan Ibnu Khaldun (NIzam), bahwa ada tiga hal penting dalam melihat sosok pemimpin. pertama, memiliki kemampuan untuk menguasai masyarakat warga (Publik); kedua, memiliki kekuatan, kewibawaan dan kewenangan, dan ketiga, Harus berasal dari kalangan sendiri. Pada poin ketiga ini harus mempertimbangkan aspek etnisitas tatapi memiliki kualitas atau kuasa pengetahuan (kuasa intelektual), untuk mendorong prinsip politik berada pada wilayah kekuasaan, kewenangan dan kebijakan. Tidak menjadi faksi antara tiga poin penting ini sehingga hal fundamental adalah merit system antara gagasan.

Politik DNA menjadi salah satu simpul dan mobilitas politik yang sangat kuat, jika isu etnisitas menjadi strategi kompanye kedepan. Relasi kuasa dalam pemikiran M. Foucault (baca: Sowohi & politik kekuasaan Tidore), relasi kuasa itu berada dalam sendi-sendi kehidupan sosial dan subyek-subyek ini memiliki kuasa masing-masing dan kadang dia berda pada titik kohesi atau adhesi. Kebangkitan kelompok sosial mendorong pergerakan politik yang bisa dijadikan dalil sebagai, heroisem untuk menebar siapa lawan siapa namun lebih kepada afiliasi kelompok yang mengkompanyekan kepentingan pembanguna. Hal yang harus diantisipasi dalam mobilisasi politik etnisitasi menjadi urgen, karena politik etnisitasi ini bisa memberikam momok yang tidak baik jika itu terjadi konflik politik. Dan harapan besar adalah gerakan politik etnik yang berkesadaran tinggi.

Imajinasi politik rantau ini sangat lah kuat apabila ini disandingan  dengan melacak/analisis secara geonologi etnisitas. Ruang politik ini bisa berada pada politik orang pribumi dan non-pribumi dan akan dijadikan wacana relasi antar sesama, dan gerakan pemersatu atau istilah Agnes Heller (Abdillah S), sebagai politik pembeda. Pergerakan kelompok etnik ini sampai pada kerukunan paguyuban antar provinsi, antar suku, antar klen dan itu subur pada fase sekarang ini  dan dijadikan salah satu kekuatan politik (modal sosial).***

Penulis adalah Direktur Riset & Publikasi Pasifik Recources Indonesia

Peneliti Pusat Analisis Regional (PUSAR) Indonesia

Previous Post

Barca dipermalukan Madrid

Next Post

Car Free Day dan Aksi Mahasiswa Tolak WTPM di Indonesia!

Related Posts

Mengapa Polri Butuh Lebih dari Sekadar Seremoni Hoegeng Awards?
Artikel

Mengapa Polri Butuh Lebih dari Sekadar Seremoni Hoegeng Awards?

April 6, 2026
Default

Menjaga Marwah Bhayangkara: Mengapa Independensi Polri Adalah Harga Mati

Januari 30, 2026
Opini

Menagih Janji di Balik Sepatu Bot Pramono: Mengapa Jakarta 2026 Masih Menjadi Kolam Raksasa?

Januari 24, 2026
Opini

Lumbung Pangan di Balik Jeruji: Saat Penjara Menyuplai Piring Rakyat

Januari 19, 2026
Opini

Mengakhiri Demokrasi Biaya Tinggi:
Pilkada Langsung Itu Gagal: Kenapa Kita Masih Takut Balik ke DPRD?

Januari 5, 2026
Opini

The Enforcer: Mengapa Publik Semakin Menaruh Kepercayaan pada Langkah Taktis Dasco?

Januari 1, 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERKINI

Eks PB HMI Silaturahmi ke Dandim, Apresiasi Peran Kodim Kawal Koperasi Desa Merah Putih

Menjaga Marwah Ibadah: Pemuda Muslimin Jakarta Utara mendukung usulan Kemenimipas Percepatan Satgas Haji Non-Prosedural

Antusiasme Publik Tinggi, Satgas Haji Polri Diminta Tanpa Ampun Sikat Travel Nakal dan Visa Palsu

Optimisme Pengelolaan Sampah: JAMMA Dukung Transformasi Hilirisasi Gubernur Pramono

Merajut Kembali Persaudaraan Bangsa: Mengapa Dialog Lebih Utama dalam Kasus Jusuf Kalla?

Musyawarah Pimpinan Kecamatan Golkar Purwoharjo Perkuat Konsolidasi dan Arah Strategi Pemenangan

TERPOPULER

Eks PB HMI Silaturahmi ke Dandim, Apresiasi Peran Kodim Kawal Koperasi Desa Merah Putih

Menjaga Marwah Ibadah: Pemuda Muslimin Jakarta Utara mendukung usulan Kemenimipas Percepatan Satgas Haji Non-Prosedural

Antusiasme Publik Tinggi, Satgas Haji Polri Diminta Tanpa Ampun Sikat Travel Nakal dan Visa Palsu

Optimisme Pengelolaan Sampah: JAMMA Dukung Transformasi Hilirisasi Gubernur Pramono

Merajut Kembali Persaudaraan Bangsa: Mengapa Dialog Lebih Utama dalam Kasus Jusuf Kalla?

Musyawarah Pimpinan Kecamatan Golkar Purwoharjo Perkuat Konsolidasi dan Arah Strategi Pemenangan

  • About
  • Redaksi
  • Marketing & Advertising
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Email
  • Login
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • POLHUM
  • EKONOMI
  • VIDEO
  • ENTERTAINMENT
  • LUAR NEGERI
  • LIPUTAN DISKUSI
  • LIFESTYLE
  • RESENSI
  • SPORT
  • OPINI
  • INDEKS

Indonesia Visioner - All Rights Reserved