Indonesia Visioner
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • POLHUM
  • EKONOMI
  • VIDEO
  • ENTERTAINMENT
  • LUAR NEGERI
  • LIPUTAN DISKUSI
  • LIFESTYLE
  • RESENSI
  • SPORT
  • OPINI
  • INDEKS
No Result
View All Result
Indonesia Visioner
No Result
View All Result

Komunikasi Krisis Covid-19

by Visioner Indonesia
April 6, 2020
in Opini
Reading Time: 2min read
0
SHARES
14
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Pemerintah semula agak menyepelekan soal penyebaran virus corona yang begitu masif, sehingga tampak kewalahan dalam soal logistik pengadaan alat test, pelindung diri, dll. Pemerintah juga terlihat sering belepotan dalam masalah komunikasi kepada publik terkait krisis pandemi Covid-19 saat ini. Padahal, panik masyarakat pasti terjadi pada situasi krisis, sementara tidak ada kesamaan ucapan atau pernyataan yang disampaikan beberapa pejabat negara kepada masyarakat. Sepertinya, silang pendapat antara pejabat negara merupakan fenomena khas pemerintahan Jokowi.

Munculnya fenomena saling ralat adalah salah satu wujud lemahnya manajemen komunikasi pemerintah dalam penanganan krisis. Contohnya adalah antara Jubir Presiden dengan Mensesneg terkait boleh tidaknya masyarakat untuk mudik. Lalu juga ada silang pendapat antara LBP dan KSP soal pembebasan napi koruptor. Ini kontraproduktif dan patut disayangkan. Masyarakat yang sudah bingung dengan dampak krisis pandemi Covid-19 terhadap ekonomi keluarga, semakin tambah bingung di rumah melihat adanya komunikasi pejabat yang tidak sinkron satu sama lain. Ironis jika kegaduhan justru bersumber dari pemerintah sendiri.

Dalam kondisi sekarang ini, publik butuh kepastian dan ketegasan satu pintu suara dari pemerintah, misalnya soal mudik atau kebijakan pembebasan napi koruptor, dan lain-lain. Saat krisis, kebingungan publik lebih sering diperparah oleh misinformasi dan disinformasi berita negatif dari media sosial.

Sebenarnya pada saat terjadi krisis, komunikasi adalah aktivitas paling efektif dalam mencapai sebuah tujuan positif. Komunikasi krisis penting dilakukan oleh pemerintah dalam memberikan informasi yang valid. Berita hoaks akan bertebaran jika terjadi ‘lack of communication’ Dalam situasi normal pun berita bohong selalu ada, apalagi di saat krisis.

Ada dua hal penting. Pertama,
dalam situasi krisis yang wajib diperhatikan dan didahulukan adalah kepentingan publik, seperti kebutuhan warga negara (terutama pasien, tenaga medis beserta keluarganya). Bagaimana menghadapi situasi krisis dan melindungi orang-orang yang terkena dampak dari situasi krisis tersebut – sampai nanti keadaan kembali pulih adalah prioritas utama. Kedua, dasar dari   komunikasi krisis adalah merespon dengan cepat begitu krisis terjadi, dengan pernyataan dan pesan yang transparan. Pembentukan tim krisis melalui intruksi presiden (Inpres) merupakan salah satu opsi penting dalam strategi komunikasi ini. Tim krisis inilah yang paling berwenang mewakili komunikasi pemerintah jika ditemukan adanya simpang siur soal kebijakan presiden atau dualisme pendapat yang saling berbenturan satu sama lain dari pejabat negara. Tim ini sebaiknya dipimpin langsung oleh seorang Menteri dan menjadi pintu transparansi dan kebenaran antara pemerintah pusat dan daerah dengan warga negaranya. Prabowo Subianto atau Airlangga Hartarto sangat layak menjadi ketua timnya. Jika suatu krisis dapat ditangani dengan baik, maka citra pemerintah justru menjadi lebih positif. Begitu juga sebaliknya, reputasi pemerintah akan negatif, jika penanganan suatu krisis cenderung amburadul. Never let a good crisis go to waste, kata Winstons Churchill.

*Penulis adalah Igor Dirgantara D(Fisip Universitas Jayabaya)

Tags: #Igor Dirgantara#Komunikasi Krisis Covid-19
Previous Post

HMI Cabang Jeneponto Melakukan Gerakan Kemanusiaan dengan Membantu Masyarakat Mendapatkan Token Listrik Gratis

Next Post

Semprotkan Disinfektan, Polisi di Pamekasan Pakai Helm Berbentuk Corona

Related Posts

Pondasi Sistem Logistik Nasional: Refleksi Pengabdian dan Estetika Konstitusi
Opini

Pondasi Sistem Logistik Nasional: Refleksi Pengabdian dan Estetika Konstitusi

April 26, 2026
BGN Kaji Efesiensi Anggaran
Artikel

Audit Triliunan dan Rapuhnya Negara: Mengapa Kebocoran Fiskal Terus Berulang?

April 23, 2026
Mengapa Polri Butuh Lebih dari Sekadar Seremoni Hoegeng Awards?
Artikel

Mengapa Polri Butuh Lebih dari Sekadar Seremoni Hoegeng Awards?

April 6, 2026
Default

Menjaga Marwah Bhayangkara: Mengapa Independensi Polri Adalah Harga Mati

Januari 30, 2026
Opini

Menagih Janji di Balik Sepatu Bot Pramono: Mengapa Jakarta 2026 Masih Menjadi Kolam Raksasa?

Januari 24, 2026
Opini

Lumbung Pangan di Balik Jeruji: Saat Penjara Menyuplai Piring Rakyat

Januari 19, 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERKINI

“Bukan Hitungan Hari, Tapi Bobot Negeri” Dasco Ajak Debat Diplomasi Naik Kelas

LHK: Stabilitas Pemerintahan Kota Kendari Tetap Terjaga di Tengah Berbagai Isu

Polemik Pernyataan Wamentan soal Petani Happy, Publik Diminta Baca Utuh Konteksnya

Yeka Hendra Fatika Ombusdman jadi Tersangka Perintangan Penyidikan Korupsi

Airlangga Pastikan Tekanan Rupiah Terkendali, Beda 2004-2014

Masyarakat Sumatera Mulai Rasakan Percepatan Pemulihan, Dasco Terus Kawal Satgas

TERPOPULER

“Bukan Hitungan Hari, Tapi Bobot Negeri” Dasco Ajak Debat Diplomasi Naik Kelas

LHK: Stabilitas Pemerintahan Kota Kendari Tetap Terjaga di Tengah Berbagai Isu

Polemik Pernyataan Wamentan soal Petani Happy, Publik Diminta Baca Utuh Konteksnya

Yeka Hendra Fatika Ombusdman jadi Tersangka Perintangan Penyidikan Korupsi

Airlangga Pastikan Tekanan Rupiah Terkendali, Beda 2004-2014

Masyarakat Sumatera Mulai Rasakan Percepatan Pemulihan, Dasco Terus Kawal Satgas

  • About
  • Redaksi
  • Marketing & Advertising
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Email
  • Login
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • POLHUM
  • EKONOMI
  • VIDEO
  • ENTERTAINMENT
  • LUAR NEGERI
  • LIPUTAN DISKUSI
  • LIFESTYLE
  • RESENSI
  • SPORT
  • OPINI
  • INDEKS

Indonesia Visioner - All Rights Reserved