Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) menjelaskan Inflansi Selama Ramadhan saat ini masih di kisaran angka 7 belum mencapai dua digit. Pasalnya, para pengusaha ritel adalah pihak yang paling berperan selama Ramadan dan Lebaran.
“Inflasi itu bisa terjadi karena ketidakstabilan harga sehingga orang akhirnya bisa menahan pembelian karena barangnya enggak ada. Banyak faktor yang membuat harga bisa meningkat. Pada saat Ramadan dan Lebaran kami disebut stabilisator inflasi,” kata Ketua Umum Aprindo Roy Nicolas Mandey, Sabtu (4/7/2015).
Penyebabnya, para pengusaha ritel telah menambah stok barang tiga sampai enam bulan sebelumnya di toko. Sehingga, ketersediaan barang dipastikan dapat membuat konsumen tenang dan tidak terjadi Inflansi Selama Ramadhan.
“Barang pasti ada, harga bisa stabil dan tentunya tidak dipermainkan situasi pasar atau market. Tidak terjadi peningkatan inflasi. Barang langka, atau ada oknum, kartel yang selalu ambil kesempatan di musim ini dongkrak inflasi,” jelasnya.
Aprindo mengatakan, pemerintah harus cermat dalam hal melakukan operasi pasar. Menurutnya, walau Inflansi Selama Ramadhan aman namun aturan yang diterbitkan juga harus dibarengi dengan pengawasan.
“Kami sambut baik bila pemerintah buat BPN, Badan Pangan Nasional. Sehingga situasi seperti ini harga tak menentu harus ada yang atur dan mengawasinya dalam satu badan,” ungkapnya.
Menkeu Klaim
Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengklaim berhasil menahan laju Inflansi Selama Ramadhan, hal tersebut mengacu pada hasil Data Badan Pusat Statistik (BPS) untuk Juni menunjukan Inflasi sebesar 0,54 persen.
Pasalnya jika dibandingkan dengan data inflasi tersebut lebih rendah dibandingkan pada Juni tahun sebelumnya sebesar 1,03 persen.disebabkan karena pemerintah Indonesia telah mampu mengendalikan harga. Hal tersebut dianggapnya karena pemerintah berhasil mengendalikan lonjakan harga-harga komoditas.
“Ini harga berhasil dikendalikan makannya inflasi kita lebih rendah dari tahun lalu. Puasa dan lebaran kondisinya beda. Kami bisa kendalikan inflasi lebih baik dibanding ramadhan sebelumnya,” kata Bambang di Gedung Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta, Kamis (2/7/2015)
Ditambahkan oleh Bambang, bahwa inflasi tersebut berbeda dengan inflasi inti pertahun. Pasalnya inflasi inti yang ada bukan dipengaruhi dari daya beli masyarakat yang melemah. Terlebih saat ini kebijakan subsidi BBM telah berubah.






