Indonesia Visioner
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • POLHUM
  • EKONOMI
  • VIDEO
  • ENTERTAINMENT
  • LUAR NEGERI
  • LIPUTAN DISKUSI
  • LIFESTYLE
  • RESENSI
  • SPORT
  • OPINI
  • INDEKS
No Result
View All Result
Indonesia Visioner
No Result
View All Result

Semangat Pak Iwan sang Pengayuh becak

by Aulia Rachman Siregar
Maret 24, 2016
in Opini
Reading Time: 2min read
Semangat Pak Iwan sang Pengayuh becak
0
SHARES
46
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Ditengah gegap gempita media-media nasional menyiarkan aksi anarkisme antar geng yang dipertontonkan pengemudi angkutan  kovensional dan online di jakarta dan beberapa daerah di indonesia, ada angkutan umum tradisional yang digerakkan dengan tenaga manusia masih bertahan dengan susah payah dari jaman dahulu kala sampai hari ini. Namanya Becak, ya becak.

Terlepas dari legal atau tidak, di Pekalongan terdapat seratusan lebih Pengayuh becak yang ingin menawarkan jasanya pada pelanggan. Jasa angkutan ini memang ajaib, lampu mau menyala hijau, kuning merah sampai pelangi sekalipun, becak tetap jalan. Becak juga tidak mempedulikan apakah jalan yang dilaluinya satu arah, dua arah, tiga, empat dan seterusnya.

Becak tetaplah angkutan yang tidak berlaku hukum-hukum penguna kenderaan umum lainnya. Disamping Pengayuhnya tidak membutuhakn Surat Iizin Mengemudi alis SIM, becak adalah satu dari segelintir sarana angkutan yang ramah terhadap lingkungan. Tidak ada asap yang mengempul dari pantatnya, Pengayuhnya bukan orang yang sering ke tempat-tempat fitness, biasanya adalah bapak-bapak yang sudah mendekati kepala enam kurang dikit. Pengayuh becak bukan mencari kekayaan, mereka jadikan profesi ini sebagai lapangan kerja untuk bertahan hidup, adakalanya perkerjaan ini dilakoni untuk menyekolahkan anak-anaknya.

Kali ini saya bertemu dengan mas Iwan, namanya lengkapnya M. Eko Kurniawan, penghasilannya tidak seberapa. Kata mas iwan, pendapatannya paling tinggi perhari adalah 50 ribu, itupun kalau ada banyak tamu di hotel yg ingin menyewa jasanya sekaligus ingin merasakan nikmatnya naik becak. Tapi, bila masa-masa sedang sepi, mas iwan kadang pulang ke rumah dengan hanya membawa lapar. Umurnya sudah 52 tahun, dulunya sempat menjadi buruh bangunan tapi saat mengngalami kecelakan kerja. Mas Iwan beralih profesi menjadi Pengayuh becak, ini sudah ditekuni sejak tahun 1998.

Pak Iwan memilki 1 istri dan 4 orang buah hati, yang sulung sekarang sudah bekerja disebuah perusahan daerah. Anak ke dua sudah kelas 2 STM, anak ketiganya sekarang duduk dibangku kelas 1 SLTP dan yang bungsu  masih sekolah dasar kelas 3.

Saat saya tanya seputar perkelahian antara sopir angkutan online dan konvensional di jakarta, Pak iwan hanya menjawab singkat “Semoga saja Pemda Pekalongan nga larang kami narik mas, saya mau kerja apa lagi, wong tanah nga punya, satu-satunya yang saya punya hanya becak ini mas”. Cukup singkat bahasa mas iwan, tetapi inilah potret hampir sebahagian besar masyarakat diseantero pelosok negri ini. Mereka tidak punya keahlian apa di bidang IT, HP saja tidak mereka milikki. Tidak ada jaminan sosial bagi mereka yang berusia lanjut seperti PNS dan pegawai-pegawai kantoran lainnya, segingga menuntut mereka untuk kreatif dalam mempertahankan hidup.

