Jakarta, 30 Agustus 2026 – Pemerintah terus memperkuat strategi penurunan stunting dengan mengoptimalkan program 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengungkapkan empat target intervensi kunci yang menjadi fokus pemerintah dalam menekan angka stunting dan menurunkan angka kematian ibu dan bayi di Indonesia.
“Guna menekan angka stunting serta menurunkan angka kematian ibu dan bayi di Indonesia, pemerintah menetapkan empat intervensi kunci dalam Program 1.000 HPK,” ujar Dante dalam keterangan di Jakarta, Minggu (30/8/2026).
Empat Target Intervensi Kunci
Berikut empat fase yang menjadi sasaran utama program 1.000 HPK:
- Fase Sebelum Kehamilan
Intervensi dimulai sejak masa prakehamilan dengan menyasar kesehatan remaja putri serta skrining calon pengantin dan pasangan usia subur. Tujuannya memastikan kesiapan fisik dan gizi yang baik sebelum memasuki masa kehamilan . - Masa Kehamilan, Persalinan, dan Bayi Baru Lahir
Pemerintah mendorong pemeriksaan kehamilan rutin termasuk USG, serta memastikan proses persalinan berlangsung di fasilitas kesehatan yang aman. Intervensi gizi dan pemantauan kesehatan ibu hamil menjadi prioritas utama . - Periode Anak di Bawah Dua Tahun (Baduta)
Fase ini mencakup pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama, pemenuhan kebutuhan gizi seimbang, imunisasi lengkap, serta pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak secara berkala di posyandu dan puskesmas . - Penguatan Layanan Kesehatan
Pemerintah memastikan puskesmas dan rumah sakit memiliki fasilitas serta dukungan pembiayaan yang memadai untuk memberikan pelayanan kesehatan ibu dan anak secara menyeluruh dan berkelanjutan
Keterlibatan Ayah dalam 1.000 HPK
Dante menekankan bahwa keberhasilan program 1.000 HPK tidak hanya mengandalkan layanan kesehatan. Dukungan keluarga, termasuk keterlibatan ayah, menjadi bagian penting dalam memastikan kebutuhan kesehatan dan gizi anak terpenuhi.
Kementerian Kesehatan mendorong Fatherhood Movement atau Gerakan Keayahan agar ayah lebih aktif terlibat dalam pemenuhan kesehatan anak. “Perkembangan otak terjadi paling besar di usia 0 sampai 2 tahun. Oleh karena itu, investasi early years ini sangat penting. Kita juga menginisiasi gerakan Fatherhood Movement agar ayah terlibat aktif dalam pemenuhan kesehatan anak,” ujar Dante
Target Nasional dan Komitmen Pemerintah
Dalam Peta Jalan Pembangunan Kependudukan 2025-2029, pemerintah menargetkan prevalensi stunting dapat ditekan hingga di bawah 10 persen secara nasional, bahkan menuju di bawah 5 persen pada tahun 2045 . Sekretaris Kemendukbangga/Sestama BKKBN, Prof. Budi Setiyono, menegaskan bahwa stunting berdampak serius terhadap perkembangan kognitif dan psikomotorik anak, termasuk kapasitas IQ.
“Dengan intervensi sejak sebelum kehamilan hingga anak berusia dua tahun, pemerintah berharap upaya pencegahan stunting dan peningkatan kualitas kesehatan anak dapat dilakukan secara lebih menyeluruh, dengan keluarga sebagai fondasi utama,” pungkas Dante .






