
TAPANULI TENGAH – Suasana hangat terlihat di lokasi pengungsian di Tapanuli Tengah, Senin (16/2/2026). Kehadiran Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo bersama Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Hariyadi, menjadi simbol kuat kehadiran negara di tengah masyarakat terdampak bencana. Kunjungan tersebut tidak hanya bersifat seremonial, tetapi diikuti dengan penyaluran bantuan nyata bagi para pengungsi.
Sebanyak 22 kontainer bantuan gizi dan logistik disalurkan untuk memenuhi kebutuhan dasar warga. Bantuan ini mencakup bahan pangan, susu, hingga perlengkapan anak-anak. Bagi masyarakat, langkah tersebut menjadi bukti bahwa Polri tidak hanya hadir sebagai penjaga keamanan, tetapi juga sebagai penggerak solidaritas sosial di saat krisis.
Ketua Jaringan Aktivis Nusantara, Romadhon Jasn, mengapresiasi langkah cepat tersebut. Menurutnya, pengawalan distribusi bantuan hingga ke daerah terpencil menunjukkan wajah humanis kepolisian yang semakin kuat. Ia menilai kehadiran Polri di tengah pengungsi memberikan rasa aman sekaligus harapan baru bagi warga.
Dalam kesempatan itu, Kapolri menegaskan bahwa perhatian terhadap kondisi pengungsi menjadi prioritas utama. Peninjauan hunian sementara dilakukan untuk memastikan kelayakan tempat tinggal, terutama bagi anak-anak dan lansia. Ia menekankan pentingnya menjaga kesehatan, gizi, dan semangat belajar anak-anak meski berada dalam situasi darurat.
Respons positif juga datang dari masyarakat. Pendekatan yang humanis dinilai mampu memperkuat hubungan emosional antara aparat dan warga. Romadhon menilai kedekatan ini menjadi modal sosial penting dalam membangun kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian.
Sinergi dengan DPR RI turut memperkuat efektivitas penanganan di lapangan. Kolaborasi antara lembaga negara dan aparat keamanan memastikan bantuan tersalurkan secara merata dan tepat sasaran. Paket sekolah, bahan pokok, serta kebutuhan gizi dibagikan tanpa prosedur berbelit, sehingga langsung dirasakan manfaatnya oleh warga.
Bagi jajaran Polri di daerah, kegiatan ini menjadi motivasi untuk terus hadir di tengah masyarakat. Peran sebagai pengayom tidak lagi sebatas penegakan hukum, tetapi juga menyentuh aspek kemanusiaan. Citra positif ini semakin memperkuat posisi Polri sebagai mitra masyarakat dalam menghadapi situasi darurat.
Sebagai penutup, aksi kemanusiaan di Tapanuli Tengah mencerminkan komitmen negara dalam melindungi warganya. Keberhasilan Polri dan DPR RI dalam menjaga kebutuhan dasar pengungsi menunjukkan bahwa pelayanan publik yang empatik mampu memulihkan martabat masyarakat terdampak. Di tengah bencana, kehadiran negara yang peduli menjadi fondasi utama untuk membangun kembali harapan.





