
Jakarta, 9 Juli 2025 — Kaukus Muda Indonesia (KMI) menyambut baik kehadiran Danantara, badan pengelola investasi megaholding BUMN, dan menilai kehadirannya sebagai momentum strategis bagi percepatan transformasi ekonomi nasional. Berdasarkan data, Danantara kini menaungi 844 BUMN sejak 21 Maret 2025, dengan aset terkelola mencapai sekitar US\$ 900 miliar (±Rp14.700 triliun).
KMI mengapresiasi dukungan dari tokoh-tokoh global seperti Ray Dalio, Jeffrey Sachs, serta mantan Presiden Jokowi dan SBY dalam dewan penasihat Danantara. Menurut Ketua KMI Edi Homaidi, kehadiran pakar internasional ini memberikan sinyal positif untuk tata kelola yang profesional, berorientasi pasar, dan transparan—nilai-nilai krusial agar Danantara mampu menjalankan misi seperti Temasek atau Khazanah secara efektif.
Dalam kacamata ekonomi global dan nasional, reformasi Danantara dinilai berpotensi mendorong efisiensi tata kelola aset negara, meningkatkan kepercayaan investor, dan mempercepat pembangunan infrastruktur di sektor teknologi, energi terbarukan, dan pangan strategis. Meski ada kekhawatiran terhadap potensi politisasi dan tekanan fiskal awal, KMI menekankan pentingnya menjaga independensi, akuntabilitas, dan kepatuhan terhadap regulasi internasional untuk menyasar target pertumbuhan 8 % hingga 2029.
“Danantara adalah peluang besar jika dijalankan secara profesional dan terbuka. Ini bukan soal aset berpindah tangan, melainkan soal reformasi struktural yang menghasilkan nilai riil bagi masyarakat. KMI menekankan, sukses Danantara tak hanya diukur dari aliran modal, tapi juga dari dampaknya terhadap ekonomi kerakyatan,” ujar Edi Homaidi.
KMI mengimbau Danantara dan pemangku kebijakan terkait untuk melakukan evaluasi berkala dengan melibatkan akademisi, pengawas independen, serta publik—agar setiap langkah investasi dan konsolidasi aset benar-benar menjawab tantangan ekonomi jangka panjang, bukan sekadar hitungan jangka pendek.





