Ditengah gegap gempita media-media nasional menyiarkan aksi anarkisme antar geng yang dipertontonkan pengemudi angkutan kovensional dan online di jakarta dan beberapa daerah di indonesia, ada angkutan umum tradisional yang digerakkan dengan tenaga manusia masih bertahan dengan susah payah dari jaman dahulu kala sampai hari ini. Namanya Becak, ya becak.
Terlepas dari legal atau tidak, di Pekalongan terdapat seratusan lebih Pengayuh becak yang ingin menawarkan jasanya pada pelanggan. Jasa angkutan ini memang ajaib, lampu mau menyala hijau, kuning merah sampai pelangi sekalipun, becak tetap jalan. Becak juga tidak mempedulikan apakah jalan yang dilaluinya satu arah, dua arah, tiga, empat dan seterusnya.
Becak tetaplah angkutan yang tidak berlaku hukum-hukum penguna kenderaan umum lainnya. Disamping Pengayuhnya tidak membutuhakn Surat Iizin Mengemudi alis SIM, becak adalah satu dari segelintir sarana angkutan yang ramah terhadap lingkungan. Tidak ada asap yang mengempul dari pantatnya, Pengayuhnya bukan orang yang sering ke tempat-tempat fitness, biasanya adalah bapak-bapak yang sudah mendekati kepala enam kurang dikit. Pengayuh becak bukan mencari kekayaan, mereka jadikan profesi ini sebagai lapangan kerja untuk bertahan hidup, adakalanya perkerjaan ini dilakoni untuk menyekolahkan anak-anaknya.
Kali ini saya bertemu dengan mas Iwan, namanya lengkapnya M. Eko Kurniawan, penghasilannya tidak seberapa. Kata mas iwan, pendapatannya paling tinggi perhari adalah 50 ribu, itupun kalau ada banyak tamu di hotel yg ingin menyewa jasanya sekaligus ingin merasakan nikmatnya naik becak. Tapi, bila masa-masa sedang sepi, mas iwan kadang pulang ke rumah dengan hanya membawa lapar. Umurnya sudah 52 tahun, dulunya sempat menjadi buruh bangunan tapi saat mengngalami kecelakan kerja. Mas Iwan beralih profesi menjadi Pengayuh becak, ini sudah ditekuni sejak tahun 1998.
Pak Iwan memilki 1 istri dan 4 orang buah hati, yang sulung sekarang sudah bekerja disebuah perusahan daerah. Anak ke dua sudah kelas 2 STM, anak ketiganya sekarang duduk dibangku kelas 1 SLTP dan yang bungsu masih sekolah dasar kelas 3.
Saat saya tanya seputar perkelahian antara sopir angkutan online dan konvensional di jakarta, Pak iwan hanya menjawab singkat “Semoga saja Pemda Pekalongan nga larang kami narik mas, saya mau kerja apa lagi, wong tanah nga punya, satu-satunya yang saya punya hanya becak ini mas”. Cukup singkat bahasa mas iwan, tetapi inilah potret hampir sebahagian besar masyarakat diseantero pelosok negri ini. Mereka tidak punya keahlian apa di bidang IT, HP saja tidak mereka milikki. Tidak ada jaminan sosial bagi mereka yang berusia lanjut seperti PNS dan pegawai-pegawai kantoran lainnya, segingga menuntut mereka untuk kreatif dalam mempertahankan hidup.
Termasuk Mas Iwan. Sebagai kepala keluarga, dia harus memutar otak yang tidak terisi ilmu matematika dan mata pelajaran lainnya harus berpikir ekstra untuk bisa bertahan hidup. Ini dilakukan hanya semata-mata untuk bisa memberi makan dan menyekolahkan orang-orang yang dicintainya, walaupun pekerjaan itu harus bergelut dengan kerasnya kehidupan di usia senja.
Inilah Pak Iwan, pengayuh becak yang masih terus bertahan ditengah ancaman keberadaan kenderaan- kenderaan yang lebih moderen dan terjamin kenyamanan. Tetapi ada hal yang perlu diapresiasi adalah ketekunan dan semangatnya untuk tetap bertahan hidup dalam kondisi apapun. Selain itu pekerjaannya adalah bahagian dari melestarikan angukatan becak yang sebentar lagi tinggal cerita.
Oleh : Oumo Abdul Syukur



