Indonesia Visioner
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • POLHUM
  • EKONOMI
  • VIDEO
  • ENTERTAINMENT
  • LUAR NEGERI
  • LIPUTAN DISKUSI
  • LIFESTYLE
  • RESENSI
  • SPORT
  • OPINI
  • INDEKS
No Result
View All Result
Indonesia Visioner
No Result
View All Result

REPOSISI GERAKAN MAHASISWA PASCA 1998

by Aulia Rachman Siregar
Mei 11, 2016
in Opini
Reading Time: 5min read
REPOSISI GERAKAN MAHASISWA PASCA 1998

????????????????????????????????????

0
SHARES
304
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

oleh : Yudo Adianto Salim*

Indonesia merupakan salah satu negara di dunia dimana Gerakan Mahasiswa memiliki kekuatan dan pengaruh yang kuat dalam ranah perpolitikannya. Tercatat beberapa peristiwa penting yang mewarnai sejarah Republik ini diwarnai dengan beberapa aksi mahasiswa seperti keruntuhan Orde Lama di tahun 1966, Peristiwa Malari 1974 dan Gerakan Reformasi 1998. Begitu kuatnya aksi Mahasiswa di negara ini sampai-sampai sejauh ini telah 2 pemerintahan yang harus jatuh tidak lepas dari kuatnya peranan Gerakan Mahasiswa. Salah satu gerakan monumental yang menajdi gerakan mahasiswa paling dikenal adalah gerakan mahasiswa di tahun 1998. Latar belakang gerakan mahasiswa menuntut adanya reformasi yang dipelopori mahasiswa pada tahun 1998 ini merupakan kumpulan yang terpendam dari kemarahan rakyat yangt sejak awal orde baru, sehingga terlihat kekesalan rakyat yang sudah sangat kompleks itu akhirnya berujung pada kemarahan rakyat terhadap pemerintah yang berlangsung di tahun 1998. Ada berbagai faktor yang mendorong mahasiswa melakukan pergerakan menuntut reformasi, antara lain, Penyalahgunaan wewenang Soeharto sebagai presiden, Pembangunan yang semu, Krisis moneter, Kondisi sosial masyarakat, Adanya kesamaan rasa tertindas oleh pemerintah, dan Tragedi 12 mei Trisakti

Dalam kondisi semacam ini, mahasiswa Indonesia kebanyakan memilih berada dalam kelompok idealis konfrontatif. Mereka bergabung untuk satu tujuan, yakni menuntut pelaksanaan reformasi total di berbagai aspek kehidupan bangsa dengan cara melengserkan Soeharto dari jabatannya terlebih dahulu. Semangat para mahasiswa pun semakin menggelora ketika gerakan mahasiswa dengan agenda reformasi ini mendapat simpati dan dukungan dari rakyat.
Dalam melihat fenomena ini, Ricardi.dkk (1999) melakukan pembagian lima kelompok mahasiwa dalam merespon kondisi sosial, ekonomi, politik dan budaya yang ada di masyarakat.
1. adalah kelompok idealis konfrontatif, dimana mahasiwa tersebut aktif dalam perjuangannya menentang pemerintah melalui aksi demonstrasi dan gerakan-gerakan perlawanan.
2. kelompok idealis realistis adalah mahasiwa yang memilih koperatif dalam perjuangannya menentang pemerintah.
3. kelompok opportunis adalah mahasiswa yang cenderung mendukung pemerintah yang berkuasa
4. adalah kelompok profesional, yang lebih berorientasi pada belajar atau kuliah.
5. adalah kelompok rekreatif yang berorientasi pada gaya hdup yang glamour.

Kesadaran mahasiswa secara bersama dimana mahasiswa merupakan satu kelompok yang harus bersatu padu Dalam kondisi perilaku kolektif, terdapat kesadaran kolektif dimana sentimen dan ide-ide maupun gagasan yang tadinya dimiliki oleh sekelompok mahasiswa yang menyebar dengan begitu cepat sehingga menjadi milik mahasiswa maupun masyarakat pada umumnya. Kekecewaan dan ketidakpuasan mahasiswa terhadap pemerintah disambut oleh masyarakat yang menjadi korban dari sistem rezim yang ada. Aksi dari mahasiswa kemudian direspon oleh masyarakat melalui secara sukarela memberikan bantuan kepada para mahasiswa yang sedang mengadakan demonstrasi.

