
Jakarta – Presiden ke-4 Abdurrahman Wahid atau Gus Dur akhirnya mendapatkan gelar Pahlawan Nasional usai pengajuan namanya berulang kali pupus pada era-era sebelumnya. Presiden Prabowo Subianto secara simbolis memberikan gelar tersebut kepada ahli waris Gus Dur yang hadir yaitu istrinya, Sinta Nuriyah; dan puterinya, Yenny Wahid.
Selama ini, upaya mengajukan Gus Dur menjadi pahlawan nasional terkendala keberadaan Ketetapan MPR atau Tap MPR nomor II/MPR/2001. Isi ketetapan tersebut adalah pemakzulan terhadap Presiden Gus Dur yang dianggap melakukan sejumlah pelanggaran konstitusi yang berat. Beban ini dihapuskan usai MPR menghapus keberadaan Tap MPR tersebut pada 2024 — jelang suksesi Presiden ke-7 Joko Widodo ke Prabowo.
Dalam keterangan resmi, pemerintah sendiri mengangkat Gus Dur sebagai pahlawan nasional bukan lantaran kisah kepemimpinannya sebagai presiden pada 20 Oktober 1999-23 Juli 2001. Pemerintah mengklaim Gus Dur berperan penting bagi negara di bidang perjuangan politik dan pendidikan Islam. Selain itu, Gus Dur juga dianggap tokoh sentral dalam perjuangan kemanusiaan, demokrasi, dan pluralisme di Indonesia.
Abdurrahman Wahid atau lebih terkenal dengan sebutan “Gus Dur” lahir di Jombang, 7 September 1940. Gus Dur adalah putra dari KH Wahid Hasyim dan Hj. Sholichah. Dia juga merupakan cucu dari KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama.
Gus Dur menjabat sebagai Presiden ke-4 di Indonesia pada 20 Oktober 1999, menggantikan Presiden ke-3 B.J. Habibie. Dia terpilih melalui pemilihan umum pada 1999. Kala itu, dia unggul dari Megawati Soekarnoputri, yang kemudian bakal menggantikannya sebagai Presiden ke-5 Indonesia.
Gus Dur dikenal sebagai “Bapak Pluralisme” pada masa pemerintahannya karena menjunjung tinggi keberagaman dalam berbagai hal, terutama suku, agama, dan ras. Gus Dur mampu mendobrak diskriminasi warga etnis Tionghoa di Indonesia dengan mencabut Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat China. Beleid itu mulanya diteken oleh Soeharto untuk melarang perayaan Imlek dengan terbuka di tempat umum.
Di era Gus Dur, pertumbuhan ekonomi mampu tumbuh hingga ke 4,9% pada 2000. Gus Dur juga berhasil menurunkan rasio gini atau ketimpangan ekonomi hingga 0,31 –terendah dalam 50 tahun terakhir.
Setelah serangkaian keputusan kontroversialnya, yang meliputi hubungan baiknya dengan Israel yang ditentang oleh banyak kalangan Muslim, sampai maklumat kontroversialnya yang ditujukan untuk membekukan parlemen; Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) akhirnya melakukan pemakzulan terhadap Gus Dur pada 23 Juli 2001.
Gus Dur meninggal dunia pada 30 Desember 2009 di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta. Ia wafat di usia 69 tahun, dan dimakamkan di Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur.





