
Jakarta, – Menyambut Hari Bhayangkara ke-79, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo memulai rangkaian penghormatan dengan ziarah ke makam Presiden ketiga BJ Habibie di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Kunjungan ini menegaskan pengakuan atas peran Habibie sebagai pelopor teknologi dan reformasi politik pasca-Orde Baru.
Di pusara Habibie, Kapolri menabur bunga dan mengheningkan cipta, mengenang visi kebangkitan industri dirgantara dan iklim keterbukaan yang diperluas di era Reformasi. Ia menyatakan bahwa semangat inovasi dan integritas harus menjadi rujukan program modernisasi Polri, terutama dalam pengembangan sistem digital Presisi.
Setelah itu, Kapolri melanjutkan ziarah ke makam Jenderal Hoegeng Imam Santoso di TPU Tanah Kusir. Hoegeng dikenal luas dengan moto “Tak Pandang Bulu” dalam penegakan hukum, menegakkan keadilan tanpa kompromi. Kunjungan ini dimaknai sebagai pengingat bagi seluruh jajaran agar meneruskan legacy kejujuran dan ketegasan di tengah tantangan modern.
Nilai integritas yang diwariskan kedua tokoh itu menjadi dasar bagi Polri untuk mengokohkan reformasi institusi. Di tengah upaya penegakan hukum siber, penanganan premanisme, dan dukungan operasi ketahanan pangan, jejak Habibie dan Hoegeng menawarkan pijakan moral bagi langkah-langkah strategis.
“Ziarah Kapolri menunjukkan komitmen menghormati warisan integritas dan pelayanan,” ujar Ketua Jaringan Aktivis Nusantara, Romadhon Jasn di Jakarta, Senin (23/6/2025)
Selain upacara sederhana, peringatan ke-79 juga akan dirangkaikan dengan peluncuran pusat pelaporan etika internal Polri. Fasilitas ini bertujuan menguatkan transparansi dan akuntabilitas anggota dengan kanal pengaduan terbuka serta mekanisme tindak lanjut yang tegas.
Reaksi publik positif. Tokoh masyarakat dan sejumlah veteran kepolisian menyambut baik aksi peneladanan ini. Mereka menilai, menghormati pusara pendahulu bukan sekadar ritual, tetapi momentum introspeksi kualitas kepemimpinan dan pelayanan.
Warga sipil pun berharap Polri terus menanamkan nilai-nilai keteladanan dalam setiap kebijakan. Dari penanganan kejahatan siber hingga patroli wilayah, semangat “Presisi” (Prediktif, Responsibilitas, Transparansi Berkeadilan) diharapkan senantiasa diwarnai etos inovasi Habibie dan keberanian Hoegeng.
Memasuki usia ke-79, Polri diharapkan tidak hanya menjaga keamanan, tetapi juga menghargai warisan reformasi dan integritas. Dengan meneladani jejak Habibie dan Hoegeng, institusi ini diharapkan semakin profesional, modern, dan dicintai masyarakat luas.