17 tahun lebih sudah masa reformasi, banyak sekali kekhawatiran rakyat terhadap aktivisme gerakan Mahasiswa. Mitos mahasiswa sebagai agent of change menjauh dari realita yang ada. Para mahasiswa lebih senang dan bangga jadi seorang yang selalu tepuk tangan di acara-acara TV atau duduk manis di pusat perbelanjaan, melihat konser, berpacaran, atau di tempat nongkong modern yang begitu gemerlap dan jauh dari kesulitan hidup rakyat kecil. Di sana mereka dapat leluasa berbicara tentang artis idola, bergaya hidup glamour, membicarakan film populer serta menjadi trending atau mode pakaian terbaru, dan tak lupa mencibir setiap kali ada demo yang memacetkan jalan atau tak terima ketika gaji para buruh naik yang membuat para buruh dapat mendapatkan kelayakan hidup.

Masalah bisa jadi hadir sebagai suatu gejala, atau sebagai akibat dan bahkan bisa juga diciptakan didalam suatu peristiwa atau rangkaian peristiwa. Sepanjang sejarah dinamika kebangsaan, di Indonesia peran mahasiswa dari generasi ke generasi , mulai dari era kesatuan 1928, Era Gerakan Nasional 1908, Era orba 1966, Era Kemerdekaan 1945 dan Era Reformasi 1998, yang masing-masing memiliki motivasi dan gaya yang berlainan. Peran tersebut kemudian menjadikan mahasiswa dilabeli berbagai macam julukan dan pujian seperti Mahasiswa adalah agen perubahan, control sosial, Mahasiswa Tiang Negara, Mahasiswa pemimimpin yang akan datang, mahasiswa sbagai kontrol sosial, Mahasiswa Penegak Kebenaran dan Keadilan, dan berbagai macam gelar yang disandangnya.

lantas bagaimana gerakan mahasiswa indonesia masa kini? apakah mereka menemukan bentuk yang relevan untuk bergerak? atau justru terjebak pada romantisme kejayaan masa lalu? kalau kita melihat kondisi Riil sejak reformasi 1998, gerakan mahasiswa hari ini cenderung tidak jelas. keberhasilan gerakan mahasiswa tidak cenderung memberikan dinamikan positif pada gerakan mahasiswa secara keseluruhan.

