Jakarta, 15 Agustus 2026 – Fenomena pengobatan alternatif yang viral di media sosial kembali mencuat, memicu perdebatan antara klaim kesembuhan dan keamanan medis. Dari terapi totok daun sirih hingga klaim obat cacing untuk kanker, pertanyaan yang muncul: apakah ini terapi aman atau sekadar konten viral tanpa dasar ilmiah?
Kasus Totok Daun Sirih: Bayi Menangis dan Polemik
Video yang memperlihatkan praktisi Ferizka Utami melakukan terapi totok daun sirih pada bayi yang menangis histeris viral di TikTok dan Instagram. Ferizka, pemilik Rumah Sirih Palembang yang telah beroperasi sejak 2012 dan membuka cabang di Jakarta pada 2022, mengklaim memiliki kemampuan “melihat” penyakit sejak kecil.
Video tersebut memicu pro-kontra. Sebagian warganet membela metode tradisional yang dianggap lazim, namun kalangan medis justru menyoroti aspek keamanan, terutama karena pasien adalah bayi. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyatakan tindakan tersebut perlu ditinjau dari aspek medis dan perlindungan anak, bahkan berencana melaporkannya ke KPAI. Dinas Kesehatan Palembang kini melakukan kajian mendalam terkait standar keamanan metode tersebut.
Klaim Obat Murah Sembuhkan Kanker: Antara Harapan dan Hoaks
Narasi serupa juga terjadi dalam kasus klaim obat cacing seperti Ivermectin dan Fenbendazole yang disebut dapat menyembuhkan kanker. Klaim ini semakin ramai setelah dibahas dalam percakapan Mel Gibson dan Joe Rogan, dan beredar di media sosial X pada Maret 2026.
Namun, pakar kesehatan menegaskan bahwa hingga kini belum ada bukti ilmiah kuat dari uji klinis berskala besar yang menyatakan obat-obatan tersebut aman dan efektif untuk pengobatan kanker. WHO dan FDA juga belum mengesahkan penggunaannya untuk terapi kanker. Prof. Tjandra Yoga Aditama, mantan Direktur WHO SEARO, mengingatkan bahwa ilmu kedokteran harus berpegang pada evidence-based medicine melalui uji klinik yang validasi, bukan hanya klaim di media sosial.
Viralitas vs Keamanan: Tantangan Literasi Kesehatan
Fenomena ini menjadi tantangan literasi kesehatan di Indonesia. Narasi “obat murah yang ditutup-tutupi” sering kali viral di tengah tingginya biaya pengobatan, tetapi konsultasi dengan tenaga medis profesional tetap menjadi langkah utama sebelum memilih terapi.






