Bencana gelombang panas di India telah menelah korban jiwa hingga lebih dari dua ribu orang. Tapi hingga saat ini, meski masih sama-sama di benua Asia, Indonesia menurut Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) aman dari bencana gelombang panas tersebut.
Prof Thomas Djamaluddin, Kepala Lapan menjelaskan, gelombang panas yang menjadi bencana alam di Indonesia tidak akan mempengaruhi Indonesia. Ia mengatakan, Indonesia masih aman dari ancaman bencana itu. “Indonesia masih aman, gelombang panas tersebut tidak akan mengarah ke Indonesia, karena dinamika atmosfer di sana dan di sini sudah berbeda,” kata Thomas, Senin (1/6).
Lembaga yang dipimpinnya itu akan terus memantau pergerakan cuaca dan peningkatan suhu di dalam negeri melalui pengamatan satelit jarak jauh. Ibarat pribahasa ‘sedia payung sebelum hujan,’ Lapan juga terus mengevaluasi data-data bencana sehingga bisa menentukan langkah-langkah antisipatif sebelum terjadi.
Bencana Gelombang Panas India
Gelombang panas di India disebabkan oleh angin kontinental kering yang bertiup dari Iran dan Afghanistan. Bencana ini akan berakhir bila musim hujan tiba di negara itu. Hingga saat ini telah lebih dari 2.200 warga India yang tewas, sebagian besar karena dehidrasi akibat suhu panas kering. Suhu tertinggi selama bencana gelombang panas itu mencapai angka 47 derajat celcius. “Blocking udara panas inilah yang menewaskan banyak korban jiwa,” kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Edvin Aldrian.
Sebelumnya pada Minggu (31/5) kemarin, hujan sempat mengguyur India meski hanya sebentar. Suhu di lokasi sempat turun sekitar tiga derajat ke angka 43 derajat celcius. Para pakar cuaca di negara itu memperkirakan cuaca akibat gelombang panas ini akan berlangsung lebih lama dari biasanya.