didalam perkembangannya seperti yang terjadi sekarang ini, Gerakan Mahasiswa seperti telah kehilangan identitas dan jati diri awalnya sbagai agen peruban, control sosial, moral force, iron stock. Beberapa sektor dan hal yang menyebabkan mahasiswa masa kini mengalami pergeseran pergerakan antara lain :
 Gerakan Mahasiswa masa kini hanya sebagai identitas formal sebagai aktivis, mereka bergerak hanya sekedar seremonial belaka. Banyak yang ikut-ikutan, tidak mempunyai idealism. Tak luput juga gerakan mahasiswa masa kini hanya berbentuk momen tertentu saja yaitu ketika pemerintah menaikkan harga BBM mereka baru turun jalan untuk melakukan protes terhadap pemerintah. Padahal isu dan wacana kebangsaan tidak akan pernah habis untuk disikapi dalam beberapa sektor.
 Semakin hilangnya arah dan tujuan yang jelas dari gerakan mahasiswa masa kini. hal tersebut bisa dilihat dari mahasiswa yang tergabung dalam wadah gerakan mahasiswa yang lupa akan esensi nya sbagai mahasiswa, banyak sekali kepentingan-kepentingan elite yang masuk dalam ranah mahasiswa.
 Mahasiswa lupa dirinya sbagai insan akademis. Gerakan Mahasiswa terkenal dengan kekuatan intelektualnya, tetapi mahasiswa sekarang semakin jauh dari pengertian esensi perkuliahan. Perlu diketahui bahwa esensi untuk mahasiswa dikampus adalah berkuliah. Banyak mahasiswa yang terjebak pada romantisme organisasi sehingga dia lupa akan nilai-nilai akademik yang juga penting sbagai mahasiswa.
 Mahasiswa sbagai 3K.(kuliah, kost, kencan) hilangnya gerakan mahasiswa sekarang tak lepas dari faktor tersebut, mereka yang apatis sebagai mahasiswa hanya bisa membuat formalitas hidup dengan sebutan mahasiswa. Berkuliah saat ada jadwal, bila tak ada kuliah akan mendekam di kost, dan akan kencan bila punya pacar.
 Hilangnya budaya baca buku, diskusi, kajian dan forum-forum ilmiah di kalangan mahasiswa. Identitas sbagai mahasiswa hanya bisa disandangkan kepada mereka yang kaya akan ide dan gagasan serta mampu menciptakan alam berfikir yang rasional. Melatih berfikir rasional adalah melalui ruang-ruang diskusi, bedah buku, kajian dan forum-forum ilmiah lainnya. Hilangnya ranah tersebut juga mempengaruhi arah gerakan mahasiswa masa kini yang cenderung mengalami kemunduran secara kualitas. Beberapa mahasiswa terjebak pada ruang lingkup kuliah saja yang hanya mendengarkan dosen ketika berbicara, dan akan menggarap tugas ketika diberi. Dan tidak akan mengembangkan diri pada sektor-sektor lain.
 Tidak menariknya organisasi di intra maupun ekstra kampus. “Didiklah rakyat dengan organisasi dan didiklah penguasa dengan perlawanan.” — Pramoedya Ananta Toer-jejak langkah . Hal ini adalah kemunduran besar dalam ranah gerakan mahasiswa hari ini. Kampus adalah sumber daya manusia dari mahasiswa yang tidak akan habis. Mahasiswa hari ini lebih memilih jadi kaum apatis dan hedonis daripada harus susah payah mengikuti organisasi intra kampus seperti HIMA, BEM dan DPM. Serta organisasi ekstra kampus seperti HMI,IMM,PMII,GMNI dll, yang menurut mereka tidak ada manfaatnya. Dinamika organisasi didalam kampus juga turut serta mempengaruhi ketidak menarikkan organisasi intra maupun ekstra di kalangan mahasiswa. Kurangnya figure pengakaderan, kepemimpinan serta menurunnya kualitas sbagai aktivis mahasiswa, dan terjebaknya mahasiswa dalam tugas kuliah juga salah satu menjadi penyebab ketidak menarikkan di beberapa kalangan mahasiswa untuk mengikuti organisasi baik di tingkat intra maupun ekstra kampus. Seharusnya orang-orang yang berada pada titik organisatoris tentu akan menemukan formula berbagai persoalan yang membelit dalam perjalanannya. Bagaimanapun, nafas dari organisasi adalah pengkaderan. persoalan-persoalan itu harus dihadapi dan dipecahkan sehingga ketertarikan mahasiswa dengan dunia organisasi akan meningkat kembali dan dunia organisasi intra maupun ekstra akan lebih dinamis. Tanpa adanya dialektika dikalangan mahasiswa dan zamannya, seorang mahasiswa sama dengan jasad tanpa ruh. Tak bisa bergerak atau mengalami kematian.

Selanjutnya, semakin hilangnya arah perjuangan yang tidak jelas dari Gerakan Mahasiswa dapat dilihat bahwa sekarang ini para Mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa seperti lupa akan hakekat asli mereka sebagai mahasiswa, yaitu selalu belajar. Belajar disini bukan hanya tentang mata kuliah, tetapi dalam semua lingkup seperti berproses di organisasi, berproses untuk menjadi insan akademis, insan pencipta, dan insan pengabdi. Semua itu bisa dikatakan belajar. Para mahasiswa yang terlalu sibuk berpolitik, baik berpolitik sesama organisasi-organisasi di dalam kampus maupun yang berasal dari kampus lain hendaknya kembali untuk menjaga nilai-nilai dasar mahasiswa yaitu sebagai agen perubahan, control sosial, moral forca dan iron stock.