Termasuk Mas Iwan. Sebagai kepala keluarga, dia harus memutar otak yang tidak terisi ilmu matematika dan mata pelajaran lainnya harus berpikir ekstra untuk bisa bertahan hidup. Ini dilakukan hanya semata-mata untuk bisa memberi makan dan menyekolahkan orang-orang yang dicintainya, walaupun pekerjaan itu harus bergelut dengan kerasnya kehidupan di usia senja.

Inilah Pak Iwan, pengayuh becak yang masih terus bertahan ditengah ancaman keberadaan kenderaan- kenderaan yang lebih moderen dan terjamin kenyamanan. Tetapi ada hal yang perlu diapresiasi adalah ketekunan dan semangatnya untuk tetap bertahan hidup dalam kondisi apapun. Selain itu pekerjaannya adalah bahagian dari melestarikan angukatan becak yang sebentar lagi tinggal cerita.

Oleh : Oumo Abdul Syukur

 

 

Previous Post

Istana angkat bicara soal transportasi online

Next Post

Ada potensi korupsi di PT Pertamina

Related Posts

Pondasi Sistem Logistik Nasional: Refleksi Pengabdian dan Estetika Konstitusi
Opini

Pondasi Sistem Logistik Nasional: Refleksi Pengabdian dan Estetika Konstitusi

April 26, 2026
BGN Kaji Efesiensi Anggaran
Artikel

Audit Triliunan dan Rapuhnya Negara: Mengapa Kebocoran Fiskal Terus Berulang?

April 23, 2026
Mengapa Polri Butuh Lebih dari Sekadar Seremoni Hoegeng Awards?
Artikel

Mengapa Polri Butuh Lebih dari Sekadar Seremoni Hoegeng Awards?

April 6, 2026
Default

Menjaga Marwah Bhayangkara: Mengapa Independensi Polri Adalah Harga Mati

Januari 30, 2026
Opini

Menagih Janji di Balik Sepatu Bot Pramono: Mengapa Jakarta 2026 Masih Menjadi Kolam Raksasa?

Januari 24, 2026
Opini

Lumbung Pangan di Balik Jeruji: Saat Penjara Menyuplai Piring Rakyat

Januari 19, 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERKINI

Sikat Sarang Narkoba! Bareskrim Apresiasi Langkah Tegas Pemprov Jakarta Cabut Izin White Rabbit

Simak Bukti Kebijakan di Balik Swasembada & Kesejahteraan Petani

Waspada Penawaran Haji Tanpa Antre Ilegal, Jangan Tergiur

Alasan Prabowo Hadiri Resepsi Pernikahan El Rumi & Syifa Hadju

Kalender Ekonomi: Inflasi Meningkat, Pertumbuhan Melambat

Harga Emas Antam dan Buyback Hari Ini Kompak Turun Rp16.000

TERPOPULER

Sikat Sarang Narkoba! Bareskrim Apresiasi Langkah Tegas Pemprov Jakarta Cabut Izin White Rabbit

Simak Bukti Kebijakan di Balik Swasembada & Kesejahteraan Petani

Waspada Penawaran Haji Tanpa Antre Ilegal, Jangan Tergiur

Alasan Prabowo Hadiri Resepsi Pernikahan El Rumi & Syifa Hadju

Kalender Ekonomi: Inflasi Meningkat, Pertumbuhan Melambat

Harga Emas Antam dan Buyback Hari Ini Kompak Turun Rp16.000

  • About
  • Redaksi
  • Marketing & Advertising
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Email
  • Login
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • POLHUM
  • EKONOMI
  • VIDEO
  • ENTERTAINMENT
  • LUAR NEGERI
  • LIPUTAN DISKUSI
  • LIFESTYLE
  • RESENSI
  • SPORT
  • OPINI
  • INDEKS

Indonesia Visioner - All Rights Reserved