Oleh : Vinilika Yulia Rosita*
Lembaga pendidikan dipandang sebagai sebuah “industri” yang dapat mencetak jasa yaitu jasa pendidikan. Lewat perputaran produksi “industri” pendidikan orang mengharap supaya semua bakat, kemampuan dan kemungkinan yang dimiliki bisa dikembangkan secara maksimal, agar orang bisa mandiri dalam proses membangun pribadinya. Kesuksesan pendidikan terletak pada kurikulum. Pengembangan kurikulum yang diterapkan harus lah relevan dengan kebutuhan peserta didik dan perkembangan arus zaman.
Kenyataanya “industri” pendidikan khusunya di Indonesia telah berjalan dalam lorong krisis yang cukup panjang. “industri” Pendidikan telah kehilangan pijakan filosofisnya yang hakiki, yang kemudian berdampak pada tidak jelasnya arah dan tujuan yang hendak dicapai. “industri” Pendidikan juga tertatih-tatih dan gagap dalam menghadapi laju perkembangan zaman dan arus globalisasi. Sementara, Negara lain mengekspor SDM-nya guna bersaing untuk menjadi tenaga ahli di negeri ini. Di Negara ini masih berkutat pada formulasi kurikulum. Akibatnya, output “industri” pendidikan yang mestinya melahirkan generasi imamul muttaqqin (pemimpin-pemimpin yang bertaqwa), mempunyai karakter yang kuat dan tentunya memiliki pandangan visioner malah melahirkan generasi yang gagap baik gagap teknologi, gagap pergaulan global, gagap zaman bahkan gagap moral. Dan hal ini berdampak sistemik pada kemajuan bangsa untuk kedepannya.
Perlu formulasi strategi khusus dan tepat dalam membangun sebuah “industri” pendidikan yang mumpuni di Indonesia. Melihat permasalahan yang ada, maka dalam tulisan ini mencoba untuk membahas masalah konsep “industri” pendidikan berbasis karakter dengan sistem full day school . Sistem pendidikan inilah yang akan memberikan solusi dalam rangka mengembangkan seluruh potensi anak (the whole child) baik secara kognitif, afektif dan psikomotorik serta mencetak generasi bangsa yang utuh sesuai dengan kultur budaya dan juga falsafah bangsa (kaffah),‘alim dan juga handal dalam bidang keilmuan dan teknologi informasi yang sedang berkembang saat ini. yang pada tujuan akhirnya bisa menelurkan sebuah generasi baru yang berkarakter pancasilais.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Muhadjir Effendy menjawab tantangan itu dengan semangat perubahan ibarat bak gayung bersambut. Beliau Mewacanakan untuk membuat sebuah gebrakan dengan rencana menelurkan sebuah kebijakan melalui kurikulum sekolah berbasis full day, mantan rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berpendapat sistem bersekolah sepanjang hari banyak memberikan kesempatan kepada sekolah untuk menanamkan pendidikan karakter kepada peserta didik. menciptakan lingkungan sekolah yang lebih menggembirakan. Dan membentuk karakter agama yang kuat. Selain itu, program itu juga menghindari penyimpangan-penyimpangan yang terjadi di luar jam sekolah.
Wacana full day school nampaknya menjadi kurikulum pendidikan cocok di era saat ini dan patut kita dukung. Namun, program kebijakannya harus jelas dari formulasi hingga implementasinya. Poin pentingnya bisa memberikan sebuah kontribusi dalam membangun peradaban, membentuk masyarakat yang baik dan kompeten, melahirkan peserta didik yang berkarakter, menguasi ilmu agama dan IPTEK sebagai generasi berkarakter kuat. Sebenarnya, penyelenggraan “industri” pendidikan (sekolah) dengan sistem terpadu sudah berjalan optimal dalam kurun waktu beberapa tahun ini di Indonesia serta diminati masyarakat, di mana sistem terpadu ini membutuhkan tambahan waktu belajar, sehingga biasa dikenal sekarang ini dengan istilah sekolah model atau progam full day school, yakni sekolah sehari penuh. Terlepas dari semua kelebihan dan kekurangan sekolah program full day school sekarang ini, jelas terdapat nilai positif dan mampu memberikan sebuah kontribusi dalam mewujudkan tujuan pendidikan nasional, sehingga mampu melahirkan peserta didik yang memiliki ilmu pengetahuan (umum dan IPTEK), ilmu tsaqafah Islamiyah, dan memiliki kepribadian (karakter) Islami yang kuat.