Pada akhirnya harapan masyarakat yang tertumpu pada mahasiswa kali ini tidak menjadi tumpul. Gerakan mahasiswa hari ini harus mempunya nilai-nilai dasar perjuangan yang kuat sbagai landasan dan pijakan melakukan gerakan yang tidak hanya menjadi tong kosong nyaring bunyinnya. Perubahan-perubahan bangsa ini berawal dari para kaum intelektual, dan perubahan itu berada di tangan mahasiswa, berbicara perubahan adalah sebuah keniscayaan dan akan terus menggelinding hingga waktu yang tak terhingga. Semoga gerakan mahasiswa pasca 98 memiliki peran positif dalam mengawal janji-janji kebangsaan dan mengambil peran utama dalam perubahan tersebut. Dengan gagasan ini kritik ini semoga akan ada generasi penerus yang dilahirkan dari rahim-rahim kampus yang akan menjadi pengendali perubahan peradaban bangsa ini, dan kita semua mampu merefleksi semua tentang gerakan mahasiswa masa kini dengan sebaik-baiknya. Semua tergantun pada diri kita masing-masing apakah kita mau merevolusi diri atau berdiam diri sambil bernostalgia dan berkhayal dengan masa lalu? Sedanngkan bernostalgia dan berkhayal saja tidak akan mampu memberikan kontribusi apapun pada lingkaran perubahan di bangsa ini. Semua elemen mahasiswa hendaknya bersatu dan selalu mengambil peran serta memasang badan untuk meraih yang terbaik dalam setiap langkah penyikapan gerakan mahasiswa masa kini.

*)Ketua Umum Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia (Permahi) DPC Surabaya

Previous Post

Gerakan kembali menyalakan tradisi menulis

Next Post

Bupati Bengkulu Selatan menyimpan Sabu di ruang kerjanya

Related Posts

Mengapa Polri Butuh Lebih dari Sekadar Seremoni Hoegeng Awards?
Artikel

Mengapa Polri Butuh Lebih dari Sekadar Seremoni Hoegeng Awards?

April 6, 2026
Default

Menjaga Marwah Bhayangkara: Mengapa Independensi Polri Adalah Harga Mati

Januari 30, 2026
Opini

Menagih Janji di Balik Sepatu Bot Pramono: Mengapa Jakarta 2026 Masih Menjadi Kolam Raksasa?

Januari 24, 2026
Opini

Lumbung Pangan di Balik Jeruji: Saat Penjara Menyuplai Piring Rakyat

Januari 19, 2026
Opini

Mengakhiri Demokrasi Biaya Tinggi:
Pilkada Langsung Itu Gagal: Kenapa Kita Masih Takut Balik ke DPRD?

Januari 5, 2026
Opini

The Enforcer: Mengapa Publik Semakin Menaruh Kepercayaan pada Langkah Taktis Dasco?

Januari 1, 2026

TERKINI

Eks PB HMI Silaturahmi ke Dandim, Apresiasi Peran Kodim Kawal Koperasi Desa Merah Putih

Menjaga Marwah Ibadah: Pemuda Muslimin Jakarta Utara mendukung usulan Kemenimipas Percepatan Satgas Haji Non-Prosedural

Antusiasme Publik Tinggi, Satgas Haji Polri Diminta Tanpa Ampun Sikat Travel Nakal dan Visa Palsu

Optimisme Pengelolaan Sampah: JAMMA Dukung Transformasi Hilirisasi Gubernur Pramono

Merajut Kembali Persaudaraan Bangsa: Mengapa Dialog Lebih Utama dalam Kasus Jusuf Kalla?

Musyawarah Pimpinan Kecamatan Golkar Purwoharjo Perkuat Konsolidasi dan Arah Strategi Pemenangan

TERPOPULER

Eks PB HMI Silaturahmi ke Dandim, Apresiasi Peran Kodim Kawal Koperasi Desa Merah Putih

Menjaga Marwah Ibadah: Pemuda Muslimin Jakarta Utara mendukung usulan Kemenimipas Percepatan Satgas Haji Non-Prosedural

Antusiasme Publik Tinggi, Satgas Haji Polri Diminta Tanpa Ampun Sikat Travel Nakal dan Visa Palsu

Optimisme Pengelolaan Sampah: JAMMA Dukung Transformasi Hilirisasi Gubernur Pramono

Merajut Kembali Persaudaraan Bangsa: Mengapa Dialog Lebih Utama dalam Kasus Jusuf Kalla?

Musyawarah Pimpinan Kecamatan Golkar Purwoharjo Perkuat Konsolidasi dan Arah Strategi Pemenangan

  • About
  • Redaksi
  • Marketing & Advertising
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Email
  • Login
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • POLHUM
  • EKONOMI
  • VIDEO
  • ENTERTAINMENT
  • LUAR NEGERI
  • LIPUTAN DISKUSI
  • LIFESTYLE
  • RESENSI
  • SPORT
  • OPINI
  • INDEKS

Indonesia Visioner - All Rights Reserved