
Jakarta – Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PBHMI) melalui Wasekjen Bidang Energi, Abdillah, menyampaikan apresiasi atas pencapaian PT PLN (Persero) yang meraih penghargaan sebagai Penggerak Ekonomi Kerakyatan dalam Transisi Energi pada ajang detikcom Awards 2024. Penghargaan ini diberikan kepada PLN atas komitmennya dalam menjalankan transisi energi berkelanjutan dengan melibatkan masyarakat secara aktif melalui program substitusi batu bara dengan biomassa di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).
Abdillah menegaskan bahwa langkah PLN dalam mengintegrasikan biomassa dengan sektor pertanian dan melibatkan masyarakat adalah contoh nyata dari bagaimana transisi energi dapat memberikan dampak positif secara ekonomi dan lingkungan. “Program co-firing yang dilakukan PLN tidak hanya menekan emisi karbon tetapi juga memberikan nilai ekonomi yang signifikan bagi masyarakat. Ini adalah contoh bagaimana transisi energi dapat diimplementasikan dengan prinsip keberlanjutan yang melibatkan masyarakat secara langsung,” ujar Abdillah, Jumat (18/10/2024)
Hingga triwulan ketiga tahun 2024, 46 PLTU di Indonesia telah menerapkan teknologi co-firing dengan menggunakan total biomassa sebesar 3 juta ton, yang mampu menekan emisi karbon sebesar 3,2 juta ton CO2e. Program ini juga berhasil menghasilkan listrik sebesar 3,1 terawatt hour (TWh), sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat melalui pengembangan ekosistem biomassa berbasis ekonomi kerakyatan.
Salah satu pencapaian penting dari program ini adalah Pengembangan Ekosistem Biomassa Berbasis Ekonomi Kerakyatan yang dilakukan di Tasikmalaya, Jawa Barat, dengan memanfaatkan lahan kritis seluas 100 hektar untuk menanam tanaman energi seperti indigofera. Program ini juga terintegrasi dengan sektor peternakan, di mana PLN menyerahkan 205 ekor domba untuk dibudidayakan, sehingga masyarakat dapat menikmati manfaat ekonomi ganda.
“PLN telah melibatkan 250.000 petani dan masyarakat dalam program co-firing ini, dengan skala bisnis mencapai Rp 2,3 triliun per tahun. Ini tidak hanya mendukung keberlanjutan lingkungan melalui pengurangan emisi, tetapi juga membuka lapangan pekerjaan dan meningkatkan pendapatan masyarakat,” tambah Abdillah.
Menurut Abdillah, program co-firing biomassa yang dijalankan oleh PLN adalah langkah inovatif yang harus menjadi contoh bagi perusahaan lain di sektor energi. “Pemanfaatan biomassa seperti tanaman kaliandra merah, gamal, sekam padi, dan limbah agroforestri tidak hanya membantu transisi energi ke sumber yang lebih ramah lingkungan, tetapi juga memperkuat ekonomi lokal. Ini adalah model transisi energi yang memberdayakan masyarakat,” jelasnya.
Ke depan, PLN menargetkan perluasan program ini pada 52 PLTU dengan kebutuhan biomassa yang diproyeksikan mencapai 10 juta ton per tahun pada 2025. Program ini diharapkan mampu menurunkan emisi karbon hingga 11 juta ton CO2e per tahun dan melibatkan lebih dari 1,25 juta orang, dengan nilai ekonomi mencapai Rp 9,43 triliun per tahun.
Abdillah menutup pernyataannya dengan harapan agar PLN terus meningkatkan skala program ini dan menjadikannya sebagai pilar utama dalam transisi energi Indonesia yang inklusif dan berkelanjutan. “Kami berharap PLN terus memperluas implementasi program co-firing ini dan terus melibatkan lebih banyak masyarakat dalam proses transisi energi. Ini adalah bukti bahwa energi hijau tidak hanya tentang teknologi, tetapi juga tentang bagaimana kita melibatkan masyarakat dalam proses perubahan menuju masa depan yang lebih baik,” tutup Farid.
Dengan dukungan dari PBHMI, PLN diharapkan dapat terus menjadi pionir dalam pengembangan energi yang ramah lingkungan sekaligus menjadi penggerak ekonomi masyarakat melalui inovasi di sektor energi terbarukan.