Sistem pendidikan dan pelaksanaan full day school, merupakan salah satu bentuk manifestasi respon dunia pendidikan (akademik) terhadap pendidikan, sekaligus penerapan “industri” pendidikan itu sendiri. Lahirnya full day school di Indonesia tidak hanya berkiblat kepada latar belakang historis, akan tetapi ia berkembang sejalan dengan perkembangan budaya, sosial ekonomi dan pola pikir masyarakat yang berkembang seiring dengan perkembangan dan dinamisme zaman.
Dari sisi budaya, Indonesia telah mengalami asimilasi budaya, bahkan penetrasi budaya luar yang tidak hanya positif tetapi juga negatif jika tidak diimbangi dengan pengetahuan dan pendidikan yang baik. Sedangkan dari segi sosial ekonomi, secara ekonomi distribusi masyarakat yang berada di atas rata-rata ataupun di bawah rata-rata menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat perkotaan berada dalam kelas menengah ke atas, sedangkan masyarakat pedesaan mayoritas memiliki penghasilan ekonomi di bawah standar atau pada kelas menengah ke bawah. Kondisi inilah yang turut mendorong full day school dan pendidikan terpadu banyak berkembang di perkotaan. Mobilitas orang tua sebagai implikasi dari semangat meningkatkan taraf hidup, turut menjadi faktor penting, sementara mereka tidak punya cukup waktu untuk mendidik anaknya di rumah.
Dari segi pola pikir, masyarakat sudah banyak menganut pola pikir pragmatis dan praktis. Para orang tua berfikir bahwa dengan uang, kualitas pendidikan bisa di beli. Dengan uang, mereka tidak harus mencurahkan waktu, tenaga dan pikirannya sendiri untuk mendidik anak-anak mereka, karena di luar banyak tersedia lembaga-lembaga pendidikan yang siap menjawab kebutuhan masyarakat, mengambil alih tanggung jawab orang tua meskipun dengan biaya yang relatif tinggi.
Sebelum pelaksanaan kebijakan pendidikan dengan sistem sekolah full day benar-benar di implementasikan perlu dilakukan sebuah penyusunan kebijakan dan program yang matang sampai akhirnya diterapkan di seluruh pelosok tanah air. Selain itu, juga dibutuhkan sebuah pemikiran-pemikiran analitis dalam penyusunan rencana strategik yang membutuhkan kemampuan prediktif berdasarkan data dan fakta, sehingga kebutuhan-kebutuhan pelaksanaannya dapat terpenuhi pada saat ini dan masa yang akan datang. Namun kunci keberhasilan sekolah full day ini sebenarnya terletak pada kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM) dalam menjabarkan sebuah konsep-konsep ideal. Dengan kata lain, reliabilitas personal dan profesional para pengelola sekolah menjadi faktor dominan bagi tercapainya tujuan sekolah serta memberi kontribusi terbesar bagi peningkatan akses masyarakat, khususnya masyarakat kurang mampu. Harapan kedepannya bila selama ini full day school hanya di jangkau masyarakat dari kalangan atas dengan di masukkannya dalam kurikulum pendidikan nasional program full day school bisa dinikmati semua kalangan tanpa terkecuali.
- Mahasiswa Pasca Sarjana Magister Manajemen Pendidikan Islam (Universitas Muhammadiyah Sidoarjo)
- Pengajar di SD Muhammadiyah 1 Krian, Kab. Sidoarjo

