Jakarta – Setiap pagi dilaporkan di wilayah selatan Pulau Bali, arus kendaraan wisatawan, pekerja, dan pelajar kerap bertemu di jalan utama yang sama. Kondisi ini membuat sejumlah titik mengalami kepadatan yang cukup rutin terjadi dalam beberapa waktu terakhir.
Penasehat Dewan Pimpinan Daerah Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) Provinsi Bali, Ketut Ardana mengatakan, situasi tersebut sudah menjadi bagian dari aktivitas harian di kawasan wisata. “Kemacetan paling terasa pada pagi hari sekitar pukul 06.30 hingga 10.00 WITA.” ucapnya dalam keterangan tertulis saat dihubungi RRI.CO.ID, Sabtu, 11 April 2026.
Pada rentang waktu itu, lanjut Ardana, mobilitas masyarakat meningkat bersamaan, mencakup anak sekolah, pekerja, hingga wisatawan yang mulai beraktivitas. Situasi tersebut kerap membuat perjalanan di Bali Selatan menjadi lebih padat dari biasanya.
Menurutnya, kondisi ini berdampak pada kenyamanan wisatawan, terutama mereka yang memiliki waktu tinggal singkat atau length of stay pendek. Waktu yang seharusnya digunakan untuk menikmati destinasi justru banyak tersita di perjalanan.
“Wisatawan kalau macet dan macet lagi pasti merasa tidak nyaman. Apalagi wisatawan yang length of stay-nya pendek, mereka akan merasa waktunya hilang karena macet,” ujarnya.
Di tengah kondisi tersebut, Ardana menyambut baik, konsep water taxi (transportasi air) sebagai alternatif transportasi di Bali. Moda ini dinilai berpotensi menjadi pilihan baru untuk rute-rute tertentu di kawasan Bali Selatan.
Ia menyebut jalur seperti Bandara – Canggu, Bandara – Sanur, hingga Candidasa menjadi rute yang memungkinkan untuk pengembangan layanan tersebut. Rute itu dinilai kerap terpengaruh kepadatan lalu lintas darat.
“Water taxi adalah ide bagus sebagai transportasi alternatif di Bali Selatan. Khususnya rute airport – Canggu atau airport – Sanur hingga Candidasa,” ucap Ardana.
Diyakini, untuk perjalanan wisata keliling atau touring, moda darat tetap menjadi pilihan utama. Namun water taxi dinilai lebih efektif untuk perpindahan antarwilayah yang membutuhkan waktu lebih lama jika melalui jalan darat.
“Kalau untuk touring memang sudah pasti transportasi darat. Water taxi dibutuhkan untuk transfer dari satu tempat ke tempat lainnya, karena jika ditempuh lewat darat memakan waktu sangat lama,” ucapnya.
Meski demikian, Ardana menekankan, faktor biaya tetap menjadi pertimbangan agar konsep tersebut dapat diterima wisatawan. Jika terjangkau, water taxi dinilai berpotensi menjadi alternatif mobilitas baru di Bali.
“Biaya atau cost, asal tidak terlalu mahal. Pasti akan menjadi pilihan juga,” ujarnya.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyatakan, pengembangan water taxi menjadi strategi memperkuat konektivitas transportasi terintegrasi di Bali. “Water taxi merupakan solusi alternatif mengintegrasikan transportasi darat laut dan udara guna mengurangi kepadatan lalu lintas kawasan wisata,” ujarnya, dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR RI, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu, 8 April 2026, lalu.
Selain efisiensi waktu moda ini juga dinilai lebih ramah lingkungan karena mampu mengurangi kepadatan kendaraan di jalan raya. Pengurangan beban lalu lintas darat diharapkan berdampak langsung terhadap kualitas lingkungan serta kenyamanan wisatawan selama berkunjung ke Bali.
Namun, lanjut Dudy, implementasi water taxi memerlukan pembangunan pelabuhan dengan penahan gelombang atau breakwater di beberapa titik strategis. “Pembangunan fasilitas penahan gelombang diperlukan untuk menjamin keselamatan operasional pada perairan dengan kondisi yang cukup dinamis,” ucapnya..






